Kalki Awatara (Awatara ke Sepuluh Atau Terakhir)

HINDUALUKTA-- Kali ini kita akan membahas tentang awatara terakhir Sri Wisnu. Awatara ini belum muncul, dan dipercayai baru akan muncul di akhir zaman nanti. Nama Awatara ini adalah Kalki, Sang Penunggang Kuda.

RAMALAN KELAHIRAN

"Setelah itu, menjelang pergantian dua yuga (Kali Yuga dan Satya Yuga),
Tuhan Pencipta alam semesta akan menjelma sebagai Kalki dan
menjadi putra Vishnuyasha. Pada waktu itu, para penguasa di bumi
ini telah merosot menjadi perampas semata." (Bhagavata-purana, 1.3.25)

Kalki diramalkan akan lahir pada akhir masa Kali Yuga. sesuai dengan kepercayaan Sanatana Dharma (Hinduisme) soal siklus yang selalu berulang, Kali Yuga (Zaman Ketidakbenaran) akan kembali berganti menjadi Satya Yuga (Zaman Keemasan) dan adalah tugas Kalki untuk merestorasi zaman Kali menjadi zaman Satya.

Kalki diramalkan akan lahir di sebuah tempat bernama Shambala. Apakah ini adalah nama tempat yang sudah ada ataukah tempat ini belum ada, tidak bisa dipastikan. Orangtua Kalki sendiri diramalkan akan bernama Vishnuyasha, seorang brahmana.


BERGURU PADA PARASURAMA

Awatara keenam Wisnu, yakni Parasurama adalah seorang Chiranjiwin – kaum abadi. Ia berumur panjang dan akan hidup sampai akhir Kali Yuga. Pada masa ini, Parasurama akan turun gunung dan akan menjadikan Kalki muridnya serta akan membantu Kalki melakukan suatu lelaku guna mendapatkan senjata pedangnya. (Mengenal Parasurama)

TUGAS

Hampir semua Raja/Kepala/Pejabat negara, adalah orang-orang tidak beradab. Mereka serakah, berwatak keras dan pemarah, mengabdi pada kepalsuan dan kebatilan. (cocok pada jaman sekarang)
(Bhagavata Purana 12.1.38).

Dalam Brahmā-Vaivarta Purāṇa (Prakṛtī Khaṇḍa, Bab 7.60, Ayat 58-59) tentang bagaimana kondisi menjelang akhir Zaman Kaliyuga dan apa saja kegiatan dan tujuan kedatangan Kalki:

"Pada saat itu akan ada kekacauan di bumi. Di mana-mana ada pencuri dan perampok. Pada saat itu, di rumah brāhmaṇa bernama Viṣṇuyaśa, Tuhan Śrī Nārāyaṇa akan muncul dalam salah satu ekspansi kekal-Nya dalam wujud Kalki yang Agung sebagai putra brāhmaṇa itu. Dengan mengendarai seekor kuda yang gagah dan memegang pedang di tangan-Nya, Dia akan membinasakan semua mleccha (orang-orang licik, egois dan tidak beradab) di muka bumi. Demikianlah bumi akhirnya bebas dari para mleccha dan setelah itu Tuhan akan menghilang kembali ke kediaman-Nya."

Dalam ayat-ayat ini kita bisa menyimpulkan bahwa Tuhan Kalki akan datang sebagai penegak hukum atau ksariya. Pada masa itu bumi akan dipenuhi orang-orang yang tidak mengerti logika dan kitab suci. Mereka terlalu bodoh dan dungu, tidak bisa diajarkan pengetahuan rohani tentang tujuan sejati kehidupan. Mereka tidak dapat mengerti apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara hidup yang benar. Karena itu, mereka pasti tidak bisa mengubah cara hidup mereka karena kebodohan yang sangat kasar. Karena itu, Tuhan Kalkideva tidak muncul untuk mengajari manusia tentang prinsip-prinsip agama namun hanya untuk menghukum, membinasakan dan membersihkan bumi dari para penjahat. 

Segala sesuatu akan menjadi sangat buruk ketika Zaman Kali terus berlanjut. Bumi akan menjadi seperti salah satu planet neraka di mana setiap makhluk yang dilahirkan akan ditakdirkan untuk menderita. Ada korupsi dalam pemerintahan dan para pelindung negara sehingga mereka tidak lebih baik daripada pencuri. Rakyat tidak akan mendapatkan perlindungan pemerintah. Mereka akan menjadi korban kejahatan tanpa perlindungan. Setiap orang akan bertengkar. 

Dunia akan berubah menjadi medan pertempuran dan ladang pertengkaran yang terjadi terus-menerus (persis seperti yang terjadi di Bali saat ini, Zaman Kali yg baru berlangsung kurang lebih 5.000 tahun saja sudah begini keadaan dunia, apalagi nanti). Pada akhirnya, setelah 432.000 tahun sejak awal Zaman Kali (3108 sebelum Masehi), Sri Visnu akan muncul dalam inkarnasi-Nya sebagai Penghukum Tertinggi, Kalki.
 
Bahkan mereka yang dikenal sebagai golongan dvijati yang lahir dua kali secara rohani kehilangan sifat-sifat yang baik, tidak beretika dan sibuk melayani golongan rendah yang biadab dan bodoh.” Ini berarti bahwa orang-orang yang tekun dalam rohani terpaksa melayani mereka yang memiliki kekayaan untuk bertahan hidup.


Uraian tentang kaum brāhmaṇa yang merosot di masa depan dijabarkan lebih lanjut dalam Bab 1 Kalki Purāṇa:
Kutarka vāda vahulā dharma vikayino’ dhamaḥ |
veda vikayino’ brātva rasa vikrayinas tahtā || 1.25 ||
māṁsa vikrayinaḥ krūraḥ śiśnodara-parāyaṇāḥ |
paradara rata matta varṇa saṅkara kārakaḥ || 1.26 ||
hṛśvākaraḥ pāpasāraḥ satha mata nivasinaḥ |
ṣodaśābdāyuṣaḥ śyāla bandhavā nicasaṅgamaḥ || 1.27 ||
"Jiwa-jiwa yang jatuh ini gemar mendiskusikan argumentasi yang kering, dan mereka menggunakan agama sebagai mata pencaharian, mengajarkan Veda sebagai profesi untuk mencari uang. Mereka jatuh dari standar pelaksanaan tirakat-tirakat suci. Mereka menjual anggur dan hal-hal menjijikkan lain termasuk daging. Mereka bertabiat bengis, dan selalu ingin memuaskan nafsu perut dan kelamin. Karena hal ini, mereka memburu istri orang lain dan selalu dalam keadaan mabuk. Mereka tidak dilahirkan dari pasangan ayah-ibu yang menikah dengan benar, dan ukuran tubuh mereka pendek namun selalu melakukan perbuatan berdosa, misalnya menipu. Mereka umumnya tinggal di tempat keramat, dengan usia hidup hanya enam belas tahun, bergaul dengan orang-orang buangan, dan hanya menganggap saudara ipar laki-lakinya sebagai teman dan keluarga."

Kalki akan menunggangi kuda putih bernama Devadatta dan dengan astra berwujud pedang, pemberian Siwa, Kalki akan melakukan hal yang agak mirip dengan Parasurama : pembantaian massal. Bedanya yang ia bantai sekarang bukan hanya raja-raja, tapi juga orang-orang batil dari golongan lainnya (brahmana juga termasuk).

Konon jiwa-jiwa yang dibunuh oleh Kalki akan langsung terbebas dan mencapai tingkat kesadaran yang umumnya dicapai pertapa setelah matiraga selama bertahun-tahun. Karena itu jiwa-jiwa yang dibunuh oleh Kalki tidak akan ‘diperam’ oleh Yama di Naraka melainkan langsung bersatu dengan Atman (Kesatuan Jiwa).

Pembantaian massal itu akan berhenti setelah nyaris seluruh penduduk muka bumi punah. Kalki hanya akan menyisakan sedikit orang benar untuk memulai abad baru. Ia sendiri akan menjadi raja di sebuah tempat dan setelah Kali Yuga benar-benar berakhir, Kalki akan kembali ke Vaikuntha.

KALI

Ada dua ‘Kali’ dalam mitologi Sanatana Dharma. Yang pertama adalah Dewi Kali atau Kaali atau Durga yang merupakan shakti – pasangan Siwa, sementara yang kedua adalah Iblis Kali, Asura terkuat yang menguasai ‘waktu’. Asura Kali inilah yang dipercaya menguasai Kali-Yuga (Zaman Kali, abad kegelapan, abad ketidakadilan). Dalam satu versi Pasukan Kalki dan pasukan Kali konon akan bertemu dan bertarung. Ketika Kali terdesak, ia akan melarikan diri ke dalam istananya dan akan menghilang dalam pusaran waktu, menuju Kali Yuga berikutnya. Kalki pun belum bisa membunuh Kali dalam pertempuran nanti.
  • Tunggangan Kalki, Devadatta, punya nama yang mirip dengan bhikku sekaligus sepupu Siddharta yang memecah sangha yang didirikan Buddha.  
  • Kalki adalah satu-satunya Awatara Wisnu yang memiliki tunggangan spesifik, yang tidak dimiliki awatara-awatara lainnya.
Bio

"Aku adalah waktu, penghancur besar dunia-dunia" (Bhagavad-gita 11.23).

Nama lain : Kalkin, Kalaki
Arti Nama : Keabadian, Masa / Zaman, Penghancur Kejahatan
Ras : Manusia Awatara, Awatara Wisnu
Senjata : Pedang (Astra Parabrahman)
Wahana : Devadatta (Kuda Putih)
Masa Kemunculan : Akhir Kali Yuga
Lawan utama : Kali

Catatan: Meskipun dikatakan Awatara Terakhir, namun dalam Bhagawat Gita 4.7-8 dikatakan Setiap kali terjadinya kebajikan ditekan kejahatan, Aku (Tuhan) memanifestasikan diri (turun/lahir sebagai Awatara). Untuk membangun kebajikan, untuk menghancurkan kejahatan, untuk menyelamatkan yang baik, Aku (Tuhan) datang dari Yuga ke Yuga (Jaman ke Jaman).

Artinya bahwa Tuhan akan menjelma menjadi Awatara ketika Dharma sudah terdesak.


Subscribe to receive free email updates: