Memahami Hidup Melalui Jnana Tattwa

HINDUALUKTA-- Naskah lontar Tattwa Jnana bercorak Siwaistis memuat ajaran-ajaran Siwa. Seloka dalam lontar ini berbahasa Jawa Kuna. Tattwa Jnana artinya pegetahuan tentang Tattwa. Kitab ini menuntun umat yang ingin bebas dari kesengsaraan dan reinkarnasi.

Sanghyang JNANA TATTWA, inilah yang harus diketahui terlebih dahulu, yang menjadi dasar semua tattwa. Dengan mengenali Sanghyang Jnana Tattwa, maka manusia dapat memahami hidup dan kehidupan yang diterimanya sekarang.

Paham dalam lontar ini bersifat dualisme, yaitu dengan adanya CETANA dan ACETANA. Cetana adalah Siwa Tattwa, Acetana adalah Maya Tattwa. Siwa Tattwa terdiri atas Paramasiwa Tattwa, Sadasiwa Tattwa, dan Atmika Tattwa. Sedangkan dari Maya Tattwa lahir Pradhana Tattwa.

Pertemuan Purusa dan Pradhana melahirkan CITTA dan GUNA. Citta adalah wujud kasarnya Purusa. Guna adalah hasil dari pengaruh Purusa kepada Pradhana Tattwa. Guna terdiri dari tiga jenis, Sattwa, Rajah, dan Tamah yang disebut TRI GUNA.

Hakikat CITTA SATTWA adalah terang bercahaya, bijaksana, kasih sayang, bahagia, luhur budinya, batin tak ternoda. Hakikat CITTA RAJAH pikirannya goncang, terburu-buru, ambisi, congkak, cepat tersinggung, superior, pemarah dan sebagainya. Hakikat CITTA TAMAH malas, enggan, kotor, dungu, besar birahinya, sering mengantuk, tidurnya lama, doyan senggama, melakukan gamya gamana dan sebagainya.

BHUR LOKA adalah tempat berkumpulnya semua tattwa, yaitu Sapta Parwata (menyatu dengan Pertiwi), Sapta Arnawa (menyatu dengan Apah), Sapta Dwipa (menyatu dengan Teja), Dasa Bayu (menyatu dengan Bayu), Dasendriya (menyatu dengan Akasa).

SAPTA PARWATA terdiri dari Gunung Mulyawan, Nisada, Gandhamadana, Malayamahidhara Trisrengga, Windhya, dan Mahameru. SAPTA DWIPA terdiri dari Pulau Jambu, Kusa, Sangka, Salmali, Gomedha, Puskara, dan Kronca.

Obat dari Atma yang sengsara adalah melaksanakan Prayogasandhi dengan penerangan Samyajnana berdasarkan BRATA, TAPA, YOGA, SEMADHI. Pada waktu bersemadhi, Sanghyang Atma memuja Sanghyang Iswara, pada tingkat kesadaran tertentu Bhatara akan hadir dalam media semadhi itu.

PRAYOGASANDHI terdiri dari: Asana, Pranayama, Pratyahara, Dharana, Dhyana, Tarka, dan Semadhi. Pertama-tama lakukan Asana untuk menyimpan SANGHYANG URIP. Setelah itu lakukan Pranayama untuk menjinakkan rajah dan tamah dalam pengaruh sattwa. Pratyahara yaitu menarik indriya semua objek kesenangan dikumpulkan dalam citta, buddhi, dan manah. Dan seterusnya.

Sanghyang Atma bisa berada dalam tingkat Kanista, Madya, dan Uttama. Bila Atma Uttama maka akan mendapatkan kepandaian dan kesadaran. Bila Atma Madya, maka sedang-sedanglah ia mendapatkan kepandaian dan kesadaran. Bila Atma Kanista, maka tidak mendapatkan kepandaian dan kesadaran.

Bila berada di alam JAGRA, maka atma menjadi sadar dan mengamati lingkungan, melihat objek yang ada dan tidak ada. Berada di alam TURYA, atma akan menjadi tenang dan damai, melihat dengan terang objek yang ada dan tidak ada, dapat mengatahui masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang.

Sang Yogiswara yang tekun akan memperoleh delapan KESIDDHYAN, yaitu: Anima, Laghima, Mahima, Prapti, Prakamya, Isitwa, Wasitwa, Dan Yatrakamawasyitwa.

TATTWA JNANA

 (IB. Wirahaji)

Makalah Tattwa Jnana

I.    Pendahuluan
Tattwa jnana artinya pengetahuan tentang tattwa. Tattwa ini dimulai dengan cetana yang sadar dan acetana yaitu yang tidak sadar. Cetana adalah Siwa Tattwa sedangkan acetana adalah Maya Tattwa. Siwa Tattwa terdiri atas Paramasiwa Tattwa, sedangkan Sadasiwa Tattwa dan Atmika Tattwa.  Paramasiwa Tattwa adalah Bhatara Siwa yang niskala, Tuhan yang serba tidak : tidak terikat oleh ruang dan waktu, memenuhi alam semesta. Sadasiwa tattwa adalah Bhatara Siwa yang wayapara (aktif), memiliki aktivitas berupa sarwajna (serba tahu), sarwakaryakarta (serba kerja),. Ada empat kemahakuasaan-Nya disebut Cadu Sakti yaitu : Jnana Sakti, wibhu Sakti, Prabhu Sakti dan Kriya Sakti. Jnana Sakti dibedakan atas duradarsana (melihat jauh), durasrawana (mendengar jauh), dan Duratmaka (berpribadi jauh, yaitu mengetahui pikiran yang dekat dan jauh). Wibhu sakti yang artinya maha kuasa dan kriya sakti artinya maha pencipta.

Bhatara Sadasiwalah bergelar Bhatara Adripramana, bhatara jagatnatha, bhatara Guru dan sebagainya. Atmika Tattwa Bhatara Sadasiwa Tattwa yang mempunyai sifat Utaprota. Uta (terjalin dalam, tenunan) ialah Bhatara Sadasiwa yang menyusupi Maya Tattwa. Prota (terangkat dalam tenunan) ialah Bhatara Sadasiwa yang memenuhi Maya Tattwa, melekat dan diliputi oleh Maya Tattwa itu, sehingga tidak tampak wujud yang sebenarnya. Sebagai Atmika Tattwa, bhatara siwa adalag Sang Hyang Atma Wisesa, Sang Hyang Dharma.

Anak Maya Tattwa adalah Pradhana Tattwa yang mempunyai sifat-sifat lupa berlainan dengan sifat Sang Hyang Atma yaitu sadar. Bila sifat sadar bertemu dengan sifat lupa, maka hal itu disebut prdhana-purusa yang melahirkan citta dan guna. Citta adalah bentuk kasarnya Purusa sedangkan guna adalah penjelamaan Pradhana Tattwa. Ada tiga guna yaitu sattwa, rajah, dan tamah. Tri Guna menentukan akan mendapatakan apa atma itu, apakah kemoksaan , sorga atau lahir menjadi manusia. Pertemuan Tri Guna dengan Citta melahirkan Buddhi. Buddhi itu adalah bentuk kasarnya Tri Guna yang diberi kesadaran oleh Citta. Dari Buddhi lahirlah Ahangkara.

Bhatara yang dijunjung memberi kesadaran pada Sang Hyang Atma, Sang Hyang Atma pada citta, citta pada Ahangkara. Ahangkara yang sifatnya mengaku aku, ada tiga macamnya yaitu weikreta, taijasa dan bhutadi. Waikreta adalah buddhi sattwa yang menimbulkan adanya manah dan dasendria. Bhutadi adalah buddhi Tamagmenimbulkan adanya Panca Tanmantra. Dari panca tanmantra timbullah panca mahabhuta. Bila berpadu dengan Guna, panca mahabhuta membentuk Andabhuana yaitu Bhur Loka, Bwah Loka. Swah Loka, Jnana Loka, Maha Loka dan Satya Loka.

Di saming alam diatas terdapat alam bawah yaitu : patala, waitala, nitala, mahatala, sutala, talaa-tala, dan rasatala. Dibawah sapta patala ini terdapat balagardaba mahanaraka, di bawahnya terdapat kalagnirurudra.

Taijasa adalah buddhi Rajah, membantu kerja waikreta dan bhutadi. Bhtara junjungan manusia, menyusupi alam semesta, menciptakan manusia dengan perantaraan Kriya Saktinya. Atma berada di turyapada, jagrapada, suptapada, mengalami sengsara. Suatu wujud atma adalah atma yang berhubungan dengan ahamkara yang menimbulkan adanya Panca TanMantra, panca mahabhuta, dan manah. Manah direflesikan pada atma sehingga atma menjadi panca atma. Orang yang ditempati oleh bhatara siwa memiliki atma wisesa. Walaupun atma orang Atma Wisesa ia harus melaksanakan tapa brata, semadhi. Pada waktu semadhi bhatara siwa akan menyatakan diri-Nya. Pada binatang tidak ada atma wisesa itu. Ia lebih banyak digerakkan oleh wayu, idep dan sabda. Wayu, dan idep itu meresapi seluruh tubuh manusia yang diberi kesadaran oleh atma dalam kadar yang berbeda-beda. Yang menyebabkan perbedaan-perbedaan itu ialah asubha karma. Atma yangb berada dijagrapada dan turyapada adalah atma yang luput dari subhasubhakarma karena kesuciannya. Sedangkan atma yang berada di suptapada adalah atma sengasara karena terus-menerus lahir menjadi dewata, manusia dan binatang. Ia selalu diombang-ambing oleh pikiran yang berangan-angan. Adapun turyapada dan turyanpada itu sukar dijangkau oleh pikiran karena halusnya.

Untuk menentukan sesuatu dapat digunakan Tri Pramana yaitu, Pratyaksa, Anumana dan agama pramana. Turyanpada hanya dapat dibaynagkan dengan agama pramana. Atma-atma itulah yang lahir menjdai manusia, tinggal di badan manusia meresap dalam sadrasa yang membangun tubuh manusia. Namun tubuh itu dasarnya dibangun dari Panca Mahabhuta. Sebenarnya tubuh itu juga merupakan tiruan alam besar karena bagian-bagian tubuh itu dapat dibandingkan dengan sapta bhuana, sapta patala, sapta parwata, sapta arnawa, dan sapta dwipa.

Bila dalam alam besar terdapat banyak sungai, maka dalam badan terdapat semacam sungai yanag disebut Nadhi. Tenaga geraka tubuh itu disebut wayu. Jumlahnya sepuluh disebut Dasa Wayu. Semuanya itu dihidupi oleh Sang Hyang Atma yang membagi-bagi dirinya dalam menghadapi bagian-bagian  tubuh itu, maka atma membagi melalui dasendrya dan manah. Lalu para dewa dan para Rsi juga menempati bagian-bagian tubuh kita seperti bhatara Brahma menempati empedu dan sebagainya, dan tri guna menjdai Gandarwa Daitya, Bhutapisaca dan Sang Hyang Atma adalah Pradhana Tattwa yang disebut Ambek. Ambek dan tubuh itu disebut Angga Pradhana. Dari ambeklah timbulnya suka duka, baik dan buruk. Ambeklah yang menikmati obyek kenikmatannya, kembalikan ke dalam ambek, ambek ke dalam Pramana, pramana ke dalam Dharma Wisesa, Dharma Wisesa ke dalam Anta Wisesa, anta Wisesa ke dalam Anta Wisesa.

Cara mengembalikan itu ialah dengan Prayoganya yang dapat dilaksanakan dengan tuntunan Samyagjnana. Samyagjnana hanya akan diperoleh melalui tapa., yoga dan semadhi. Yang dimaksud dengan Prayogasandhi adalah asana, Pranayama, Pratyahara, Dharana, Dhyana, Tarka, dan semadhi. Bila sang Yogiswara telah menemukan semadhi itu, ia katakan telah memiliki kastaiswaryan. Astaiswarya itu meliputi : anima, laghima, mahima, prapti, prakamya, isitiwa, wasitwa, dan yatrakama-wasayitiwa. Bila endapan sattwa sudah tidak ada lagi, maka pada saat itulah Sang Yogiswara berpisah dengan panca mahabhuta dan kembali menyatu dengan bhatara paramasiwa.

1.1.   Tattwa Jnana
Tattwajnana menggunakan bahasa Jawa Kuna yang disusun dalam bentuk bebas (Gancaran). Sebagai kitab Tatwa disebutkan bahwa Tatwajnana merupakan dasar semua Tatwa (bungkahing tattwa kabeh). Pemahaman Tattwajnana secara baik akan memberikan pahala yang luar biasa seperti memahami betapa menderitanya menjelma dan (mengetahui jalan) untuk kembali pada asal mula, sehingga lepas dari proses kelahiran sebagai manusia (luputeng janma sangsara).

Tattwajnana dalam menjelaskan ajarannya dimulai, dengan memaparkan dua unsur universal yang ada di dalam raya ini yaitu Cetana dan Acetana. Cetana adalah unsur kesadaran (consciousness) yang disebut dengan Siwatatwa yang memiliki sifat tutur prakasa. SedangkanAcetana adalah unsur ketidaksadaran (unconsciousness) yang disebut Mayatatwa yang memiliki sifat lupa, tan pajnana, tan pacetana. Cetana atau Siwatattwa ada 3 tingkatannya yaitu :Paramasiwatatwa, Sadasiwatattwa, dan Atmikatattwa (Milik Pemerintah Provinsi Bali, 2003)

a. Paramasiwatattwa adalah Bhatara Siwa dalam keadaan tanpa bentuk (khastityan bhatara ring niskala) yang tidak tersentuh oleh apapun.
b. Sadasiwatattwa adalah Bhatara Siwa yang sudah mulai tersentuh oleh sarwajna, sarwakaryakarta, cadusakti dan jnana sakti. Ia disebut Bhatara Adipramana, Bhatara Jagatnata,Bhatara Karana, Bhatara Parameswara, Bhatara Guru, Bhatara Mahulun, Bhatara Wasawasitwa. Ia berkuasa untuk mengadakan dan meniadakan, tetapi ia sendiri tidak diciptakan.
c. Atmikatatwa adalah Sadasiwatatwa yang Utaprota dalam Mayatatwa (Acetana). Uta artinya ia berada secara gaib dalam Mayatattwa bagaikan api dalam kayu. Prota artinya ia berkeadaan bagaikan permata bening cemerlang dalam Mayatattwa. Tetapi karna dibungkus oleh warna merah Mayatattwa menyebabkan sifat sarwajnana, sarwakaryakarta, cadusakti, jnana saktiNya menjadi hilang. Karena itu disebut Atmikatatwa, Atma Wisesa, atau Bhatara Dharma yang menjadi roh semua yang ada tanpa pilih kasih, bagaikan matahari secara adil memberikan sinarnya kepada semua yang ada.

Karena ada keinginan untuk melihat wastusakala, maka dipertemukanlah Atma denganPradhanatattwa (anak dari Mayatattwa). Atma perwujudan tutur (kesadaran) dan Pradhana perwujudan lupa (ketidaksadaran). Bertemunya tutur dengan lupa disebut Pradhanapurusa. Pada saat pertemuannya itu melahirkan cita dan guna. Cita lahir pada purusa, guna lahir dari Pradhana. Guna adalah tiga perinciannya yaitu : Sattwa, Rajah dan Tamah. Ketiganya disebut Triguna. Guna ini berpengaruh terhadap cita sehingga disebut cita satwa, citaraja dan cita tamah.

Guna sangat berpengaruh terhadap sifat sesorang satu sama lain berbeda tergantung pada kadar guna yang ada pada diri seseorang. Bila satwa dominan ada cita akan menimbulkan sifat-sifat yang baik, tahu salah dan benar yang dapat mengantar seseorang pada kamoksan. Bila rajah dominan pada citta akan menimbulkan sifat-sifat yang kurang baik. Namun bila rajah bertemu denagn sattwa akan menyebabkan mencapai sorga. Bila sattwa, rajah dan tamah sama-sama domninan menyebabkan terlahirkan sebagai manusia.

Pada saat Triguna bertemu dengan citta, maka lahirlah Budhi dan dari budhi lahir ahamkara. Ahamkara dibedakan menjadi tiga yaitu: ahamkara waikreta, taijasa dan bhutadi.  Ahamkara waikreta mengadakan manah dan dasendriya (pancaindria dan panca kamendriya). Ahamkara butadi mengadakan pancatanmantra. Dari panca tanmantra lahir panca mahabhuta. Sedangkan ahamkara taijasa membantu kerja ahamkara waitkreta dan bhutadi. Bercampurnya pancamahabhuta dengan guna melahirkan ada bhuana, seperti saptaloka (alam atas) dan sapta patala (alam bawah). BhataraSiwa menyusupi alam semesta, kemudian dengan kriya saktinya manusia diciptakan. Ketika atma berhubungan dengan ahamkara menimbulkan panca tanmantra, panca maha bhuta dan manah. Dihubungkannya atma dengan manah menyebabkan atma dibedakan menjadi lima yang disebut dengna panca atma.

Seseorang yang ditempati oleh Bhatara Siwa akan memiliki atma wisesa. Berbeda dengan binatang, tidak memiliki atma wisesa. Ia hanya memiliki bayu, sabda idep. Hal itu juga ada pada manusia dan diberikan kesadaran oleh atma dalam kadar yang berbeda-beda tergantung pada subha asubha karmanya. Atma yang berada di alam jagra dan turya luput dari pengaruh subha asubha karma itu. Sedangkan atma yang berada di alam susupta terkena pengaruh subha asubha karma sehingga harus mengalami proses kelahiran karena selalu diombang ambingkan oleh pikiran. Alam turya dan turyanta sulit di jangkau oleh pikiran karena kehalusannya, tetapi dapat ditentukan melalui tri pramana. Alam turyanta hanya dapat dibayangkan dengan agama pramana.

Tubuh manusia dibangun oleh inti sari zat makanan yang disebut sadrasa. Pada dasarnya tubuh ini dibangun oleh panca mahabhuta. Tubuh ini disebut dengan bhuana alit, alam kecil, yang sebenarnya tiruan dari bhuana agung, alam besar. Karena itu, sapta bhuana, sapta patala, sapta parwata, sapta arnawa, sapta dwipa, dalam bhuana agung ditemukan pula pada bagian-bagian tubuh manusia. Sungai-sungai dalam bhuana agung diwujudkan dengan nadi dalam tubuh yang jumlahnya sangat banyak. Dalam tubuh juga terdapat wahyu yang merupakan tenaga penggerak tubuh. Dan kesemuanya itu dihidupi oleh atma.

Tubuh ini didiami oleh atma, juga dewa-dewa menempati bagian tubuh manusia, sepertiBrahma menempati hati, Wisnu menempati empedu, dan Iswara menempati jantung, dsb. Pancaresi, Dewaresi, Saptaresi , para dewata, gandarwa, pisaca turut juga menempati tubuh manusia. Kesemuanya itu turut memberi warna sifat-sifat manusia. Pradanatattwa adalah badan atma pada tubuh manusia yang disebut dengan ambek. Sedangkan tubuh itu sendiri disebut dengan angga. Bersatunya angga dengan ambek disebut angga pradana. Ambek lah yang menimbulkan suka duka, baik buruk. Ambek lah penikmat semua obyek keindahan melalui dasensriya. Karena itu , dasendriya harus ditarik dari obyeknya dengan mengembalikannya dengan ambek. Ambek dikembalikan kepada pramana. Pramana kedalam dharma wisesa. Dharma wisesa kedalam antawisesa. Antawisewa kedalam anantawisesa.

Untuk mengembalikan kepada anantawisesa Tatwajnana mengajukan jalan Prayogasandhiyaitu asana, pranayama, prakyahara, darana, dayana, tarka dan samaddi. Proyogasandhi akan dapat dilaksanakan apabila dituntun oleh Samyagjnana (pengetahuan yang benar). Samyagjnana diperoleh melalui bumi brata, tapa, yoga dan samadhi. Kesemuanya itu akan mempertajam panah prayoga sandhi dan mengarahkannya pada sasaran secara tepat. Dengan bebasnya atma dari semua selubung atma, warna-warna Mayatattwa, maka pada, saat berpisahnya atma dari panca maha bhuta akan kembali pada sumber asalnya (mantukatrisangkandya), Bhatara Paramasiwa (Milik Pemerintah Agama Hindu, 2003).

Inilah yang patut diperhatikan oleh seseorang abdi dharma, yang ingin bebas dari kesengsaraan penjelmaan. Ada sanghyang Tattwa jnana namanya, itulah hendaknya engkau ketahui terlebih dahulu, beserta dewatanya. Hendaklah engkau pahami dengan baik akan sanghyang tattwa jnana itu. Tentu engkau akan memahami kesengsaraan penjelmaan ini dan akan kembali ke asalnya. Apakah yang disebut sanghyang tattwa jnana itu ?barangkali demikianlah pertanyaan  orang kebanyakan. Hanya ada sanghyang tattwa jnana namanya yang menjadi dasar semua Tattwa. Manakah itu?  Demikian Cetana, Acetana. Cetana ialah : jnana yaitu : mengetahui, ingat, ingat akan kesadaran yang tidak berubah menjadi lupa. Acetana ialah: lupa, bingung tak memiliki kesadaran. Cetana dan Acetana itulah disebut Siwatattwa. Cetana adalah Siwattwa dan acetana adalah Mayattwa. Sama-sama kecil dan halusnya. Mayattwa lebih rendah dari siwattwa. Mayattwa tidak memiliki cetana, tidak memiliki jnana, hanya lupa tidak memiliki kesadaran. Ketiadaan sebagai badannya, kosong bebas tiada yang merintangi. Lupa tak ingat apapun, demikianlah sifat-sifat Mayattwa. Siwattwa mempunyai sifat-sifat sadar jernih bercahaya. Yang disebut Siwattwa ada tiga macamnya, yaitu :Paramasiwattwa, Sadasiwattwa, Atmikatattwa.

Paramasiwatattwa ialah Bhatara dalam keadaan tanpa bentuk, tidak bergerak, tidak guncang, tidak pergi, tidak mengalir, tidak ada asal, tidak ada yang dituju, tidak berawal, tidak berakhir, hanya tetap tak bergerak tenang tanpa gerak. Diam dan kekal. Seluruh alam semesta ini dipenuhi, diliputi, disangga, disusupi seluruh sapta bhuwana ini oleh-Nya. Sapta-patala disusupi sepenuh-penuhnya, tiada ruang yang terisi, penuh terisi alam semesta ini olehnya. Tidak dapat dikurangi tidak dapat ditambahi. Tanpa karya, juga tanpa tujuan. Tidak dapat diganggu oleh perbuatan baik ataupun buruk. Tak dapat dikenal keseluruhannya. Dan ia tidak mengenal masa lalu, masa yang akan dating dan masa kini. Tidak dirintangi oleh waktu, selalu siang tidak sesuatu yang hilang kepada-Nya. Ia kekal abadi. Demikianlah sifat-sifat BhataraParamasiwatattwa. Itulah keberadaan Bhatara di alam niskala. Ialah Bhatara Paramasiwatattwa.

Inilah Sadasiwatattwa namanya. Bhatara Sadasiwatattwa bersifat wyapara. Wyapara artinya Ia dipenuhi oleh sarwajna ( serba tahu ) dan sarwakaryakarta ( serba kerja ). Sarwajna sarwakaryakartha ialah padmasana sebagai tempat duduk Bhatara, yang disebut Chadusakti, yaitu :Jnanasakti, wibhusakti, prabhusakti, kryasakti. Itulah yang disebut Chadusakti. Jnanasakti tiga jenisnya, yaitu : duradarsana, durasrawana, duratmaka.duradarsana ialah melihat yang jauh dan yang dekat. Durasrawana ialah mendengar suara yang jauh dan yang dekat. Duratmaka ialah mengetahui perbuatan yang jauh dan yang dekat. Itulah yang disebut Jnanasakti. Wibhusakti ialah taka da kekurangannya diseluruh alam semesta ini. Prabhusakti ialah tak dapat dirintangi segala yang dikehendakinya.

Kryasakti adalah mengadakan seluruh alam semesta ini, terlebih-lebih para dewata semuanya, seperti Brahma, Wisnu, Iswara, Pancarsi, Saptarsi, Dewarsi, Indra, Yama waruna, kubera, Wesrawana, Widyadhara, Gandharwa, Danawa, Daitya, Raksasa, Bhutayaksa, Bhutadengen, Bhutakala, Bhutapicasa, demikian pula alam ini, prthiwi ( tanah ), apah ( air ), teja ( cahaya ), wayu ( udara ), akasa ( ether ), bulan, matahari, planet, itulah semua karya Bhatara Sadasiwatattwa dialam sakala ialah : Sanghyang sastra, agama, ilmu pengetahuan mantra (waidya), ilmu logika ( tarka ), ilmu tata bahasa ( wyakarana ), ilmu hitung ( ganita ),. Demikianlah karya Bhatara Sadasiwatattwa. Ia berkuasa atas seluruh alam ini. Ialah yang memiliki alam sakala dan niskala. Ialah Bhatara Adipramana namanya, Bhatara Jagatnatha, Bhatara Karana, Bhatara Parameswara, Bhatara Guru, Bhatara Mahulun, Bhatara Wasawasitwa,. Ia menciptakan, namun ia sendiri tidak diciptakan. Ialah yang berkuasa untuk mengadakan dan meniadakan. Tidak ada yang dapat mengalahkan kekuasaannya. Ialah Bhatara Gurunya guru. Demikianlah sifat-sifat Bhatara Sadasiwatatwa.

Inilah yang disebut dengan Atmikatattwa. Bhatara Sadasiwatattwa dengan ciri-cirinya utaprota. Uta ialah sebagai halnya api yang berada dalam kayu api, api dalam kayu bambu itu tidak tampak. Demikianlah halnya Bhatara Sadasiwatattwa yang menyusupi mayatattwa. Tak tampak tak ketahuan. Ia mengembang memenuhi mayatattwa. Prota ialah seperti halnya permata sphatika, bening jernih berkilauan terang tidak diliputi apapun. Lalu ia dilekati warna, maka berubahlah warna permata itu, ditutupi oleh warna yang melekat pada mayatattwa. Tidak tampak tidak dapat dikenal lagi ia memenuhi mayatattwa. Karena ditutupi oleh warna yang melekat pada permata itu.

Maka itu pisahkanlah permata itu dengan warna itu. Pada waktu itulah permata itu kembali pada warnanya yang bening. Warna yang melekat tadi akhirnya akan kembali pada wujudnya semula. Demikianlah halnya Bhatara Sadasiwatattwa, yang menyusupi memberikan kesadara pada mayatattwa. Sifat mayatattwa itu kotor (mala). Itulah yang dipandang dihiasi dan dilekati oleh kotor (mala). Itulah sebabnya seperti hilang sakti Bhatara akhirnya, namun tidak demikian. Karena bagaikan permata sphatika Bhatara sadasiwatattwa, tidak dapat dikotori, hanya saja cetananya yang terlekati oleh mala, dihiasi dan diselimuti oleh mayatattwa. Akhirnya cetana itu menjadi tidak aktif, tidak lagi sarwajna, tidak lagi sarwakaryakarta.

Pada akhirnya benar-benar cetana itu kesadarannya amat kecil. Maka ia disebut Atmikatattwa, Sang Hyang Atmawisesa, Bhatara Dharma yang memenuhi alam semesta. Ialah jiwanya alam semesta, jiwa semua makhluk. Demikianlah persamaanya sebagai matahari. Satu ia aktif dalam dirinya sendiri, namun cahayanya menyebar memenuhi arah semua tempat, memenuhi alam semesta yang menyinari yang baik dan yang buruk, yang berbau busuk dan yang berbau harum. Cahayanya itu yang menyinari baik dan buruk. Banyaklah kegiatan cahaya matahari, terhadap yang baik dan terhadap yang buruk, terhadap rupa dan warna. Demikianlah Sanghyang Aditya. Sanghyang Aditya mengasihi semuanya itu walaupun ia berada dalam dirinya sendiri. Demikian juga Bhatara Dharma, walaupun ia ada didalam niskala, yang berbadan turyapada. Hanya cetana Nyalah yang menyebar memenuhi alam semesta. Berubah menjadi semakin besar, menjadi jiwa semua makhluk. Maya itulah yang dipandang cetana yang memberi kesadaran.

BHATARA DHARMA

Mengembangkan Cetananya, kemudian
Melahirkan Citta, Sattwam, Raja dan Tamah

Inilah perihal Bhatara Dharma yang mengembangkan cetananya. Bhatara Mahulun ingin melihat benda yang nyata. Maka itulah diberikannya Sanghyang Atma, dipertemukannya dengan Pradhanatattwa. Pradhanatattwa ialah anak Mayatattwa. Itulah sebabnya sifat Pradhanatattwa lupa tak ingat apapun, bagi manusia dinamakan tidur. Lupalah yang menjadi badan Pradhanatattwa. Badan Sanghyang Atma adalah ingat selalu. Bertemunya ingat-lupa. Itulah yang disebut Pradhana-purusa. Ketika bertemunya Pradhana dengan Purusa itulah melahirkan Citta dan Guna. Citta adalah wujud kasarnya Purusa. Guna adalah hasil. Pradhanatattwa yang diberi kesadaran oleh Purusa. Adapun Guna itu ada tiga jenisnya yang berbeda-beda yaitu : Sattwa, Rajah, Tamah. Itulah yang disebut Triguna yang dipakai sebagai guna ( kwalitas ) oleh Citta. Demikianlah citta Sattwa, citta Rajah, dan citta Tamah.

Citta adalah Cetana Sang Purusa yang dilekati dihiasi oleh Triguna. Kemudian namanya Citta. Ingatlah hendaknya akan sifat-sifatnya. Bila Sattwa tenang bercahaya melekati alam pikiran, ia akan menjadi orang yang bijaksana tahu akan apa yang disebut patut dan yang disebut tidak patut, baik caranya bertingkah laku, meskipun ia bertenaga, tiadalah ia kasar, tidak berkata asal berkata, bersikap hormat, kelihatan lurus hati, ia menaruh kasih saying kepada orang yang menderita, menghibur orang yang hina di hina orang bersedih hati, setia dan bhakti( arumpating alanya? ), lembut kata-katanya, sungguh-sungguh ia menjalankan ajaran sastra dan apa yang disebutkannya. Berusaha mengejar sifat yang baik, pengetahuan kasamyagjnanan. Tiada mengenal lelah, tiada cepat sedih hanya berhati girang kelihatannya. Apa saja gerak-geriknya menjadikan orang senang memandangnya. Kata-katanya menjadikan senang yang mendengar. Luhur budinya menyebabkan tenang dan gembiranya hati orang banyak. Tidak serakah dan bersedianya mengalah ( manga kociwaha tan keponumahar sukambekning para ? ). Tidak egois, tidak sesat olehnya bertingkah laku, tetapi girang senang dan tenang ( bersih ) tak bernoda saja menjadi bathinnya, manis wajahnya. Itulah hakekat Citta Sattwa, yang melekat pada Citta.

ASAL USUL DAN SIFAT-SIFAT AHANGKARA

Yang melahirkan Dasa Indriya, Panca Tanmatra dan Panca Mahabhuta

Beginilah kejadiannya hendaknya diingat. Bhatara Mahulun member kesadaran pada Sanghyang Atma. Sanghyang Atma member kesadaran pada citta. Citta member kesadaran pada ahangkara. Itulah yang disusupi oleh kriya sakti Bhatara yang memberi kekuatan. Itulah yang disebut hidupnya hidup. Kriya sakti Bhatara pramana sebagai hidupnya ahangkara, sebagai hidupnya buddhi. Itulah sebabnya pramana nama lain ahangkara. Sebab mengaku menentukan yang ada maupun yang tidak ada, melaksanakan perbuatan baik dan perbuatan buruk. Dan juga guna (kualitas) ahangkara adalah mengaku segala miliknya. Katanya: “Milikku, nafasku, ucapanku, pikiranku, badanku”. Demikianlah kata si ahangkara. Ahangkara dengan buddhi, itulah pramana wisesa namanya. Apa yang menyebabkan ahangkara dan buddhi itu disebut wisesa? Sebab tetap diam tidak bergerak-gerak. Hanya kesadarannya sedikit, remang-remang, kesadarannya akan baik dan buruk. Demikian juga buddhi, hanya dijadikan tempat untuk menerima adanya ahangkara, ada tiga jenisnya yaitu: si waikrta, si taijasa, si bhutadi. Demikian jenis ahangkara itu.

Ahangkara si waikrta adalah buddhi sattwa.
Ahangkara si taijasa adalah buddhi rajah.
Ahangkara si bhutadi adalah buddhi tamah.

Marilah ceriterakan fungsinya masing-masing Ahangkara si waikrta ialah menyebabkan adanya manah dan 10 indriya, yaitu: caksu (mata), srota (telinga), ghrana (hidung), jihwa (lidah), twak (kulit), demikianlah yang disebut pancendriya. Wak (mulut), pani (tangan), pada (kaki), upastha (kelamin laki), payu (pelesan), demikianlah yang disebut pancakarmendriya. Kumpulan pancakarmendriya dengan pancendriya disebut Dasendriya. Namanya yang kesebelas ialah manah. Demikianlah fungsi ahangkara si waikrta
.
PENGERTIAN SAPTA LOKA, SAPTA PATALA

Perbedaan peranannya dengan Wiswa, serta pengertian Sattwam, Rajah dan Tamah
Demikianlah keadaan pancamahabhuta itu, yang bercampur dengan guna, dijadikan andabhuwana oleh bhatara yaitu: saptaloka, bertempat di puncak yang tertinggi. Kemudian saptapatala bertempat di bawah, bhuwana, sarira namanya. Satyaloka bertempat paling di atas, kemudian berturut-turut di bawahnya ialah: mahaloka, janaloka, tapaloka, swarloka, bhuwarloka, bhurloka. Adapun bhurloka itu adalah tempat berkumpulnya semua tattwa. Pada bhurloka terdapat: saptaparwata, saptarnawa, saptadwipa, dasabayu, dasendriya. Semuanya itu berada di bhurloka. Saptaparwata itu menyatu dengan prthiwi di sini di dunia. Saptadwipa, menyatu dengan cahaya di dunia ini. Dasawayu, menyatu dengan wayu di dunia ini. Dasendriya, menyatu dengan akasa di dunia ini pula. Demikianlah sifat-sifat segala tattwa pada bhurloka. Inilah yang disebut saptapatala: patala, witala, nitala, mahatala, sutala, tala-tala, rasatala. Dibawah saptapatala adalah balagadarba yaitu mahaneraka. Di bawah mahaneraka, di sanalah tempat Sang Kalagnirudra, yaitu api yang senatiasa menyala, 100.000 yojana, jauh nyalanya berkobar-kobar. Sanghyang kalagnirudra, adalah api yang menjadi dasar saptapatala. Demikianlah keadaan andabhuwana, bertingkat-tingkat sebagai rumah lebah. Demikian banyaknya tattwa (elemen) kasar ahangkara si bhutadi pada mulanya.

Adapun sifat ahangkara si taijasa, yaitu sifatnya beristri dua orang yaitu membantu si waikrta dan si bhutadi. Ikut membuat sebelas indriya (ekadasendriya) dan pancatanmatra. Ahangkara itu ada tiga sifatnya lahir dari buddhi menserasikan sattwa, rajah dan tamah. Siapakah yang menyerasikan? Itulah Sanghyang Pramana, yaitu wujud kasar Sanghyang Atma, yang ada di turyapada. Ialah yang disebut Sanghyang Pramana, yang mengaku dan menentukan, merencanakan perbuatan baik atau buruk. Buddhi, manah dan ahangkara sebagai sarana adanya. Buddhi dan manah merupakan sarana Sanghyang Pramana menjadi bingung. Ahangkara merupakan sarana bagi Sanghyang Pramana untuk mengaku, merencanakan perbuatan baik dan buruk. Demikianlah sifat-sifat Sanghyang Pramana, dengan sarana buddhi, manah dan ahangkara
.
PUNARBHAWANYA SANG HYANG ATMA

Ah, sengsara benar sanghyang atma, terus tenggelam hilang tak dapat kembali ke jati dirinya. Bagaikan tanpa pikiran Sanghyang Atma. Sama seperti halnya biji jawawut satu butir, yang dipotong-potong menjadi beribu-ribu ditenggelamkan disamudra. Amatlah sulitnya akan menemukan hakekat juwawut itu. Demikian pula Sanghyang Atma, apabila telah menjadi binatang liar. Masih lebih baik menjadi binatang ternak, sabab itu bisa sebagai sarana untuk membuat baik. Ada yang menjadi semut, tetek, lintah, wedit, warayang, hiris poh, segala mahluk yang dibenci oleh manusia, lebih-lebih bila ia hendak bergerak dan pula binatang itu ada yang ditakuti, ada yang dibenci. Apa yang menyebabkan demikian? Perbuatan yang tidak baik, kanistha madhyama uttama yang berlalu itu dalam berbuat. Manakah perbuatan jelek yang paling kecil? Orang yang terhindar dari kemarahan, namun keras, lancing. Demikianlah orang lalu menikmati perbuatannya yang buruk lalu jatuh keneraka. Setelah lepas dari sana, ia itu baru diberi menjelma menjadi manusia oleh Yamabala. Tidak sama rupanya dengan orang sadhu. Ia itulah manusia cacat namanya. Ia memiliki cacat, segala macam cacat, sebagai hasil perbuatan buruknya yang paling kecil.

Inilah orang yang perbuatan buruknya sedang lantaran keadaannya menyedihkan, tidak ada yang dimakannya dan yang dipakainya. Hal itulah yang menyebabkan ia berbuat jahat, menjadi maling, berbuat curang pada milik orang sadhu yang menyebabkan bisa makan. Matilah ia itu, perbuatannya yang demikian itu, mendorongnya untuk menuju neraka. Setelah lepas dari neraka, diberinyalah ia menjelma menjadi binatang liar oleh Sang Yamabala.Adapun binatang itu  isa dimakan, bisa dimakan sebagai sarana meaksanakan yajna tawur. Diberi pahala demikian pada akhirnya. Demikian pahala perbuatan buruk yang sedang.

Inilah perbuatan buruk yang terbesar, yang disebabkan oleh keakuannya oleh lobanya, oleh kebingungannya, oleh ketamakannya, maupun oleh iri hatinya. Tak tersucikan, betul-betul kotor penjelmaannya, porapuri olehnya berbuat jahat. Menyerang orang tidak berdosa, merampas dagangan orang yang tidak berdosa, membuat pikiran orang susah, makan makanan teman. Orang yang demikian itu sifatnya, tentu dibenci, ditakuti oleh sesama manusia. Setiap yang didatanginya dimanapun ia berada akan dikesampingkan orang, dan orang merasa terganggu. Ketika mati orang yang demikian itu perbuatannya tak jauh akan menuju neraka. Setela terlapas dari sana lalu diberinya ia menjelma menjadi binatang liar oleh Sang Yamabala. Nah demikianlah jadinya segala jenis binatang yang dibenci, didengki, ditakuti oleh manusia. Itulah merupakan penjelmaannya. Demikian pahala perbuatan buruk yang besar. Sangat besar kesalahannya tanpa bentuk yang benar kelahirannya Sanghyang Atma. Apalagi akan mengetahui asal-usul penjelmaannya. Jika seandainya ada tindakan yang akan dilakukannya bisa akan menanyakannya tentang keterangan kebodohannya pada sang pandita. Apakah yang menyebabkan adanya panca triyak itu? Segala prilaku manusia yang berbuat buruk padanya. Itulah sebabnya perbuatannya berlawanan dengan manusia, perbuatan binatang itu.

SANG HYANG ATMA

Perwujudan dalam badan manusia, mendapat
pengaruh dari panca mahabhuta, hubungannya dengan
sad rasa, panca Tanmatra, Sapta bhuana, sapta parwata,
Sapta Arnawa, Sapta Dwipa dan sepuluh Nadi
       
Dilhirkanlah ia dalam wujud sebagai manusia seperti ini, yaitu sanghyang atma lahir di bumi, tinggal dalam badan jasmani, menyusup dalam sad rasa (enam rasa) yang merupakan sari-sari pancamahabtha yaitu, tanah,air, cahaya, angin dan udara. Semua inilah yang melahirkan sadrasa yaitu amla, kasaya, tikta,kartuka, lawana dan madhura. Amla artinya asam, kasaya artinya sepet, tikta artinya pahit, katuka artinya pedas, lawana artinya asin dan madhura artinya manis itulah yang disebut sadrasa, itulah disebut mula asal yang membangun badan jasmani. Yang kedua yang membangun badan jasmni ialah sadrasa itu dimakan dan diminum oleh orang laki dan perempuan. Sari-sari apa yang dimakan dan diminum itu menjadi darah, daging, lemak yang ketiga yang membangun badan jasmani itu ialah sari-sarinya darah, daging, lemak menjadi kama dan ratih. Itulah dihidupin oleh nafsu asmara, itulah yang mengembang lagi.

Bila unsur laki lebih banyk dari unsur wanita maka akan lahir menjadi laki-laki. Bila unsur perempuan lebih dari unsur laki maka akan lahir menjadi perempua. Bila unsur laki dan perempuan sama akan lahir menjadi banci (tidak mempunyai asmara) adapun unsur laki menjadi tulang, otot, bulu badan. Unsur perempuan menjadi darah, daging, lemak. Demikianlah sebenarnya panca mahabtha itu. Asa badan jasmani itu sebenarnya adalah sebagai berikut: tanah dijadikan kulit, airdijadikan darah,teja dijadikan daging, anggin dijadikan tulang, udara dijadikan sum-sum.
       
Panca tanmantra jadinya: sabda tan manta menjadi telinga, sparsa tanmanta menjadi kulit, rupa         tanmatra  menjadi mata, rasa tanmtra menjadi lidah, gadhatanmtra menjadi hidung. Itulah yang dinamakan pancagolaka, ditambah andabhuwana, saptapatala, dan saptabhuwana
       
Saptabhuwan ialah: bhur loka adalah perut, bhuwarloka adalah ati, swarloka adalah dada, tapaloka adalah kepala, janarloka adalah lidah, maharloka adalah hidung, dan stya loka adalah       mata. Itulah yang disebut sapta bhuwana.




Subscribe to receive free email updates: