Contoh Perilaku Dasa Mala Dalam Kehidupan

HINDUALUKTA -- Dasa Mala berasal dari kata Dasa yang berarti sepuluh dan Mala yang berarti tidak baik atau buruk Jadi Dasa Mala dapat diartikan sebagai sepuluh prilaku atau perbuatan manusia yang tidak baik dan patut di hindari. Dalam ajaran agama Hindu, Dasa malah adalah bentuk dan dari asubha karma atau perbuatan yang tidak baik dan merupakan sumber dari kedursilaan, yaitu bentuk perbuatan yang bertentangan dengan susila, yang cenderung pada kejahatan. 

Sendratari Ramayana Lakon Rama Tambak, Taman Balekambang Surakarta 14.07.17

Adapun contoh perilaku Dasa Mala Dalam Kehidupan adalah sebagai berikut:

Kisah dalam cerita Ramayana (Āraṇyakāṇḍa)

Āraṇyakāṇḍa adalah kitab ke tiga epos Rāmāyana. Dalam kitab ini diceritakanlah bagaimana sang Rāmā dan Lakṣamaṇa membantu para tapa di sebuah asrama mengusir sekalian raksasa yang datang mengganggu. Selama masa pembuangan, Lakṣmana membuat pondok untuk Rāmā dan Sītā. Ia juga melindungi mereka di saat malam sambil berbincang-bincang dengan para pemburu di hutan. Saat menjalani masa pengasingan di hutan, Rāmā dan Lakṣmana didatangi seorang rakshasi bernama Surpanaka. 

Ia mengubah wujudnya menjadi seorang wanita cantik dan menggoda Rāmā dan Lakṣmana. Rāmā menolak untuk menikahinya dengan alasan bahwa ia sudah beristri, maka ia menyuruh agar Surpanaka membujuk Lakṣmana, namun Lakṣmana pun menolak. Surpanaka iri melihat kecantikan Sītā dan hendak membunuhnya. Dengan sigap Rāmā melindungi Sītā dan Lakṣmana mengarahkan pedangnya kepada Surpanaka yang hendak menyergapnya. Hal itu membuat hidung Surpanaka terluka. Surpanaka mengadukan peristiwa tersebut kepada kakaknya yang bernama Kara. Kara marah terhadap Rāmā yang telah melukai adiknya dan hendak membalas dendam.

Dengan angkatan perang yang luar biasa, Kara dan sekutunya menggempur Rāmā, namun mereka semua gugur. Akhirnya Surpanaka melaporkan keluhannya kepada Rāvaṇa di Kerajaan Alengka. Surpanaka mengadu kakaknya sang Rāvaṇa sembari memprovokasinya untuk menculik Dewi Sītā yang katanya sangat cantik. Sang Rāvaṇapun pergi diiringi oleh Marica. Marica menyamar menjadi seekor kijang emas yang menggoda Dewi Sītā. Dewi Sītā tertarik dan meminta Rāmā untuk menangkapnya.

Pada suatu hari, Sītā melihat seekor kijang yang sangat lucu sedang melompat-lompat di halaman pondoknya. Rāmā dan Lakṣmana merasa bahwa kijang tersebut bukan kijang biasa, namun atas desakan Sītā, Rāmā memburu kijang tersebut sementara Lakṣmana ditugaskan untuk menjaga Sītā. Dewi Sītā ditinggalkannya dan dijaga oleh si Lakṣamaṇa. Rāmāpun pergi memburunya, tetapi si Marica sangat gesit. Kijang yang diburu Rāmā terus mengantarkannya ke tengah hutan.

Karena Rāmā merasa bahwa kijang tersebut bukan kijang biasa, ia memanahnya. Seketika hewan tersebut berubah menjadi Marica, patih Sang Rāvaṇa. Saat Rāmā memanah kijang kencana tersebut, hewan itu berubah menjadi rakshasa Marica, dan mengerang dengan suara keras. Sītā yang merasa cemas, menyuruh Lakṣmana agar menyusul kakaknya ke hutan. Karena teguh dengan tugasnya untuk melindungi Sītā, Lakṣmana menolak secara halus. 

Kemudian Sītā berprasangka bahwa Lakṣmana memang ingin membiarkan kakaknya mati di hutan sehingga apabila Sītā menjadi janda, maka Lakṣmana akan menikahinya. Mendengar perkataan Sītā, Lakṣmana menjadi sakit hati dan bersedia menyusul Rāmā, namun sebelumnya ia membuat garis pelindung dengan anak panahnya agar makhluk jahat tidak mampu meraih Sītā. Garis pelindung tersebut bernama Lakṣmana Rekha, dan sangat ampuh melindungi seseorang yang berada di dalamnya, selama ia tidak keluar dari garis tersebut.

Saat Lakṣmana meinggalkan Sītā sendirian, rakshasa Rāvaṇa yang menyamar sebagai seorang brahmana muncul dan meminta sedikit air kepada Sītā. Karena Rāvaṇa tidak mampu meraih Sītā yang berada dalam Lakshmana Rekha, maka ia meminta agar Sītā mengulurkan tangannya. Pada saat tangan Rāvaṇa memegang tangan Sītā, ia segera menarik Sītā keluar dari garis pelindung dan menculiknya. 

Lakṣmana menyusul Rāmā ke hutan, Rāmā terkejut karena Sītā ditinggal sendirian. Ketika mereka berdua pulang, Sītā sudah tidak ada. Di tengah perjalanan Rāvaṇa bertemu dengan seekor burung sakti sang Jatayu tetapi Jatayu kalah dan sekarat. Di sisa hidupnya Jatayu menceritakan kisahnya tentang penculikan Sita oleh Ravana yang kemudian ia mati (Kala Subramanyam, 2003).

Berangkat dari cerita diatas bahwa peristiwa penculikan Sita yang dilakukan oleh Ravana dengan cara menyamar sebagai seorang brahmana. Jika dilihat dari latar belakang Ravana menculik Sita adalah karena ketertarikan dengan kecantikan dewi yang merupakan istri Rama. Kejadiaan ini sebagai perbuatan yang mencerminkan sifat dari raksasa yang hendaknya dijauhkan karena dapat menyebabkan kerugian bagi diri sendiri dan orang lain. 

Perbuatan Ravana ini jika dikaitkan dengan dasa mala adalah karena bermula dari Leja (bernafsu) dan ragastri karena melihat kecantikan Sita yang kemudian Ravana berniat untuk memiliki dewi tersebut. Kutila (pemabuk), Megata (berkata manis) dengan berkata manis kepada dewi Sita melalui penyamarannya sebagai seorang Brahmana. Kemudian yang terakhir adalah kimburu (pencuri) yang dalam hal ini adalah berujung kepada penculikan sita oleh Ravana yang membawanya ke negaranya yaitu Alengkapura. 

Cerita ini sesungguhnya cerminan dari kehidupan sekarang ini yang orang sudah mementingkan diri sendiri dengan berusaha untuk menimbun segala kekayaan untuk kepentingan pribadi atau pun golongannya dan hal-hal yang menjadi kepentingan umum seolah-olah terabaikan. Untuk itu, perbuatan seperti ini hendaknya untuk dijauhkan agar tecipta keharmonisan di dunia ini.

Subscribe to receive free email updates: