Teknologi Canggih di Zaman Veda



HINDUALUKTA-- Ketika kita mnedengar kata teknologi kita mungkin cenderung mengarah pada layar computer, robot, mesin-mesin besar yang bergerak otomatis, serta telepon seluler layar sentuh. Disisi lain, orang-orang yang hidup seabad-dua abad lalu memiliki gambaran berbeda tentang teknologi. Di benak mereka bisa saja terbayang mesin uap di lori kereta api, cerobong asap pabrik penggiling tebu, dan lengan-lengan besi dari pabrik pemintal benang. Di balik semua itu, pernahkah kita mencoba menebak, apa gambaran teknologi nunjauh di masa lalu, ketika pereadaban Veda merajai dunia sebelum dimulainya Zaman Kaliyuga ?

Zaman Veda memiliki pengertian yang luas. Akan tetapi, sesuai dengan rangkuman sejarah alam semesta yang dicatat oleh Rsi Vyasa, acarya agung umat Hindu, dalam kitab suci Srimad Bhagavadtam, zaman Veda mengarah pada suatu masa ketika seluruh umat manusia berpedoman pada ajaran Veda. Dalam kitab Srimad Bhagavatam dijelaskan bahwa sebelum zaman Kaliyuga dimulai, bumi hanya memiliki satu penguasa turun-temurun. Karena itu, kata Sansekerta untuk seorang raja adalah narapati, nrpa atau nrpati, yang berarti pemimpin umat manusia, bukan pemimpin golongan-golongan tertentu. Menurut uraian kitab-kitab purana, raja terakhir yang memerintah seluruh muka bumi adalah Janamejaya, putra Raja Pariksit, sekitar 30 abad SM. Setelah Janamejaya mangkat, zaman Kaliyuga dimulai dan bangsa-bangsa di dunia pecah menjadi ratusan negara, bahasa dan budaya.

Jadi dalam bahasan ini, zaman Veda berarti zaman sebelum Kaliyuga dimulai. Tiga zaman sebelumnya, yaitu Zaman Satya, Treta dan Dvapara, adalah zaman-zaman keemasan peradaban Veda. Pada zaman Kaliyuga peradaban Veda meredup karena pengaruh sifat kegelapan (tamasika) yang menyelimuti hampir seluruh bumi. Kehidupan manusia merosot bersamaan dengan dimulainya zaman Kaliyuga, baik dari segi fisik, daya ingat, dan termasuk perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Jika kita menelusuri lebih dalam kitab suci Veda, kita akan menemukan keajaiban teknologi pada masa lampau yang tidak kalah (bahkan jauh lebih canggih) dari pada teknologi masa kini. Kitab Mahabharata, Ramayana dan puluhan kitab Purana menguraikan bukti-bukti tentang bagaimana umat manusia pada zaman Veda hidup ditengah keajaiban teknologi. Sebagai contoh kecil, pada saat perang Mahabharata, ketika Arjuna mengeluarkan astra (senjata) yang dapat meledak, beliau mencelupkan ujung panahnya dalam air suci dan mengucapkan mantra Veda. Ketika senjata dilepas, senjata itu berubah menjadi bom yang mengerikan.

Kadang ketika kita yang hidup di era modern ini menyimak uraian seperti itu menganggap keajaiban-keajaiban yang dijabarkan dalam kitab suci Veda sebagai sihir atau mitos. Akan tetapi, istilah sihir atau teknologi sebenarnya tidak jauh berbeda jika dilihat dari efisiensinya. Sebagai contoh, jika seseorang dapat bepergian dengan mudah dari suatu tempat ke tempat yang lain yang berjarak 100 km dengan cara terbang dengan bantuan mantra-mantra Veda, mengapa dia harus repot-repot lagi membeli mobil ? Jika anda dapat menciptakan makanan sendiri dengan mantra Veda mengapa anda harus membeli microwave dan kompor gas? 

Jadi, istilah teknologi dalam hal ini berarti segala sesuatu yang memudahkan pekerjaan manusia. Jika manusia pada zaman Veda mengendalikan sesuatu dengan kemampuan sendiri (dengan mengucapkan mantra, telepati dan sebagainya), maka kemampuan manusia yang super itu kini berpindah ke dalam barang-barang elektronik seperti mobil, komputer dan telepon genggam. Karena itu, kini muncul istilah teknologi halus dan teknologi kasar. Teknologi dalam zaman Veda menggunakan cara halus yang lebih tinggi tingkatanya dari cara mekanik modern dan digital. 

Cara-cara halus seperti mengucapkan mantra mungkin terlihat seperti sihir, namun itulah teknologi yang lebih halus. Teknologi halus ini menggunakan vibrasi suara (mantra) untuk mengubah susunan unsur material. Jika mantra diucapkan salah, maka hasilnya juga salah. Ini mirip seperti password yang digunakan meluncurkan roket atau bom pada zaman modern. Jika frekuensinya tidak tepat, maka bom tidak akan meledak. Jadi, vibrasi mantra sangat penting dalam teknologi Veda yang halus.

Jika kita meneliti lebih lanjut dalam kitab suci Veda, kita akan menemukan bahwa kelihatannya orang-orang hidup dengan sederhana pada masa lalu. Akan tetapi, kemajuan peradaban manusia tidak dilihat dari seberapa banyak komputer yang di produksi pabrik atau semaju apa teknologi layar sentuh, namun dilihat dari seberapa mudah manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara-cara yang tidak melanggar prinsip-prinsip keagamaan. 

Sebagai contoh, kita manusia modern terlihat sangat lihai dalam menciptakan alat-alat yang canggih, namun ketika alat-alat itu rusak, kita mulai kebingungan karena banyaknya sampah elektronik yang menumpuk dan mencemari lingkungan. Ketika seluruh dunia bangga dengan produksi mobil mewah yang meningkat, semua orang mulai ketakutan ketika cadangan minyak bumi dikatakan akan habis. Ketika kita semua bangga dengan rumah yang mewah dan barang-barang elektronik yang super canggih, kita mulai kebingungan ketika ada pemadaman listrik bergilir. 

Jadi kemajuan teknologi modern bisa dikatakan mirip seperti membangun sebuah istana pasir yang akan hancur diterjang satu ombak saja. Teknologi pada zaman Veda sedikit berbeda. Teknologi pada masa itu bersumber dari kitab suci Veda yang diwahyukan oleh Tuhan sendiri. Ketika manusia diajari menciptakan sesuatu, manusia juga diajari cara mengembalikan pada alam (daur ulang atau recycling process). Sebagai contoh, ketika Arjuna dan Asvatthama sama-sama mengeluarkan Brahmastra melalui kekuatan mantra, Arjuna yang menguasai cara membatalkan berhasil menarik dan meredam senjatanya, namun Asvatthama yang memiliki pengetahuan yang kurang lengkap tidak bisa menarik senjatanya sehingga menciderai bayi lama kandungan Uttari. Coba kita bandingkan, hingga saat ini kita belum bisa meredam reaksi nuklir Fukushima yang menelan korban jutaan manusia dan merusak ribuan hektar alam, walaupun kita memiliki teknologi yang canggih.

Teknologi Warp (lompatan ruang-waktu)

Setiap orang yang pernah menonton film fiksi ilmiah Star Trek pasti terkagum-kagum dengan teknologi Alcubierre Warp Drive, atau AWD atau Warp (lompatan ruang-waktu) saja. Teknologi ini yang dipasang dipesawat, membuat pesawat beserta awaknya bisa melaju hingga 8 kali kecepatan cahaya dan bisa mencapai system planet yang jauh dalam waktu sepuluh menit. Teknologi ini sayang hanya ada dalam film, namun dalam Kitab Mahabharata dikisahkan Sri Krishna mengendarai kereta-Nya dari Mathura ke Dwaraka, Beliau menempuh jarak 5000 kilometer hanya dalam waktu satu malam saja. Sedangkan jika kita pada zaman modern ini menempuh jarak yang sama dengan kereta api yang tentu saja jauh lebih cepat dari pada lima ekor kuda diikat untuk menarik satu kereta). 

Diperlukan waktu dua hari untuk sampai ke Dwaraka dari Mathura. Di samping itu Sri Krishna adalah sais kereta yang tidak ada bandingnya di zaman itu, hanya bisa di tandingi oleh Prabu Salya. Dalam kitab Srimad Bhagavatam dikisahkan suatu ketika Arjuna berniat memenuhi permintaan seorang brahmana yang kehilangan anaknya. Brahmana itu ingin anaknya kembali karena telah hilang ketika bermain. Arjuna mengendarai keretanya dan mencapai system planet surga hanya dalam waktu beberapa saat saja. Kemudian, pada hari yang sama, Arjuna kembali ke bumi dan langsung berangkat menuju system planet Patala yang berada di bawah orbit tata surya kita.

Teleportasi

Kembali ke film Star Trek, satu lagi tekhnologi yang mengesankan adalah teleportasi. Bayangkan, suatu hari anda sedang berpergian jauh dan kelaparan. Anda membuka computer tablet anda dan menekan tombol telportasi. Tiba-tiba, makanan yang ada di dapur anda pindah dan berada di hadapan anda. Atau, ketika anda merindukan ibu anda nun jauh disana, anda hanya perlu menekan tombol teleportasi dan dalam waktu beberapa detik, anda sudah berada disana.

Dikisahkan dalam Mahabharata, ketika kota suci Dvaraka selesai dibangun oleh Visvakarma, semua penduduk Mathura dipindahkan kekota itu hanya dalam satu malam. Demi menghindari pertumpahan darah di kalangan rakyat yang tidak bersalah baik dari pihak Mathura maupun dari raja Jarasandha yang jahat. Kerajaan Mathura memutuskan untuk pindah dan membuka lahan baru yang aman. Sri Krishna memilih tempat di tengah samudra di bagian barat Bharata-varsa. Sebuah pulau indah di ciptakan di tengah lautan yang kini dikenal dengan lautan Arab dan Viswakarma arsitek dan tekhnisi dari planet surga diutus untuk membangun kota. Balairung Sudharma yang seluruhnya terbuat dari emas, gading, permata, Kristal dan marmer, diturunkan dari kerajaan surga ke tengah-tengah kota suci Dvaraka.

Ketika kota Dvaraka siap huni, raja Ugrasena beserta para petinggi kerajaan dihadapkan dengan permasalahan bagaimana memindahkan penduduk Mathura ke sebuah pulau yang dikelilingi lautan. Pada suatu malam ketika seluruh penduduk Mathura tengah tertidur, Sri Krishna memindahkan seluruh penduduk dengan hanya satu jentik jari. Semua penduduk, perabotan dan binatang peliharaan dari Mathura malam itu dan ketika pagi menyongsong, mereka telah bangun di ranjang dan rumah yang baru di Dvaraka.

Mungkin kita beragumen karena hal itu dilakukan oleh Tuhan, dewa atau mahkluk bukan manusia, namun ketika perang Mahabharta, Arjuna pun memanggil senjata-senjata utamanya dengan tekhnologi teleportasi. Bisakah kita bayangkan sebuah kereta kuda kecil yang menganggkut begitu banyak busur, anak panah, tombak, tameng dan pedang yang dapat meledak? 

Jika satu selongsong panah biasa dapat memuat hingga dua puluh anak panah, maka perang antara Arjuna dengan Karna hanya memakan waktu sepuluh menit dan perang tanding ini tidak akan tercatat dalam sejarah Weda sebagai salah satu duel paling menegangkan dengan senjata-senjata super canggih. Jadi, baik Arjuna maupun Karna memanggil senjata-senjata mereka yang ditaruh di suatu tempat lain dan menggunakan hanya pada saat-saat kritis. 

Dalam Mahabharata dinyatakan karena senjata-senjata tersebut bersifat halus dan suci, sebelum memanggilnya para kesatria itu menyucikan diri dengan acamana (berkumur dan meminum air suci dari telapak tangan) dan mengucapkan mantra penyucian. Ketika mantra diucapkan, pup ! senjata yang bersemayam ditempat lain langsung berada di genggaman mereka.

By Agung Joni

1 Response to "Teknologi Canggih di Zaman Veda"

  1. luar biasa paparannya. Zaman sekarang untuk meyakinkan pembaca....setiap tulisan sebaiknya disertai referensi untuk membuktikan bahwa isi tulisan itu benar adanya. Namun apa pun yang mencoba dibagikan kepada pembaca....cukup memberikan gambaran dan pecerahan. Teruslah menulis dan jangan pernah berhenti berbuat untuk memberi pencerahan kepada umat

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel