Buddha Awatara (Awatara Kesembilan)

HINDUALUKTA-- Awatara Wisnu yang kesembilan dalam daftar Dasa Awatara adalah seorang yang disebut Buddha. Kata “Buddha” ini kemudian merujuk kepada seorang bekas pangeran Kapilawastu bernama Siddharta Gautama yang kemudian dikenal luas karena mendirikan Buddhisme. Awatara satu ini memicu banyak ‘kontroversi’, baik saat beliau masih hidup maupun saat beliau sudah mangkat. Buddha Awatara juga awatara Wisnu yang berusia paling pendek di antara awatara lainnya (hanya 80 tahun).

Dalam pembahasan ini akan menggunakan riwayat 'gabungan' baik dari sudut pandang Buddhisme maupun Hinduisme. Di Buddhisme, Buddha pada awalnya hanya manusia biasa yang kemudian mencapai pencerahan. Dewa-dewa ada, tapi mereka benar-benar entitas yang terpisah dengan para Buddha. Sementara di Hinduisme, Buddha adalah awatara Wisnu.

Pembahasan tentang Buddha ini mungkin agak sedikit ‘kontroversial’ jadi jika ada yang tidak terlalu suka dengan topik bahasan ini, silakan melewatinya saja.

Awatara Kesembilan
KELAHIRAN

Siddharta adalah putra Ratu Maha Maya dan Raja Suddhodana dari Kerajaan Kapilawastu. Saat mengandung Siddharta, Ratu Maya sudah berusia 45 tahun dan selama masa kehamilannya, sang ratu sempat bermimpi dirinya ditemui seekor gajah putih yang kemudian merasuk ke dalam rahimnya. Para brahmana kemudian dipanggil untuk mengartikan mimpi itu dan mereka berpendapat bahwa bayi yang dikandung sang ratu kelak akan menjadi seorang Cakkavatti (Raja dari semua Raja) atau seorang Buddha (yang tercerahkan).

Ketika usia kandungannya sudah mencukupi (konon Ratu Maya mengandung Siddharta selama 10 bulan), Ratu Maya pulang ke rumah orangtuanya di Devadaha – sebagaimana tradisi pada masa itu lebih menyukai seorang calon ibu melahirkan di rumah orangtuanya. Di tengah jalan mereka beristirahat di Taman Lumbini (sekarang Rumminde di Pejwar, Nepal) dan saat itu Ratu Maya turun dari tandu dan berjalan-jalan di sekitar taman.

Tiba-tiba perut sang ratu berkontraksi dan para dayang segera membuat tirai di sekeliling sang ratu kemudian lahirlah Siddharta. Konon Siddharta lahir saat sang ratu dalam posisi berdiri, bisa langsung berjalan dan berbicara.

Dan konon pula, bersamaan dengan kelahiran Siddharta, juga lahir pula :

• Yasodhara, yang kelak menjadi istri Siddharta,
• Ananda [Anak dari Amitodana, saudara termuda Raja Suddhodana], yang kelak menjadi pembantu tetap Sang Buddha selama 25 tahun,
• Kanthaka, yang kelak menjadi kuda Pangeran Siddhattha,
• Channa, yang kelak menjadi kusir Pangeran Siddhattha,
• Kaludayi, yang kelak mengundang Sang Buddha untuk berkunjung kembali ke Kapilawastu,
• Pohon Bodhi, yang kelak akan menjadi tempat bagi Pangeran Siddhattha untuk mendapatkan Penerangan Agung,
Ratu Maya sendiri wafat tujuh hari setelah persalinannya.

MASA KECIL DAN REMAJA

Sebagai pengganti Maha Maya, Suddhodana kemudian menikahi adik Maya yang bernama Prajapati Gotami. Prajapati inilah yang kemudian menjadi sosok ‘ibu’ yang mengasuh Siddharta. Pada masa balita ini, sejumlah pertapa datang berkunjung ke istana Suddhodana, salah satunya bernama Asista. Brahmana Asista kemudian meramalkan bahwa Pangeran Siddharta takkan menjadi raja. Setelah menyaksikan orang tua, orang sakit, orang meninggal, dan seorang Brahmana/Pertapa, Siddharta akan meninggalkan istana dan menjadi rahib.

Suddhodana ketakutan setengah mati mendengar ramalan itu. Meskipun dengan Prajapati ia memiliki putra bernama Nanda dan seorang putri bernama Sundari, ia tetap lebih suka Siddharta yang jadi raja. 


Maka Suddhodana memerintahkan Siddharta dijaga dan diasuh secara ketat. Ia tak boleh menyaksikan ‘penderitaan’ dan setiap kali Siddharta keluar istana, Raja akan memerintahkan rakyat untuk membersihkan jalan, memakai pakaian terbagus, dan bersorak-sorai gembira seolah tidak ada masalah (walau mungkin mereka punya masalah).

Dalam masa-masa remajanya, Siddharta banyak bergaul dengan binatang-binatang di sekitar istana. Sifatnya yang simpatik dan welas asih membuat binatang-binatang tidak takut pada Siddharta.

Siddharta juga pernah menyelamatkan seekor ular yang hendak dipukul seorang anak kota serta menyelamatkan seekor angsa yang sempat kena panah sepupunya : Devadatta.

ISTANA EMPAT MUSIM DAN YASODHARA

“Dalam kehidupanku yang sudah-sudah, aku dan Yasodhara selalu menjadi pasangan.”
(Siddharta Gautama)

Perenungan pertama Siddharta tentang penderitaan adalah ketika ia melihat semacam rantai makanan. Semut dimakan kadal, tiba-tiba ular memakan kadal, baru sebentar juga, ada burung elang menyambar si ular. Dari situ Siddharta mulai berpikir tentang kesenangan makhluk hidup yang rata-rata cuma sesaat.

Sejak saat itu Siddharta sering ditemukan para dayang tengah duduk bersila, bermeditasi, dan tidak terganggu dengan keriuhan lingkungan sekitarnya. Raja Suddhodana yang dilapori hal itu tidak ingin anaknya berpikir hal-hal yang mendalam mengenai kehidupan. Ia ingat bahwa orang-orang bijak (Bramana/Pertapa) telah memprediksikan bahwa anaknya akan meninggalkan istana dan menjadi seorang rahib.

Jadi, untuk mengalihkan perhatiannya, sang raja kemudian mendirikan sebuah istana yang megah. Raja memerintahkan untuk membuat tiga kolam di halaman istana. Di kolam-kolam itu ditanami berbagai jenis bunga teratai (lotus). Satu kolam dengan bunga teratai yang berwarna biru (Upala), satu kolam dengan bunga yang berwarna merah (Paduma), dan satu kolam lagi dengan bunga yang berwarna putih (Pundarika).

Selain tiga kolam tersebut, Raja juga memesan wangi-wangian, pakaian dan tutup kepala dari negara Kasi, yang terkenal sebagai penghasil barang-barang bermutu terbaik. Tari dan musik dimainkan tanpa henti di istana itu. Tetapi itu tidak menghentikan Pangeran Siddharta dari pemikiran mengenai penderitaan dan ketidakbahagiaan yang terjadi disekitarnya.

Pada usia 16 tahun, Raja Suddhodana menyarankan Siddharta untuk mencari istri. Kebetulan di Kerajaan Koliya, ada sayembara untuk memperebutkan Putri Yasodhara. Siddharta memenangkan sayembara memanah, dan meruntuhkan sebuah pohon dengan sabetan pedang. Tapi ada 2 orang lagi yang bertanding dengannya di sayembara akhir : menunggangi kuda liar. Dua lawannya jatuh terjerembab karena kuda itu terus berontak, tapi dengan kelemahlembutannya, Siddharta berhasil menjinakkan kuda itu. Yasodhara pun resmi menjadi pasangannya.

EMPAT TANDA

Yasodhara dan Siddharta pun menikah, tapi hati Siddharta tetap saja gundah setiap kali memikirkan tentang penderitaan hewan-hewan (rantai makanan) yang pernah ia jumpai. Karena itu ia kemudian memutuskan keluar istana dengan sembunyi-sembunyi bersama Channa – kusirnya, dan di luar sana (tanpa persiapan khusus ayahnya) ia melihat empat tanda. Ia melihat orangtua yang jalannya terbungkuk-bungkuk dengan menggunakan tongkat dan Siddharta pun mulai ketakutan ketika Channa menjelaskan bahwa tidak ada obat untuk mencegah usia tua. 

Ia kemudian bertemu seorang pria bertubuh kurus kering yang terbaring di jalanan dan mengeluh sakit, Channa menjelaskan bahwa pria itu tengah sakit dan sakit selalu akan datang pada tiap orang tak terkecuali pada raja atau seorang pangeran macam Siddharta sekalipun. Kemudian mereka bertemu serombongan orang yang tengah memikul tandu jenazah dan kembali Siddharta menanyakan apa tidak ada obat untuk kematian, Channa kembali menjawab bahwa kematian itu tak terelakkan. 

Setelah itu Siddharta bertemu dengan seorang brahmana dan Siddharta dibuat terpesona oleh ketenangan sang brahmana menghadapi ‘dunia nyata’. Dalam hati Siddharta mulai memupuk keinginan untuk menjadi rahib.

Siddharta kemudian kembali ke istana, tapi keputusannya untuk menjadi rahib harus ia urungkan karena Yasodhara dikabarkan tengah hamil. Ketika Yasodhara melahirkan, dari mulut Siddharta terucap kalimat, "Belenggu terlahir, ikatan terlahir." Karena ucapan ini maka putranya dinamai Rahula, yang artinya belenggu / beban.

PENCARIAN JATI DIRI

Di usianya yang ke-29, Siddharta mulai menjauhi aneka hiburan terutama tari-tarian. Ayahnya kemudian merasa amat khawatir kalau-kalau niat anaknya menjadi pertapa sudah mulai muncul. Benar saja, begitu diminta jujur, Siddharta menjawab bahwa ia memang ingin menjadi pertapa untuk mencari jawaban, mencari obat untuk menyembuhkan segala penyakit, usia tua, kematian, dan terutama penderitaan. Tapi kalau Raja Suddhodana punya obat untuk itu semua, ia takkan meninggalkan istana. Raja Suddhodana jelas tidak bisa memenuhi keinginan Siddharta tapi ia juga tidak mau anaknya minggat. Karena itu malam harinya Siddharta merencanakan sebuah rencana untuk kabur.

Malam itu, ia meninggalkan Yasodhara dan Rahula yang masih terlelap, membangunkan Channa lalu pergi dari istana. Dari situ ia menuju Magadha, kemudian ia memotong rambutnya, melepas segala atribut kebangsawannanya dan menyuruh Channa kembali ke Kapilawastu untuk menyampaikan benda-benda itu pada ayah dan istrinya. Siddharta sendiri kemudian mengembara dan mulai hidup sebagai rahib peminta-minta (sekarang tradisi meminta makanan ini masih dilakukan oleh para bhikku dengan nama Pindapata). Ia juga berguru kepada banyak brahmana, namun brahmana-brahmmana inipun tidak bisa menjawab pertanyaannya mengenai kebebasan dari samsara (penderitaan).

Siddharta kemudian mencoba cara yang lebih ekstrem : Tapabrata, bertapa tanpa makan dan minum untuk waktu yang lama sambil berjemur di panas terik saat siang atau berendam di sungai waktu malam. Di kisah-kisah Weda dan Purana, para pelaku tapabrata kadang berakhir sebagai ‘tulang-belulang yang dihinggapi arwah penasaran’ sampai dewa datang memulihkan raga para pelaku tapa. 

Dalam kasus Siddharta, itu tidak terjadi . Ia malah nyaris tewas kalau tidak ditolong seorang anak gembala yang memberinya susu kambing karena tubuhnya sudah sedemikian kurusnya. Para brahmana ortodox pada zaman itu menolak bersentuhan dengan Sudra, tapi Siddharta tidak mau seperti itu. Hal ini diperparah setelah Siddharta menerima pemberian bubur susu (atau bubur tajin) dari seorang anak petani bernama Nandabala dan ibunya Sujata. Siddharta kemudian mulai makan teratur sampai kesehatannya pulih dan para teman-teman brahmananya kemudian mencapnya sebagai orang rakus lalu mulai menjauhinya.

MENCAPAI ARAHAT DAN PERJUMPAAN DENGAN MARA

“Dengan seribu tangan, yang masing-masing memegang senjata
Dengan menunggang gajah Girimekkhala,
Mara bersama pasukannya meraung menakutkan
Raja Para Bijaksana menaklukkannya dengan dana dan paramita yang lainnya
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.”

Setelah kesehatannya pulih, Siddharta mulai kembali bermeditasi, kali ini di bawah pohon bodhi (Ficus religiosa). Kali ini prinsip Siddharta adalah : mengabaikan segala gangguan luar dan mengabaikan semua pemikiran duniawi. Bukan perkara mudah sebenarnya, karena ada banyak imajinasi-imajinasi duniawi melintas di kepalanya dan ada juga ... Mara.

Mara adalah sosok makhluk personifikasi dari nafsu duniawi. Sebagian bhikku menganggap bahwa Mara tidak nyata, hanya sebuah personifikasi tapi sebagian lagi mengganggap Mara adalah makhluk supranatural yang benar-benar ada. Dikisahkan Mara meneror Siddharta dengan pasukannya yang terdiri dari sekumpulan makhluk mengerikan, tapi Siddharta tidak gentar. Mara kemudian mencoba mengirimkan putrinya yang menyamar sebagai Yasodhara tapi gagal juga, pada akhirnya Mara benar-benar ‘hantam kromo’ dengan menyerang langsung Siddharta dengan senjatanya tapi akhirnya gagal. Senjatanya hancur, gajah tunggangannya malah berlutut di depan Siddharta dan seluruh dewa-dewa kahyangan malah turun dan siap menghajarnya. Mara pun akhirnya menghilang ... untuk sementara waktu, dan Siddharta telah menjadi seorang Buddha, di usianya yang ke-35 tahun.

MEMBENTUK SANGHA

Setelah menjadi Buddha, Siddharta bertemu dengan lima rekannya yang dulu sempat menjulukinya pertapa rakus. Kelima brahmana ini dibuat terkejut dengan penampilan Siddharta yang ‘berbeda’ dan bertanya kepada siapa Siddharta berguru. Siddharta menjawab bukan dengan siapa-siapa selain dirinya sendiri. Ia memproklamirkan dirinya sebagai seorang Buddha dan mengajak lima orang rekannya itu membentuk sangha (persaudaraan).

Sangha ini mulanya hanya terdiri dari 6 orang, namun lama kelamaan berkembang menjadi banyak. Sang Buddha kemudian mengajari para bhikku ini delapan jalan untuk melenyapkan penderitaan :

1. Pengertian Yang Benar (sammä-ditthi)
2. Pikiran Yang Benar (sammä-sankappa)
3. Ucapan Yang Benar (sammä-väcä)
4. Perbuatan Yang Benar (sammä-kammanta)
5. Pencaharian Yang Benar (sammä-ajiva)
6. Daya-upaya Yang Benar (sammä-väyäma)
7. Perhatian Yang Benar (sammä-sati)
8. Konsentrasi Yang Benar (sammä-samädhi)

Dan Pancasila (bukan Pancasila dasar negara Republik Indonesia) sebagai sumpah moralnya :
  1. Aku bertekad melatih diri untuk menghindari pembunuhan (nilai kemanusiaan) guna mencapai samadi.
  2. Aku bertekad melatih diri untuk tidak mengambil barang yang tidak diberikan (nilai keadilan)guna mencapai samadi.
  3. Aku bertekad melatih diri untuk tidak melakukan perbuatan asusila (berzinah, menggauli suami/istri orang lain, nilai keluarga)guna mencapai samadi.
  4. Aku bertekad untuk melatih diri menghindari ucapan yang tidak benar /berbohong, berdusta, fitnah, omongkosong (nilai kejujuran)guna mencapai samadi.
  5. Aku bertekad untuk melatih diri menghindari segala minuman dan makanan yang dapat menyebabkan lemahnya kewaspadaan (nilai pembebasan)guna mencapai samadi.

Mereka yang telah mencapai kesempurnaan (kesadaran) tertinggi setelah Buddha disebut telah mencapai arahat (kesempurnaan). Yang unik, murid kesayangan sekaligus asisten Buddha yakni Ananda, baru mencapati tahap arahat pasca wafatnya Sang Buddha.

KONFLIK DENGAN DEVADATTA

Setiap nabi atau orang bijak selalu ‘dikasih’ pengkhianat. Yesus dengan Yudas Iskariotnya dan Buddha dengan Devadatta. Masih ingat kan dengan pangeran bengal yang pernah memanah angsa di masa remaja Siddharta? Kali ini Devadatta kembali lagi, awalnya sebagai seorang bhikku, murid Sang Buddha, tapi kemudian Devadatta yang awalnya sudah arogan, sangat cemburu karena tidak diberi ‘jabatan’ penting. Buddha malah menunjuk dua orang bhikku yang masih baru bernama Sariputta dan Moggallana untuk menjadi pengikut utamanya. 

Karena itu Devadatta pun meninggalkan Sangha (komunitas para Bhikkhu dan Bhikkhuni) dan berteman dengan pangeran Ajatasattu, anak dari Raja Bimbisara. Sang pangeran membangun sebuah vihara pribadi untuk Devadatta. Devadatta kemudian membujuk pangeran untuk membunuh ayahnya, Raja Bimbisara, agar sang pangeran dapat menjadi raja. Sang pangeran mengikuti skema jahat Devadatta dan tidak memberi ayahnya makan hingga tewas lalu Ajatasattu menjadi raja.

USAHA PEMBUNUHAN

Karena sekarang Devadatta merasa sangat berkuasa karena raja yang baru adalah teman dan pendukungnya, ia memutuskan untuk membunuh Sang Buddha untuk mengambilalih sangha. Suatu malam, ketika Sang Buddha sedang berjalan di bukit berbatu, Devadatta mendorong jatuh sebuah batu besar untuk membunuh Sang Buddha. Tetapi batu itu tiba-tiba terpecah-bilah dan hanya sebagian kecil dari batu itu yang tajam yang melukai kaki Sang Buddha. Sang Buddha kembali ke vihara dan dirawat oleh seorang tabib terkenal, Jivaka.

PERINGATAN BUDDHA PADA DEVADATTA
"Devadatta, jika kamu ingin memecah Sangha, kamu akan memetik buah kejahatan."
(Buddha Gautama)
Untuk mengesankan para Bhikkhu dan Bhikkhuni lain dan juga mengganggu Sangha, Devadatta meminta Sang Buddha untuk membuat peraturan (tata krama) yang lebih ketat untuk Sangha. Devadatta meminta agar para Bhikkhu tidak diijinkan tidur di rumah atau makan daging. Tetapi Sang Buddha menolak proposal Devadatta. Sang Buddha berkata: "Jika beberapa Bhikkhu hendak tidur di luar rumah atau tidak memakan daging, mereka bebas melakukannya. Tetapi jika mereka tidak ingin hidup dalam cara demikian, mereka juga tidak harus melakukannya." Akhirnya, Sang Buddha berkata: 
"Devadatta, jika kamu ingin memecah Sangha, kamu akan memetik buah kejahatan."
Devadatta mengabaikan peringatan Sang Buddha, dan pergi memimpin sekelompok Bhikkhu dan membuat dirinya pemimpin dari kelompok Bhikkhunya. Suatu hari, ketika Devadatta sedang tidur, pengikut utama Sang Buddha yang bernama Sariputta datang dan memperingati para Bhikkhu mengenai konsekuensi dari tindakan jahat. Para Bhikkhu itu kemudian menyadari kesalahan mereka dan kembali kepada Sang Buddha. Bagaimanapun juga, banyak diantara mereka telah dibawa pulang kembali oleh Sariputta Thera dan Maha Moggallana Thera. Kemudian, Devadatta jatuh sakit. Setelah menderita sakit selama sembilan bulan, dia meminta murid-muridnya untuk membawanya menghadap Sang Buddha di Vihara Jetavana.

Mendengar kabar bahwa Devadatta akan tiba, Sang Buddha berkata kepada murid-murid-Nya, bahwa Devadatta tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk menemui-Nya. Ketika Devadatta dan rombongannya mencapai kolam di dekat Vihara Jetavana, para pengangkutnya meletakkan tandu tempat berbaringnya di tepi kolam, dan mereka pergi mandi. Devadatta bangun dari tempat berbaringnya, dan menaruhkan kedua kakinya di tanah.

Pada saat itu juga kakinya masuk ke dalam bumi, dan sedikit demi sedikit dia ditelan bumi. Devadatta tidak memiliki kesempatan untuk melihat Sang Buddha, karena perbuatan jahat yang telah dia lakukan terhadap Sang Buddha. Setelah kematiannya, dia terlahir di Neraka Avici (Avici Niraya), tempat yang penuh dengan penyiksaan terus menerus.

MASA TUA

“Sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir, sudilah Yang Sempurna menempuh Sang Jalan sekarang mencapai Nibbāna akhir. Sekarang adalah waktunya bagi Sang Bhagavā untuk mencapai Nibbāna akhir.'

Setelah hal ini diucapkan, Sang Bhagava berkata kepada māraṃ pāpimantaṃ (Mara papima): 

"Pāpima, jangan kau menyusahkan dirimu. Saat parinibbana Sang Tathagata belum tiba, tiṇṇaṃ māsānaṃ accayena (tiga bulan lagi) Sang Tathagata akan Parinibbana.”
(Mahaparinibbana Sutta)

Usia tua Buddha Gautama sama seperti orangtua pada umumnya. Ketahanan tubuhnya sudah tidak bagus dan aneka penyakit sering menyerang dirinya. Itu masih belum ditambah gangguan dari Mara, yang bolak-balik membujuknya untuk segera paranibbana (meninggalkan dunia). Meski begitu, Buddha Gautama tetap berkotbah dan mengajar dengan dibantu oleh Ananda – bhikku asistennya yang paling setia. Ia juga menyempatkan diri melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang jauh untuk mengajar meski usianya tidak muda lagi.

PARANIBBANA

“Aku telah mambabarkan kebenaran tanpa perbedaan apa pun; karena demi kebenaran, tidak ada yang disembunyikan dalam ajaran Buddha... Adalah mungkin, Ananda, bahwa beberapa di antara kamu, akan timbul pikiran, 'Kata-kata Sang Guru akan segera berakhir; sebentar lagi kita tidak akan memiliki seorang guru.' Tapi jangan berpikir seperti itu, Ananda. Bila Aku telah pergi, ajaran dan aturan disiplin-Ku-lah yang akan menjadi gurumu.”
(Mahaparinibbana Sutta)

Tiga bulan sebelum kematiannya, Buddha Gautama mengumpulkan semua bhikku untuk menyampaikan pesan-pesan terakhir. Tiga bulan setelah itu ia mengumpulkan para bhikku di suatu tempat di antara dua pohon sala di Kusinagara, memberikan khotbah Dharma terakhir kepada siswa-siswa-Nya, lalu Buddha pun Parinibbana.

WARISAN

Ajaran Buddha kini dikenal sebagai salah satu religi dengan pengikut lumayan besar dan disebut Buddhisme. Saat ini di dunia ada beberapa mazhab Buddhisme yakni :
  1. Theravada – terutama tersebar di Asia Tenggara.
  2. Mahayana – dulu merupakan agama dominan di Sumatra pada zaman Sriwijaya dan di Jawa pada masa Mataram Kuno. Saat ini rata-rata pengikutnya ada di India dan Sri Lanka.
  3. Tantrayana / Vajrayana – penganutnya tersebar di Nepal dan Tibet.
  4. Zen – biasanya ada di Jepang, termasuk mazhab unik karena mengizinkan biksunya berumahtangga tanpa harus melepas jubah.

DALAM AGAMA HINDU

“Di masa ini, Zaman Kali (kegelapan), Dewa Wisnu menjelma sebagai Gautama, seorang Shakyamuni, dan mengajarkan dharma Buddha selama sepuluh tahun. Kemudian Shuddhodana memerintah selama dua puluh tahun, dan Shakyasimha selama dua puluh tahun. Pada tahap pertama Zaman Kali, jalan Weda telah dihancurkan dan seluruh orang menjadi umat Buddha. Orang-orang yang mencari perlindungan kepada Wisnu telah menjadi sesat.”

(Bhagavata Purana, 1 : 3)

Para brahmana ortodox cenderung akan menerjemahkan teks di atas secara harafiah dengan mengatakan bahwa Wisnu menjelma menjadi Buddha untuk menyesatkan manusia. Tapi brahmana yang lebih moderat mengatakan bahwa kehadiran Buddha Awatara adalah untuk menyelesaikan ‘reformasi’ yang dibawa oleh Krishna Awatara.

Krishna sendiri ‘agak tidak setuju’ dengan sistem caturwarna yang sering disebut juga sebagai kasta. Sistem ini pada awalnya ditujukan untuk menggolongkan masyarakat sesuai profesi dan perannya yakni brahmana (para guru dan cendikia), kesatria (para elit pemerintahan dan prajurit), waisya (pedagang, peternak, petani yang memiliki lahan), dan sudra (para pegawai). Namun setelah sekian lama kaum brahmana dan kesatria meng-elit-kan diri dan mulai bersikap tidak menyenangkan kepada dua kasta lainnya. Krishna sendiri tahu bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu namun apa yang dia sampaikan dalam Bhagawad Gita belum terlalu berefek luas sehingga dalam kesempatannya menjadi Buddha, ia hendak menyelesaikan ‘reformasi’ itu.

Buddha Awatara sendiri adalah satu-satunya awatara yang benar-benar konsisten menjalankan prinsip ahimsa – tanpa kekerasan – seumur hidupnya.

KONTROVERSI

Seperti yang sudah singgung di atas, penetapan Buddha sebagai awatara banyak mengundang kontroversi. Tidak hanya dari para brahmana dan umat Hindu ortodox, tapi juga dari para bhikku Buddhis itu sendiri.

Tahun 1999, dalam forum Masyarakat Maha Bodhi (Masyarakat Buddha Asia Selatan), para bhikku dan brahmana yang berkumpul di sana mengeluarkan tiga fatwa :

• Karena alasan tertentu beberapa sastra yang ditulis di India pada zaman dahulu menganggap Buddha sebagai reinkarnasi Wisnu dan berbagai anggapan keliru mengenai Beliau, hal ini sangat tidak menyenangkan. Dalam upaya mengembangkan hubungan yang lebih akrab antara umat Hindu dan Buddha kami memutuskan bahwa apapun yang terjadi pada masa lalu mesti dilupakan dan keyakinan tersebut tidak boleh disebarkan.

• Untuk menghapus kekeliruan ini selamanya, kami mengumumkan bahwa baik Weda maupun Samana merupakan tradisi kuno di India (Wisnu termasuk tradisi Weda sedangkan Buddha termasuk tradisi Samana). Usaha yang dilakukan suatu tradisi untuk menunjukkan bahwa ia lebih mulia dibandingkan tradisi lainnya hanya memupuk kebencian dan sakit hati antara keduanya. Maka dari itu hal tersebut tidak boleh dilakukan untuk selanjutnya dan dua tradisi harus saling menghormati dan menghargai.

• Siapa pun mampu mencapai derajat tinggi di masyarakat dengan cara melakukan perbuatan baik. Seseorang mendapat derajat yang buruk di masyarakat jika melakukan perbuatan buruk. Maka dari itu siapa pun yang melakukan perbuatan baik dan melenyapkan niat kotor seperti nafsu, amarah, kebodohan, ketamakan, kecemburuan, dan ego dapat mencapai derajat tinggi di masyarakat dan menikmati kedamaian dan kebahagiaan.

Pasca fatwa ini keluar, banyak brahmana yang mengganti ajarannya mengenai Dasa Awatara. Awatara kedelapan diganti dengan Balarama (Baladewa) Awatara sementara Awatara Kesembilan diganti dengan Kresna Awatara.

BUDDHISME DI NUSANTARA

Di Nusantara abad 13-15, Buddhisme Mahayana berkembang pesat, berdampingan dengan Hindu Siwa. Tapi dua hal yang berbeda biasanya sedikit banyak pasti akan berkonflik dan untuk meredam konflik itu, seorang pujangga bernama Mpu Tantular mengusulkan sebuah slogan pendekatan dalam Kakawin Sutasoma : “Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.” (Terpecah belah tapi satu jua, sebab tak ada dharma – kebenaran – yang mendua).Teks lengkapnya berbunyi sebagai berikut :
“Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.”
Terjemahan (versi Dr Soewito Santoso):
“Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggalTerpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.”
Semenjak itu Hindu Siwa – Buddhisme dianggap sebagai dua sekte berbeda dalam satu religi yang sama. Kedekatan ini kemudian melahirkan sebuah agama sinkretis bernama Siwa-Buddha di mana masih ada pemujaan terhadap dewa-dewi namun prinsip-prinsip Buddhisme ada di dalam ajarannya. 

Siwa-Buddha sering disebut ‘Buda’ saja.

Pasca kemerdekaan Indonesia dan pemerintahan Presiden Soekarno mengadakan sensus penduduk. Penduduk Tengger mengaku diri beragama ‘Buda’ dan sampai tahun 1960-an kesalahpahaman bahwa mayoritas penduduk Tengger beragama ‘Buddha’ masih terus berlangsung. Baru setelah pemerintahan berganti, para pemuka agama dari 5 agama berunding dan memutuskan bahwa mayoritas masyarakat Tengger punya tatacara beribadat yang cenderung mirip dengan agama Hindu.

Sisa-sisa penganut Siwa-Buddha juga masih bisa kita temukan di desa Budakeling, Bali. Prinsipnya secara sederhana begini : di sini ada rupang (arca) Buddha Gautama dan rupang (arca) Dewa Siwa. Berdua mereka sama-sama dipandang sebagai manifestasi Yang Maha Esa. Silakan sembahyang di depan rupang yang mana saja, tidak masalah.

• Pada saat ini, mayoritas penganut Buddhisme di Indonesia (40-60%) adalah Buddha mazhab Theravada.
• Ada perbedaan besar antara kata ‘Buda’, ‘Budha’, dan ‘Buddha’. Buda adalah agama sinkretis Hindu Siwa dan Buddhisme, Budha adalah nama dewa dalam agama Hindu, sementara Buddha sendiri adalah gelar Siddharta Gautama sekaligus nama ajarannya.
• Buddha adalah satu-satunya awatara yang secara teguh memegang prinsip ‘ahimsa’ – tanpa kekerasan. Ia hanya diketahui pernah satu kali marah, yakni kepada Devadatta saat Devadatta hendak memecah Sangha.
• Meski ditunjuk sebagai penerus, Sariputta Thera dan Maha Moggallana Thera meninggal lebih dulu daripada Buddha.

Biografi

  1. Nama asli : Siddharta Gautama
  2. Nama lain : Sang Sujata, Sang Bhagava, Sang Tathagata, Buddha Sakyamuni
  3. Arti Nama : Keturunan Gautama Yang Tujuannya Telah Tercapai (Siddharta Gautama), Orang Bijak dari Sakya (Sakyamuni), Ia Yang Telah Datang (Tathagata), Yang Agung (Bhagava), Yang Maha Tahu (Sujata), Yang Tercerahkan (Buddha).
  4. Ras : Manusia (Dinasti Shakya), Manusia Awatara (Awatara Wisnu, versi Hindu), Buddha (Yang Tercerahkan, versi Buddhisme)
  5. Masa Kemunculan : Kali Yuga.
  6. Pasangan : Yasodhara
  7. Anak : Rahula
  8. Profesi : Pangeran Kapilawastu => Rahib, Pendiri Buddhisme
  9. Lawan utama : Mara dan Devadatta

"Aku seorang yang telah melampaui segalanya, pengenal segalanya, Tak ternoda di antara segalanya, meninggalkan segalanya. Terbebaskan dalam lenyapnya keinginan," (Siddharta Gautama)

Penulis Agung Joni

Subscribe to receive free email updates: