Saraswati sebagai Simbol Penyadaran dan Pencerahan

Dewi Saraswati
HINDUALUKTA-- Saraswati (dalam bahasa sangsekerta bermakna “suatu yang mengalir”, percakapan, kata-kata) di dalam kitab suci Weda dipuja sebagai Dewa Sungai dengan permohonan mendapatkan vitalitas hidup dan kesehatan. Posisisnya sebagai Wach atau “Dewa kata-kata” baru ditemui dalam ktab-kitab Brahmana, Ramayana, dan Mahabarata. Belakangan Saraswati dikenal dengan “sakti” dewa Brahman atau Dewi kata-kata atau Dewi Ilmu Pengetahuan.

Baik dikenal dengan banyak nama, Saraswati dikenal dan di puja oleh umat Hindu Indonesia. Dalam mantaram sapta gangga yang diucapkan dalam memohon tirta nama Saraswati disebut beberapa kali (Goris, 1936:33). Dengan demikian Saraswati pada awalnya sebagai Istadewata kaum agamawan dan literati sekarang telah menjadipujaan seluruh Umat Hindu.

Dalam “Concept if Saraswati in Vedic Literature” (1977), dikatakan bahwa dipujanya Saraswati sebagai Dewa Suangai tidak terlepas dari keinginan untuk mendapatkan kemakmuran, kesejahteraan dan vitalitas hidup, oleh karena itu sungai Saraswati sangat disucikan. Selain Saraswati juga diyakini memiliki kekuatan dan menyucikan (Conception of Saraswati in The Puranas,1962). Selengkapnya Baca Rg Veda (10.131).

Tulisan diatas bermakna bahwa Saraswati Sudah dikenal dalam berbagai kitab Suci Hindu sejak dahulu. Dengan demikian Saraswati yang memiliki makna “spiritual” dan universal, dalam perjalan sejarah juga mendapatkan maknanya yang kontekstual. Maka dari itu  Saraswati dapat dikatakan sebgai symbol penyadaran dan pencerahan.

Pembahasan:

Sebagaimana kita ketahui Saraswati disimbolkan beristana dalam aksara suci (candi Pustaka, canti bahasa, candi sastra, atau candi aksara). Sama halnya jika  aksara suci OM adalah pranawa mantra juga disebut sebagai nada Brahma (lagu alam semesta tetapi juga hukum alam semesta). Seperti halnya kata OM yang bermakna  ANG, Ung Mang (lahir, hidup, mati) adalah hukum alam yang tak terhindar untuk semua mahluk hidup.

Inilah yang menjadi renungngan bagi semua manusia bahwa pada akhirnya semuanya akan kembali kepadaNya. Hanya saja masih menunggu ruang dan waktu (Bhuta dan kala). OM (yang digambarkan dengan planet-planet di alam semesta ini: bumi, bulan,matahari dan lain sebagainya) adalah juga esensi setiap kegiatan keagaman Hindu yang terlihat terlapis mulai dari arcana, mudra, mantra, kuta-mantara dan pranawa mantra. 

Dengan demikian sebuah aksara suci OM telah memberi kesadaran manusia tentang hakekat alam semesta ini (dan juga hakekat) dirinya yang suci. Kesadaran seperti itu akan memberikan kesadaran kepada manusia tentang suka dan duka, tentang kesengsaraan dan penderitaan dan seterusnya.

Dalam kitab Bhagawan Wararuci terdapat sloka” dukkhesvanudvugnamanah sukhesu vigatasprhah, vitacokabhayakkrodhah sthiradhirmuniruyate” yang artinya:  yang disebut orang memiliki ‘keprajnanan’ tidak bersedih hati jika mengalami kesussahan, tidak bergirang hati jika mendapat kesenangan, tidak kerasukan nafsu marah, rasa takut, serta kemurahan hati, elainkan selalu tetap tenang jernih selalu fikirannya, karena beliau memiliki keluhuran budi, orang seperti itu disebut Muni, orang yang maha arif bijaksana.

Keprajnanan atau samyajnana yang dimiliki seseorang akan memberikan pengetahuan yang teguh pada-Nya tentang kebenaran, sehingga tidak terombang-ambing oleh gelombang suka duka, puas dan kecewa, benci dan sebagainya. Dalam Sarasamuccaya mengatakan: Vijayagnyudagdhani na rohanti yatha punah, jnana dagdhaistatha klecairnatma samadyate punah, yang artinya maka kenyataannya kecemaran diri akan lenyap, jika dilebur dengan latihan-latihan jnana, jika tela hilangkekotoran diri karena telah ditemuinya samyajnana ( pengetahuan sejati), maka terhapuslah lingkaran kelahiran, sebagai misalnya biji benih yang dipanaskan, hilang daya tumbuhnya, tidak mengecam lagi (510).

Menurut kita sarasamuccaya, kebodohan akan kedukaan dalam pikiran lebih lanjut menimbulkan kesengsaraan. Oleh karenanya senantiasa dikatakan bahwa keprajnanan dipakai melenyapkan kebodohan dan kesengsaraan itu. Disebutkan juga bahwa jnanabala (kesaktian pengetahuan) lebih utama dari kayabala (kekuatan jasmani).

Dalam bhagawadgita, II.57 dikatakan:” yang tidak memendam sedikitpun keterikatan kususnya terhadap seseorang dan barang, dan yang tidak mengharapan sesuatu yang menyenangkan, dialah seseorang yang bejiwa tentaram seimbang (prajna pratisthira)”. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa orang yang telah memdapatkan pengetahuan yang sejati akan mendapatkan kebahagia lahir dan batin.

Dalam agama Hindu, pengetahuan, kebijaksanaan dan kesucian adalah suatu yang menunggal seperti bagaimana yang tersirat dalam symbol Saraswati. Hadirnya Dewi saraswati, dalam kitab-kitab suci agama Hindu telah menyebabkan agama Hindu memiliki pegangan dan arah yang jelas tentang proses pencarian pengetahuan. Jelas pula adanya hakekat pengetahuan yang menjadi tujuan tertinggi pencapaian pengetahuan tersebut.

Saraswati bagaikan obor penerang bagi umat Hindu, membebaskan umat Hindu dari kegelapan pikiran, kedukaan, kemarahan, yang menjadi sebab adanya kesengsaraan. Saraswati sebagai symbol kesadaran dan pencerahan telah mengakar dan membudaya di bumi Indonesia, diwujudkan dalam berbagai bentuk aktivitas keagamaan, termaksut upakara dan upara.

0 Response to "Saraswati sebagai Simbol Penyadaran dan Pencerahan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel