17 Agustus, Arkeolog Temukan Tempat Semedi Prasejarah Umur 2000 SM di Jabar

HINDUALUKTA-- Arkeolog UI, Ali Akbar menemukan tempat semedi Prasejarah di situs Batu Naga Kuningan, Jawa Barat 17 Agustus 2016. Situs Batu Naga ini terletak di puncak Gunung Pojok Tilu, Jabranti, Karangkancana. 

Situs batu naga ini dikenal karena relief naga yang ditemukan di batu tegak atau menhir. Menurut keterangan dari hasil uji laboratorium di BATAN, ditempat tersebut terdapat tempat bersemedi prasejarah.

"Situs ini dikenal karena terdapat relief naga yang dipahatkan pada batu tegak atau menhir prasejarah. Hasil uji laboratorium di BATAN terhadap sampel temuan di Situs Batu Naga menunjukkan usia minimal 2000 Sebelum Masehi," ujar Ali, Kamis, 18 agustus 2016.

"Mengingat situs tergolong besar dan masih tertutup hutan belukar, maka survei dilakukan berkali-kali secara berkala. Survei kali ini dilakukan oleh 45 orang yang bertepatan tanggal 17 Agustus juga melakukan Upacara Bendera di Situs Batu Naga," Sambung dia seperti dilansir detik. com.

Temuan kali ini, kata dia, adalah struktur batu seperti berbentuk kolam yang disusun sedemikian rupa sehingga berbentuk segi empat. Material penyusunnya adalah batu-batu pipih yang ditumpuk seperti cara menyusun bata. 

Temuan ini sudah diteliti pada survei sebelumnya, namun belum dibuka sepenuhnya karena tertimbun tanah cukup tebal dan ditumbuhi pepohonan lebat.


"Tinggi struktur batu 1,1 meter di atas permukaan tanah. Tebalnya 0,7 meter. Ukuran bagian dalam simetris yakni 2,5 meter untuk setiap sisinya. Tinggi bagian dalam adalah 0,7 meter dan terdapat lantai yang terbuat dari susunan batu-batu pipih. Pada sisi utara terdapat semacam celah selebar 0,5 meter yang diduga sebagai tempat keluar masuk orang sekaligus untuk mengeluarkan air jika air hujan masuk ke dalam struktur tersebut. Patut diduga pada masa lalu terdapat tiang di keempat sudut dan terdapat atap yang terbuat dari material yang mudah lapuk seperti kayu atau bambu," urai dia.

"Melihat konteks Situs Batu Naga yang merupakan situs peribadatan, diduga struktur tersebut digunakan oleh tokoh religi untuk berdoa atau bersemedi untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa," terang dia lagi.


Selain itu juga, ditemukan juga satu batu Kekar Tiang (Columnar Joint) setinggi 0,7 meter menancap di atas tanah. Berdasarkan wawancara dengan penduduk setempat, ternyata terdapat potensi emas di Karangkancana, meskipun pada masa kini tidak bernilai ekonomis jika ditambang. 

"Karang dalam bahasa setempat artinya pekarangan atau dapat juga berarti batu, sementara Kancana berarti emas," tutup dia. 

Subscribe to receive free email updates: