Memilih Jalan Hidup Yoga atau Tantra

HINDUALUKTA-- Setelah ribuan tahun, kitab kebijaksanaan kuno Vigyana Bhairava Tantra pertama kali dibabarkan untuk umum oleh OSHO. Belakangan buku ini di publish dengan judul “The Book of Secret”. Vigyana Bhairava Tantra berisi 112 teknik yang diberikan oleh Shiva kepada Parvati. Berikut ini kutipan dari bab 2 yang berisi jawaban yang diberikan oleh OSHO tentang Jalan Yoga dan Jalan Tantra )


JALAN YOGA DAN JALAN TANTRA

Pertanyaan 1 :

THE PATH OF YOGA AND THE PATH OF TANTRA 

Question 1 :

APA PERBEDAAN ANTARA YOGA TRADISIONAL DAN TANTRA? APAKAH MEREKA SAMA?

WHAT IS THE DIFFERENCE BETWEEN TRADITIONAL YOGA AND TANTRA? ARE THEY THE SAME?

Tantra dan yoga pada dasarnya berbeda. Mereka mencapai tujuan yang sama; Namun, jalan mereka tidak hanya berbeda, tapi juga bertentangan. Jadi ini harus sangat jelas dipahami.

Tantra and yoga are basically different. They reach to the same goal; however, their paths are not only different, but contrary also. So this has to be understood very clearly.

Proses yoga adalah juga merupakan metodologi; yoga juga merupakan teknik. Yoga bukanlah filsafat, sama seperti tantra – yoga tergantung pada tindakan, metode, teknik. Dengan jalan melakukan itu juga mengarah ke yoga, namun prosesnya berbeda. Dalam yoga kita harus berjuang; itu adalah jalan para pejuang. Di jalan tantra seseorang tidak harus berjuang sama sekali. Sebaliknya, kita harus mengumbarnya – tapi dengan kesadaran.

The yoga process is also methodology; yoga is also technique. Yoga is not philosophy, just like tantra – yoga depends on action, method, technique. Doing leads to being in yoga also, but the process is different. In yoga one has to fight; it is the path of the warrior. On the path of tantra one does not have to fight at all. Rather, on the contrary, one has to indulge – but with awareness.

Yoga adalah penekanan dengan kesadaran; tantra adalah mengumbar dengan kesadaran. Tantra mengatakan bahwa apapun dirimu, tujuan yang paling akhir adalah tidak berlawanan dengan itu. Ini adalah pertumbuhan; engkau dapat tumbuh sampai menjadi tujuan akhirmu. Tidak ada oposisi antara dirimu dan realitas. Engkau adalah bagian dari itu, jadi tidak ada perjuangan, tidak ada konflik, tidak ada oposisi terhadap alam yang diperlukan. Engkau harus menggunakan alam; Engkau harus menggunakan apapun dirimu untuk melampaui.

Yoga is suppression with awareness; tantra is indulgence with awareness. Tantra says that whatsoever you are, the ultimate is not opposite to it. It is a growth; you can grow to be the ultimate. There is no opposition between you and the reality. You are part of it, so no struggle, no conflict, no opposition to nature is needed. You have to use nature; you have to use whatsoever you are to go beyond.

Dalam yoga engkau harus berjuang melawan diri sendiri untuk melampaui. Dalam yoga, dunia dan MOKHSA, pembebasan – engkau sebagai dirimu saat ini dan engkau sebagai yang nanti dapat engkau capai – adalah dua hal yang berlawanan. Dengan menekan, melawan, melarutkan semua yang merupakan dirimu engkau dapat mencapai yang tertinggi yang dapat dicapai. Melampaui adalah kematian pada yoga. Engkau harus mati agar keberadaanmu yang nyata dapat dilahirkan.

In yoga you have to fight with yourself to go beyond. In yoga, the world and MOKSHA, liberation – you as you are and you as you can be – are two opposite things. Suppress, fight, dissolve that which you are so that you can attain that which you can be. Going beyond is a death in yoga. You must die for your real being to be born.

Di mata tantra, yoga adalah bunuh diri secara mendalam. Engkau harus membunuh dirimu yang alami – tubuhmu, nalurimu, keinginanmu, semuanya. Tantra mengatakan terima dirimu apa adanya. Ini adalah penerimaan yang dalam. Jangan membuat kesenjangan antara engkau dan yang nyata, antara dunia dan NIRVANA. Jangan membuat celah. Tidak ada celah untuk tantra; tidak ada kematian yang dibutuhkan. Untuk kelahiran kembalimu, kematian tidak diperlukan – tetapi, transendensi. Untuk transendensi ini, gunakan dirimu sendiri.

In the eyes of tantra, yoga is a deep suicide. You must kill your natural self – your body, your instincts, your desires, everything. Tantra says accept yourself as you are. It is a deep acceptance. Do not create a gap between you and the real, between the world and NIRVANA. Do not create any gap. There is no gap for tantra; no death is needed. For your rebirth, no death is needed – rather, a transcendence. For this transcendence, use yourself.

Misalnya, seks ada dalam dirimu, sebagai energi dasar – energi dasar dimana engkau lahir melaluinya, lahir dengannya. Sel-sel dasar dari keberadaanmu dan tubuhmu adalah seksual, sehingga pikiran manusia berputar di sekitar seks. Dengan yoga engkau harus melawan energi ini. Melalui pertarungan ini engkau membuat sebuah pusat yang berbeda pada dirimu sendiri. Semakin engkau melawan, semakin engkau menjadi terintegrasi di pusat yang berbeda. Maka seks tidak menjadi pusatmu. Melawan seks – tentu saja, secara sadar – akan menciptakan pusat yang baru dalam dirimu, penekanan baru, kristalisasi baru. Maka seks tidak akan menjadi energimu. Engkau akan membuat energi untuk bertarung dengan seks. Sebuah energi dan pusat yang berbeda dari keberadaanmu akan terwujud.

For example, sex is there, the basic energy – the basic energy you are born through, born with. The basic cells of your being and of your body are sexual, so the human mind revolves around sex. For yoga you must fight with this energy. Through fight you create a different center in yourself. The more you fight, the more you become integrated in a different center. Then sex is not your center. Fighting with sex – of course, consciously – will create in you a new center of being, a new emphasis, a new crystallization. Then sex will not be your energy. You will create your energy fighting with sex. A different energy will come into being and a different center of existence.

Untuk tantra engkau harus menggunakan energi seks. Jangan bertarung dengannya, tapi transformasi-kan. Jangan melihatnya dengan mata permusuhan, bersikap ramah dengannya. Ini adalah energimu. ia tidak jahat, tidak buruk. Setiap energi adalah alami. Itu dapat berguna untukmu, dan dapat juga bertentangan denganmu. Engkau dapat membuat batu, hambatan, atau engkau dapat melangkah di atasnya. Hal itu dapat digunakan. Digunakan dengan benar, ia menjadi ramah; digunakan dengan salah, dapat menjadi musuhmu. Tapi itu tidak begitu. Energi adalah sesuatu yang alami. Kebanyakan manusia yang menggunakan seks, itu menjadi musuh, menghancurkan dia; ia menjadi hilang di dalamnya.

For tantra you have to use the energy of sex. Do not fight with it, transform it. Do not think in terms of enmity, be friendly to it. It is your energy. It is not evil, it is not bad. Every energy is just natural. It can be used for you, it can be used against you. You can make a block of it, a barrier, or you can make it a step. It can be used. Rightly used, it becomes friendly; wrongly used, it becomes your enemy. But it is neither. Energy is just natural. As ordinary man is using sex, it becomes an enemy, it destroys him; he simply dissipates in it.

Yoga memiliki pandangan yang berbeda – berlawanan dengan pikiran umum. Pikiran umum dihancurkan oleh keinginannya sendiri, sehingga yoga mengatakan berhenti menginginkan, jadilah tanpa hasrat. Lawan keinginan dan ciptakan integrasi di dalam dirimu yang tanpa keinginan.

Yoga takes the opposite view – opposite to the ordinary mind. The ordinary mind is being destroyed by its own desires, so yoga says stop desiring, be desireless. Fight desire and create an integration in you which is desireless.

Tantra mengatakan sadari keinginan; jangan membuat perjuangan apapun. Bergerak dalam keinginan dengan kesadaran penuh, dan ketika engkau bergerak ke dalam keinginanmu dengan kesadaran penuh maka engkau melampauinya. Engkau di dalamnya dan masih tetap tidak berada di dalamnya. Engkau melewati itu, tapi engkau tetap di luar.

Tantra says be aware of the desire; do not create any fight. Move in desire with full consciousness, and when you move into desire with full consciousness you transcend it. You are into it and still you are not in it. You pass through it, but you remain an outsider.

Yoga lebih terlihat menarik karena yoga hanyalah kebalikan dari pemikiran yang umum, sehingga pemikiran yang umum dapat memahami bahasa yoga. Engkau tahu bagaimana seks menghancurkanmu – bagaimana ia telah menghancurkanmu, bagaimana engkau selalu berputar di sekitar itu seperti budak, seperti boneka. Engkau mengetahui ini dari pengalamanmu. Jadi ketika yoga mengatakan untuk melawannya, engkau segera memahami bahasanya. Itulah daya tarik, daya tarik yoga.

Yoga appeals much because yoga is just the opposite of the ordinary mind, so the ordinary mind can understand the language of yoga. You know how sex is destroying you – how it has destroyed you, how you go on revolving around it like a slave, like a puppet. You know this by your experience. So when yoga says fight it, you immediately understand the language. That is the appeal, the easy appeal of yoga.

Tantra tidak dapat menjadi begitu menarik. Ini sepertinya sulit: bagaimana untuk melakukan keinginan tanpa menjadi kewalahan oleh itu? Bagaimana melakukan hubungan seks secara sadar, dengan kesadaran penuh? Pemikiran yang biasa menjadi takut. Ini sepertinya berbahaya. Bukan berarti itu berbahaya; apapun yang engkau tahu tentang seks menciptakan bahaya bagimu. Engkau mengetahui dirimu sendiri, Engkau tahu bagaimana engkau dapat menipu diri sendiri. Engkau tahu betul bahwa pikiranmu licik. Engkau dapat bergerak dalam keinginan, dalam seks, dalam segala hal, dan engkau dapat menipu diri sendiri bahwa engkau sedang bergerak dengan penuh kesadaran. Itulah mengapa engkau merasakan bahayanya.

Tantra can not be so easily appealing. It seems difficult: how to move into desire without being overwhelmed by it? How to be in the sex act consciously, with full awareness? The ordinary mind becomes afraid. It seems dangerous. Not that it is dangerous; whatsoever you know about sex creates this danger for you. You know yourself, you know how you can deceive yourself. You know very well that your mind is cunning. You can move in desire, in sex, in everything, and you can deceive yourself that you are moving with full awareness. That is why you feel the danger.

Bahayanya tidak berada di dalam tantra; itu adalah di dalam dirimu. Dan daya tarik yoga adalah karena dirimu, karena pemikiranmu yang biasa, seks-mu ditekan, engkau menjadi haus-seks. Karena pemikiran umum tidak memiliki pemikiran yang sehat tentang seks, yoga memiliki daya tarik. Dengan kemanusiaan yang lebih baik, dengan seks yang sehat – alami, normal – kasusnya akan berbeda. Kita tidak normal dan alami. Kita benar-benar tidak normal, tidak sehat, benar-benar gila. Tapi karena semua orang lain juga seperti kita, kita tidak pernah merasakannya.

The danger is not in tantra; it is in you. And the appeal of yoga is because of you, because of your ordinary mind, your sex-suppressed, sex-starved, sex-indulging mind. Because the ordinary mind is not healthy about sex, yoga has an appeal. With a better humanity, with a healthy sex – natural, normal – the case would be different. We are not normal and natural. We are absolutely abnormal, unhealthy, really insane. But because everyone is like us, we never feel it.

Kegilaan menjadi hal yang begitu biasa sehingga tidak menjadi gila adalah tidak normal. Seorang Buddha adalah tidak normal, Seorang Yesus adalah tidak normal bagi kita. Mereka bukan milik kita. Hal “normal” ini adalah penyakit. Pemikiran “normal” ini telah menciptakan daya tarik yoga. Jika engkau memandang seks secara alami – tanpa filosofi di sekitarnya, tanpa filosofi atau pun menentang – jika engkau menerima seks sama seperti engkau menerima tanganmu, matamu; jika itu diterima sebagai hal yang benar-benar alami, maka tantra akan memiliki daya tarik. Dan hanya ketika itu tantra dapat berguna bagi banyak orang.

Madness is so normal that not to be mad may look abnormal. A Buddha is abnormal, a Jesus is abnormal amidst us. They do not belong to us. This ”normalcy” is a disease. This ”normal” mind has created the appeal of yoga. If you take sex naturally – with no philosophy around it, with no philosophy for or against – if you take sex as you take your hands, your eyes; if it is totally accepted as a natural thing, then tantra will have an appeal. And only then can tantra be useful for many.

Tapi hari-hari tantra akan datang. Cepat atau lambat tantra akan meledak untuk pertama kalinya di masyarakat, karena untuk pertama kalinya waktunya akan menjadi matang – matang untuk kita menerima seks secara alami. Mungkin ledakan itu dimulai dari Barat, karena Freud, Jung, Reich, mereka telah mempersiapkan latar belakangnya. Mereka tidak mengetahui apa-apa tentang tantra, tapi mereka telah membuat dasar untuk tantra dapat berkembang. Psikologi Barat telah sampai pada kesimpulan bahwa dasar dari penyakit manusia adalah di sekitar seks, kegilaan dasar manusia adalah berorientasi seks.

But the days of tantra are coming. Sooner or later tantra will explode for the first time in the masses, because for the first time the time is ripe – ripe to take sex naturally. It is possible that the explosion may come from the West, because Freud, Jung, Reich, they have prepared the background. They did not know anything about tantra, but they have made the basic ground for tantra to evolve. Western psychology has come to a conclusion that the basic human disease is somewhere around sex, the basic insanity of man is sex-oriented.

Jadi kecuali orientasi seks dibubarkan, manusia tidak bisa menjadi alami, normal. Kesalahan manusia adalah karena sikap-nya tentang seks. Tidak ada sikap yang dibutuhkan. Hanya setelahnya engkau menjadi alami. Apa sikap yang telah engkau miliki terhadap matamu? Apakah mereka iblis atau ilahi? Apakah engkau mendukung atau menentang mereka? Tidak ada sikap! Itulah mengapa matamu normal.

So unless this sex orientation is dissolved, man cannot be natural, normal. Man has gone wrong only because of his attitudes about sex. No attitude is needed. Only then are you natural. What attitude have you about your eyes? Are they evil or are they divine? Are you for your eyes or against them? There is no attitude! That is why your eyes are normal.

image108

Coba ambil beberapa sikap – pikirkan bahwa mata itu jahat. Kemudian melihat akan menjadi sulit. Kemudian melihat akan menjadi bermasalah sama seperti seks. Kemudian engkau akan ingin melihat, engkau akan berhasrat untuk melihat. Tapi ketika engkau melihat engkau akan merasa bersalah. Setiap kali engkau melihat engkau akan merasa bahwa engkau telah melakukan sesuatu yang salah, bahwa engkau telah berdosa. Engkau menjadi sangat ingin membunuh alat pengelihatanmu; engkau ingin menghancurkan matamu. Dan semakin engkau ingin menghancurkan matamu, semakin engkau akan menjadi berpusat padanya. Kemudian engkau akan memulai kegiatan yang sangat tidak masuk akal. Engkau akan ingin melihat lebih banyak dan lebih lagi, dan secara simultan engkau akan merasa lebih dan lebih bersalah. Hal yang sama telah terjadi dengan pusat seks.

Take some attitude – think that eyes are evil. Then seeing will become difficult. Then seeing will take the same problematic shape that sex has taken. Then you will want to see, you will desire and you will hanker to see. But when you see you will feel guilty. Whenever you see you will feel guilty that you have done something wrong, that you have sinned. You would like to kill your very instrument of seeing; you would like to destroy your eyes. And the more you want to destroy them, the more you will become eye centered. Then you will start a very absurd activity. You will want to see more and more, and simultaneously you will feel more and more guilty. The same has happened with the sex center.

Tantra mengatakan, terima apapun dirimu. Ini adalah catatan dasar – penerimaan total. Dan hanya melalui penerimaan total engkau dapat tumbuh. Kemudian gunakan setiap energi yang engkau miliki. Bagaimana engkau dapat menggunakannya? Terima mereka, kemudian cari tahu apakah energi ini – apakah seks itu, apakah fenomena ini. Kita tidak mengenal hal ini. Kita tahu banyak tentang seks, diajarkan oleh orang lain. Kita mungkin telah melalui hubungan seks, tetapi dengan pikiran bersalah, dengan sikap represif, dengan tergesa-gesa, terburu-buru. Sesuatu harus dilakukan dengan tanpa beban. Aktivitas seks tidak menjadi aktivitas yang penuh kasih. Engkau tidak bahagia di dalamnya, tetapi engkau tidak dapat meninggalkannya. Semakin engkau mencoba untuk meninggalkannya, semakin itu menjadi menarik bagimu. Semakin engkau ingin meniadakan itu, semakin engkau merasa diundang.

Tantra says, accept whatsoever you are. This is the basic note – total acceptance. And only through total acceptance can you grow. Then use every energy you have. How can you use them? Accept them, then find out what these energies are – what is sex, what is this phenomenon. We are not acquainted with it. We know many things about sex, taught by others. We may have passed through the sex act, but with a guilty mind, with a suppressive attitude, in haste, in a hurry. Something has to be done in order to become unburdened. The sex act is not a loving act. You are not happy in it, but you cannot leave it. The more you try to leave it, the more attractive it becomes. The more you want to negate it, the more you feel invited.

Engkau tidak dapat meniadakan itu, tapi sikap untuk meniadakan ini, menghancurkan, sangat menghancurkan pikiran, menghancurkan kesadaran terdalam, sensitivitas terdalam yang dapat engkau pahami. Jadi seks berjalan tanpa ada sensitivitas di dalamnya. Maka engkau tidak dapat memahaminya. Hanya kepekaan yang dapat memahami apapun; hanya perasaan yang mendalam, yang bergerak jauh ke dalam, yang dapat memahami apapun. Engkau hanya dapat memahami seks jika engkau bergerak di dalamnya seperti seorang penyair yang bergerak di tengah bunga-bunga – hanya sesudahnya! Jika engkau merasa bersalah tentang bunga, engkau mungkin melewati taman, tetapi engkau akan melewatinya dengan mata tertutup. Dan engkau akan terburu-buru, tergesa-gesa, seperti sedang marah. Entah bagaimana engkau merasa harus keluar dari kebun itu. Lalu bagaimana engkau dapat berada dalam kesadaran?

You cannot negate it, but this attitude to negate, to destroy, destroys the very mind, the very awareness, the very sensitivity which can understand it. So sex goes on with no sensitivity into it. Then you cannot understand it. Only a deep sensitivity can understand anything; only a deep feeling, a deep moving into it, can understand anything. You can understand sex only if you move in it as a poet moves amidst flowers – only then! If you feel guilty about flowers, you may pass through the garden, but you will pass with closed eyes. And you will be in a hurry, in a deep, mad haste. Somehow you have to go out of the garden. Then how can you be aware?

Jadi tantra mengatakan, terima apapun dirimu. Engkau adalah misteri besar dari begitu banyak energi multidimensi. Menerimanya, dan bergerak dengan setiap energi dengan kepekaan, dengan kesadaran, dengan cinta, dengan pengertian. Bergerak dengan itu! Kemudian setiap keinginan akan menjadi kendaraan untuk melampauinya. Kemudian setiap energi ada untuk membantu. Dan kemudian dunia ini adalah nirwana, tubuh ini adalah kuil – kuil suci, tempat suci.

So tantra says, accept whatsoever you are. You are a great mystery of many multidimensional energies. Accept it, and move with every energy with deep sensitivity, with awareness, with love, with understanding. Move with it! Then every desire becomes a vehicle to go beyond it. Then every energy becomes a help. And then this very world is nirvana, this very body is a temple – a holy temple, a holy place.

Yoga adalah negasi; tantra adalah penegasan. Yoga berpikir dalam hal dualitas – Itulah alasan untuk kata ‘yoga’. Itu berarti untuk menempatkan dua hal bersama-sama, untuk ‘yoke’ dua hal bersama-sama. Tapi ada dua hal; dualitas ada disana. Tantra mengatakan tidak ada dualitas. Jika ada dualitas, maka engkau tidak bisa menempatkan mereka bersama-sama. Dan bagaimanapun engkau mencoba mereka akan tetap ada dua. Bagaimanapun engkau mencoba untuk menempatkan mereka bersama mereka akan tetap dua, dan perlawanan akan terus berlanjut, dualisme akan tetap ada.

Yoga is negation; tantra is affirmation. Yoga thinks in terms of duality – that is the reason for the word ‘yoga’. It means to put two things together, to ‘yoke’ two things together. But two things are there; the duality is there. Tantra says there is no duality. If there is duality, then you cannot put them together. And howsoever you try they will remain two. Howsoever put together they will remain two, and the fight will continue, the dualism will remain.

Jika dunia dan ilahi adalah dua, kemudian mereka tidak akan bisa disatukan. Jika mereka tidak benar-benar dua, jika mereka hanya terlihat sebagai dua, maka mereka dapat menjadi yang satu. Jika tubuh dan jiwamu adalah dua, kemudian mereka tidak bisa disatukan. Jika engkau dan Tuhan adalah dua, maka tidak ada kemungkinan menempatkan mereka bersama-sama. Mereka akan tetap dua.

If the world and the divine are two, then they cannot be put together. If really they are not two, if they are only appearing as two, only then can they be one. If your body and your soul are two, then they cannot be put together. If you and God are two, then there is no possibility of putting them together. They will remain two.

Tantra mengatakan tidak ada dualitas; itu hanya penampilan. Jadi mengapa membantu penampilan untuk tumbuh lebih kuat? Tantra bertanya, mengapa membantu penampilan dualitas untuk tumbuh lebih kuat? Larutkan saat ini! Menjadi satu! Melalui penerimaan engkau menjadi satu, bukan melalui pertarungan. Terima dunia, terima tubuh, terima segala sesuatu yang melekat di dalamnya. Jangan membuat pusat yang berbeda pada dirimu sendiri, karena pusat yang berbeda itu menurut tantra hanyalah ego. Jangan menciptakan ego. Hanya sadari dirimu. Jika engkau melawan, maka ego akan berada di sana.

Tantra says there is no duality; it is only an appearance. So why help appearance to grow stronger? Tantra asks, why help this appearance of duality to grow stronger? Dissolve it this very moment! Be one! Through acceptance you become one, not through fight. Accept the world, accept the body, accept everything that is inherent in it. Do not create a different center in yourself, because for tantra that different center is nothing but the ego. Do not create an ego. Just be aware of what you are. If you fight, then the ego will be there.

Jadi sulit untuk menemukan seorang yogi yang tidak egois. Dan para yogi dapat terus berbicara tentang tanpa ego, tetapi mereka tidak bisa tanpa ego. Proses pertama yang mereka lalui menciptakan ego. Pertarungan adalah proses. Jika engkau melawan, engkau terikat untuk membuat ego. Dan semakin engkau melawan, egomu akan semakin diperkuat. Dan jika engkau memenangkan pertarunganmu, maka engkau akan mencapai ego tertinggi.

So it is difficult to find a yogi who is not an egoist. And yogis may go on talking about egolessness, but they cannot be egoless. The very process they go through creates the ego. The fight is the process. If you fight, you are bound to create an ego. And the more you fight, the more strengthened the ego will be. And if you win your fight, then you will achieve the supreme ego.

Tantra mengatakan, jangan melawan! Maka tidak ada kemungkinan bagi ego. Jika kita memahami tantra akan ada banyak masalah, karena bagi kita, jika tidak ada pertarungan hanya akan ada pengumbaran diri. Tidak berjuang bagi kita adalah mengumbar. Lalu kita menjadi takut. Kita telah melakukan pengumbaran dalam hidup ini dan kita tidak mencapai kemana-mana. Tapi untuk tantra mengumbar itu tidak berarti mengumbar seperti yang kita pahami. Tantra mengatakan mengumbar, tapi dengan kesadaran.

Tantra says, no fight! Then there is no possibility of the ego. If we understand tantra there will be many problems, because for us, if there is no fight there is only indulgence. No fight means indulgence for us. Then we become afraid. We have indulged for lives together and we have reached nowhere. But for tantra indulgence is not ”our” indulgence. Tantra says indulge, but be aware.

Engkau marah … tantra tidak akan mengatakan jangan marah. Tantra akan mengatakan marahlah dengan sepenuh hati, tapi dengan kesadaran. Tantra tidak menentang kemarahan, tantra hanya menentang ketidakterjagaan spiritual, ketidaksadaran spiritual. Jadilah sadar dan marahlah. Dan ini adalah rahasia dari metode ini – maka jika engkau menyadari kemarahan itu akan di-transformasi-kan: itu akan menjadi kasih sayang. Jadi tantra mengatakan kemarahan bukan musuhmu; itu adalah kasih sayang dalam bentuk biji. Kemarahan yang sama, energi yang sama, akan menjadi kasih sayang.

You are angry… tantra will not say do not be angry. Tantra will say be angry wholeheartedly, but be aware. Tantra is not against anger, tantra is only against spiritual sleepiness, spiritual unconsciousness. Be aware AND be angry. And this is the secret of the method – that if you are aware anger is transformed: it becomes compassion. So tantra says anger is not your enemy; it is compassion in seed form. The same anger, the same energy, will become compassion.

Jika engkau melawannya, lalu tidak akan ada kemungkinan untuk kasih sayang. Jadi, jika engkau berhasil dalam pertempuran, dalam penekanan, engkau akan menjadi orang yang sudah mati. Tidak akan ada kemarahan karena engkau telah menekannya, tapi juga tidak akan ada belas kasih karena hanya kemarahan yang dapat berubah menjadi kasih sayang. Jika engkau berhasil dalam penekananmu – yang itu mungkin saja – Kemudian tidak akan ada seks, tapi juga tidak akan ada cinta, karena dengan matinya seks maka tidak ada energi yang dapat tumbuh menjadi cinta. Jadi, engkau akan menjadi tanpa seks, tetapi engkau juga tanpa cinta. Dan kemudian seluruh point nya terlewatkan, karena tanpa cinta tidak ada keilahian, tanpa cinta tidak ada pembebasan, dan tanpa cinta tidak akan ada kebebasan.

If you fight with it, then there will be no possibility for compassion. So if you succeed in fighting, in suppression, you will be a dead man. There will be no anger because you have suppressed it, but there will be no compassion either because only anger can be transformed into compassion. If you succeed in your suppression – which is impossible – then there will be no sex, but no love either, because with sex dead there is no energy to grow into love. So you will be without sex, but you will also be without love. And then the whole point is missed, because without love there is no divineness, without love there is no liberation, and without love there is no freedom.

Tantra mengatakan energi yang sama ini harus di transformasi-kan. Hal ini dapat dikatakan dengan cara ini: jika engkau melawan dunia, maka tidak akan ada nirwana – karena dunia ini sendiri adalah untuk untuk di transformasi-kan menjadi nirwana. Maka engkau melawan energi dasar yang adalah merupakan sumber.

Tantra says that these same energies are to be transformed. It can be said in this way: if you are against the world, then there is no nirvana – because this world itself is to be transformed into nirvana. Then you are against the basic energies which are the source.

Jadi alkimia tantra mengatakan, jangan melawan, jadilah ramah dengan semua energi yang diberikan kepadamu. Sambut mereka. Merasa bersyukurlah bahwa engkau memiliki kemarahan, bahwa engkau memiliki seks, bahwa engkau memiliki keserakahan. Merasa bersyukurlah bahwa ini adalah sumber tersembunyi, dan mereka dapat di transformasi-kan, mereka dapat dibuka kuncinya. Dan jika seks bertransformasi itu akan menjadi cinta. Racunnya hilang, keburukannya hilang.

So tantric alchemy says, do not fight, be friendly with all the energies that are given to you. Welcome them. Feel grateful that you have anger, that you have sex, that you have greed. Feel grateful because these are the hidden sources, and they can be transformed, they can be opened. And when sex is transformed it becomes love. The poison is lost, the ugliness is lost.

Benih itu tidak indah bentuknya, tetapi ketika ia tumbuh dan berbunga. Maka ada keindahan. Jangan membuang benih, karena kemudian engkau juga sama saja dengan membuang bunga yang ada di dalamnya. Mereka belum ada di sana, belum terwujud sehingga engkau dapat melihatnya. Mereka belum bermanifestasi, tapi mereka ada. Gunakan benih ini sehingga engkau dapat mencapai bunga. Jadi yang pertama biarlah ada penerimaan, pemahaman dari sebuah kesensitifan dan kesadaran. Kemudian mengumbarnya diperbolehkan.

The seed is ugly, but when it becomes alive it sprouts and flowers. Then there is beauty. Do not throw away the seed, because then you are also throwing the flowers in it. They are not there yet, not yet manifest so that you can see them. They are unmanifest, but they are there. Use this seed so that you can attain to flowers. So first let there be acceptance, a sensitive understanding and awareness. Then indulgence is allowed.

Satu hal lagi yang benar-benar sangat aneh, tapi merupakan salah satu penemuan terdalam dari tantra, dan itu adalah: apapun yang engkau pandang sebagai musuhmu – keserakahan, kemarahan, kebencian, seks, apapun itu – sikapmu bahwa mereka semua adalah musuh yang membuat mereka menjadi musuhmu. Terima mereka sebagai hadiah ilahi dan dekati mereka dengan hati yang penuh rasa syukur. Misalnya, tantra telah mengembangkan banyak teknik untuk transformasi energi seksual. Lakukan pendekatan dengan hubungan seks seolah-olah engkau sedang mendekati kuil ilahi. Dekati hubungan seks seolah-olah itu adalah doa, seolah-olah itu adalah meditasi. Rasakan kesuciannya.

One thing more which is really very strange, but one of the deepest discoveries of tantra, and that is: whatsoever you take as your enemies – greed, anger, hate, sex, whatsoever – your attitude that they are enemies makes them your enemies. Take them as divine gifts and approach them with a very grateful heart. For example, tantra has developed many techniques for the transformation of sexual energy. Approach the sex act as if you are approaching the temple of the divine. Approach the sex act as if it is prayer, as if it is meditation. Feel the holiness of it.

Itulah sebabnya di Khajuraho, di Puri, di Konark, setiap kuil memiliki MAITHUN, patung hubungan seksual. Hubungan seks di dinding kuil sepertinya tidak logis, khususnya untuk Kristen, Islam, untuk Jainisme. Ini sepertinya tak terbayangkan, bertentangan. Bagaimana sebuah kuil dapat terhubung dengan gambaran maithun? Pada dinding luar kuil Khajuraho, setiap jenis aktivitas seks digambarkan pada batu. Mengapa? Dalam sebuah kuil hal ini tidak memiliki tempat di manapun, setidaknya demikian dalam pikiran kita. Kekristenan tidak dapat membayangkan dinding gereja dengan gambar Khajuraho. Mustahil!

That is why in Khajuraho, in Puri, in Konark, every temple has MAITHUN, intercourse sculptures. The sex act on the walls of temples seems illogical, particularly for Christianity, for Islam, for Jainism. It seems inconceivable, contradictory. How is the temple connected with maithun pictures? On the outer walls of the Khajuraho temples, every conceivable type of sex act is pictured in stone. Why? In a temple it doesn’t have any place, in our minds at least. Christianity cannot conceive of a church wall with Khajuraho pictures. Impossible!

Hindu modern juga merasa bersalah karena pikiran Hindu modern telah diciptakan oleh Kristen. Mereka adalah “Hindu-Kristen” – dan mereka lebih buruk, karena untuk menjadi seorang Kristen itu baik, tetapi untuk menjadi seorang Hindu-Kristen adalah hal yang aneh. Mereka merasa bersalah. Salah satu pemimpin Hindu, Purshottamdas Tandon, bahkan mengusulkan bahwa kuil ini harus dihancurkan, karena itu bukan milik kita. Sungguh, sepertinya semua itu bukan milik kita karena tantra belum berkunjung lagi di dalam hati kita untuk waktu yang lama, setelah berabad-abad. Ini belum menjadi arus utama. Yoga sudah menjadi arus utama, dan untuk yoga Khajuraho itu tidak dapat dibayangkan – itu harus dihancurkan.

Modern Hindus also feel guilty because the minds of modern Hindus are created by Christianity. They are ”Hindu-Christians” – and they are worse, because to be a Christian is good, but to be a Hindu-Christian is just weird. They feel guilty. One Hindu leader, Purshottamdas Tandon, even proposed that these temples should be destroyed, that they do not belong to us. Really, it looks like they do not belong to us because tantra has not been in our hearts for a long time, for centuries. It has not been the main current. Yoga has been the main current, and for yoga Khajuraho is inconceivable – it must be destroyed.

Tantra mengatakan, dekati hubungan seks seolah-olah engkau sedang memasuki kuil suci. Itulah sebabnya mereka memiliki gambaran hubungan seks di kuil-kuil suci mereka. Mereka berkata, lakukan pendekatan seks seperti ketika engkau akan memasuki kuil suci. Jadi, saat engkau memasuki kuil suci seks harus berada di sana dalam rangka yang dua menjadi satu dalam pikiranmu, berasosiasi. Kemudian engkau bisa merasakan bahwa dunia dan unsur-unsur ilahi bukan dua yang saling bertentangan, tapi adalah satu. Mereka tidak bertentangan, mereka hanya polaritas berlawanan yang hanya saling membantu. Dan mereka bisa eksis hanya karena ada polaritas ini. Jika polaritas ini hilang, seluruh dunia hilang. Jadi lihatlah kesatuan yang berjalan melalui segala sesuatu. Jangan hanya melihat kutub yang berlawanan, lihat apa yag berada di kedalamannya yang saat ini berjalan yang membuat mereka satu.

Tantra says, approach the sex act as if you are entering a holy temple. That is why they have pictured the sex act on their holy temples. They have said, approach sex as if you are entering a holy temple. Thus, when you enter a holy temple sex must be there in order that the two become conjoined in your mind, associated. Then you can feel that the world and the divine are not two fighting elements, but one. They are not contradictory, they are just polar opposites helping each other. And they can exist only because of this polarity. If this polarity is lost, the whole world is lost. So see the deep oneness running through everything. Do not see only the polar opposites, see the inner running current which makes them one.

Untuk Tantra semuanya suci. Ingat ini, untuk tantra SEMUANYA adalah suci; tidak ada yang tidak suci.

For tantra everything is holy. Remember this, for tantra EVERYTHING is holy; nothing is unholy.

Lihatlah dengan cara ini: untuk orang tak beragama, semuanya tidak suci; untuk yang disebut umat beragama ada sesuatu yang suci, dan sesuatu yang tidak suci.

Look at it this way: for an irreligious person, everything is unholy; for so-called religious persons something is holy, something is unholy.

Untuk tantra, semuanya suci.

For tantra, everything is holy.

Salah satu misionaris Kristen bersama dengan saya beberapa hari yang lalu dan ia berkata, “Tuhan menciptakan dunia.” Jadi saya bertanya kepadanya, “Siapa yang menciptakan dosa?” Dia berkata, “Sang Iblis.”

One Christian missionary was with me a few days ago and he said, ”God created the world.” So I asked him, ”Who created sin?” He said, ”The devil.”

Lalu saya bertanya kepadanya, “Siapa yang menciptakan iblis?” Kemudian ia menjadi bingung. Dan berkata, “Tentu saja, Tuhan menciptakan iblis.”

Then I asked him, ”Who created the devil?” Then he was at a loss. He said, ”Of course, God created the devil.”

Iblis menciptakan dosa dan Tuhan menciptakan si iblis. Kemudian siapa yang berdosa sebenarnya – iblis atau Tuhan? Tapi konsep dualis selalu mengarah ke absurditas tersebut. Untuk tantra Tuhan dan iblis bukan dua. Sungguh, untuk tantra tidak ada yang bisa disebut “Iblis”, semuanya ilahi, semuanya suci. Dan ini tampaknya dapat menjadi sudut pandang yang tepat, yang terdalam. Jika ada sesuatu yang tidak suci di dunia ini, dari mana asalnya dan bagaimana bisa?

The devil creates sin and God creates the devil. Then who is the real sinner – the devil or God? But the dualist conception always leads to such absurdities. For tantra God and the devil are not two. Really, for tantra there is nothing that can be called ”devil”, everything is divine, everything is holy. And this seems to be the right standpoint, the deepest. If anything is unholy in this world, from where does it come and how can it be?

Jadi hanya ada dua alternatif. Pertama, alternatif atheist yang mengatakan semuanya tidak suci. Sikap ini tidak apa-apa. Ia adalah juga non-dualis; ia melihat tidak ada kesucian dalam dunia. Lalu ada alternatif tantra – yang mengatakan semuanya suci. Tantra adalah juga non-dualis. Tapi antara kedua ini ada yang disebut umat beragama, yang tidak benar-benar religius. Mereka tidak religius atau religius karena mereka selalu ada di dalam konflik. Seluruh teologi mereka hanya untuk sampai keujungnya, dan ujung itu tidak dapat bertemu.

So only two alternatives are there. First, the alternative of the atheist who says everything is unholy. This attitude is okay. He is also a non-dualist; he sees no holiness in the world. Then there is the tantric’s alternative – he says everything is holy. He is also a non-dualist. But between these two are the so-called religious persons, who are not really religious. They are neither religious nor irreligious because they are always in a conflict. Their whole theology is just to make ends meet, and those ends cannot meet.

Jika satu sel, atom tunggal di dunia ini tidak suci, maka seluruh dunia menjadi tidak suci, karena bagaimana mungkin atom tunggal tersebut dapat eksis dalam dunia yang suci? Bagaimana bisa begitu? Adalah didukung oleh segala sesuatu; untuk menjadi, itu harus didukung oleh segala sesuatu. Dan jika elemen yang tidak suci didukung oleh semua elemen suci, lalu apa perbedaan di antara mereka? Jadi apakah dunia ini suci secara total, tanpa syarat, atau tidak suci sama sekali; tidak ada jalan tengah.

If a single cell, a single atom in this world is unholy, then the whole world becomes unholy, because how can that single atom exist in a holy world? How can it be? It is supported by everything; to be, it has to be supported by everything. And if the unholy element is supported by all the holy elements, then what is the difference between them? So either the world is holy totally, unconditionally, or it is unholy; there is no middle path.

Tantra mengatakan semuanya suci, Itulah sebabnya kita tidak bisa memahami itu. Ini adalah sudut pandang non-dual terdalam – jika kita bisa menyebutnya sebagai sudut pandang. Tapi tidak demikian, karena setiap sudut pandang terikat untuk menjadi ganda. Tantra tidak berlawanan dengan apa-apa, sehingga tidak ada sudut pandang. Ia merupakan rasa kesatuan, kesatuan yang hidup.

Tantra says everything is holy, that is why we cannot understand it. It is the deepest non-dual standpoint – if we can call it a standpoint. It is not, because any standpoint is bound to be dual. It is not against anything, so it is not any standpoint. It is a felt unity, a lived unity.

Ada dua jalur, yoga dan tantra. Tantra tidak bisa terlihat begitu menarik karena pikiran kita yang lumpuh. Tapi ketika ada seseorang yang sehat di dalam dirinya, tidak kacau, tantra memiliki keindahan baginya. Hanya ia yang dapat memahami apa itu tantra. Yoga memiliki daya tarik, daya tarik yang mudah terlihat, karena pikiran kita yang terganggu.

These are two paths, yoga and tantra. Tantra could not be so appealing because of our crippled minds. But whenever there is someone who is healthy inside, not a chaos, tantra has a beauty. Only he can understand what tantra is. Yoga has appeal, an easy appeal, because of our disturbed minds.

Ingat, itu adalah pikiranmu yang pada akhirnya membuat sesuatu menjadi menarik atau tidak menarik. Ini adalah engkau sendiri yang merupakan faktor penentu.

Remember, it is ultimately your mind which makes anything attractive or unattractive. It is you who is the deciding factor.

Pendekatan ini berbeda. Aku tidak mengatakan bahwa seseorang tidak bisa mencapainya melalui yoga. Seseorang juga dapat mencapainya melalui yoga, tapi tidak melalui yoga yang lazim. Yoga yang lazim adalah bukan benar-benar yoga, tetapi itu adalah interpretasi pikiranmu yang sakit. Yoga bisa menjadi pendekatan yang otentik sampai ke tujuan akhir, tapi itu juga hanya menjadi mungkin jika pikiranmu sehat, ketika pikiranmu tidak sakit. Kemudian yoga akan memberikan bentuk yang berbeda.

These approaches are different. I am not saying that one cannot reach through yoga. One can reach through yoga also, but not through the yoga which is prevalent. The yoga which is prevalent is not really yoga, but the interpretation of your diseased minds. Yoga can be authentically an approach toward the ultimate, but that too is only possible when your mind is healthy, when your mind is not diseased and ill. Then yoga takes a different shape.

Misalnya, Mahavir ada di jalan yoga, tapi ia tidak benar-benar menekan seks. Dia tahu itu, dia sudah hidup dengan itu, dia sangat mengenalnya. Tapi akhirnya seks menjadi tidak berguna lagi baginya, sehingga seks jatuh. Buddha ada di jalan yoga, tapi ia sudah hidup melalui dunia, dia sangat mengenalnya. Dia tidak melawannya.

For example, Mahavir was on the path of yoga, but he was not really suppressing sex. He had known it, he had lived it, he was deeply acquainted with it. But it became useless to him, so it dropped. Buddha was on the path of yoga, but he had lived through the world, he was deeply acquainted with it. He was not fighting.

Setelah engkau mengetahui sesuatu engkau menjadi bebas darinya. Itu hanya akan jatuh seperti daun-daun kering jatuh dari pohon. Ini bukan penolakan; tidak ada pertarungan sama sekali. Lihatlah wajah Buddha – tidak terlihat seperti wajah seorang petarung. Dia tidak bertarung. Dia begitu santai; wajahnya adalah lambang relaksasi … tidak ada pertarungan.

Once you know something you become free from it. It simply drops like dead leaves dropping from a tree. It is not renunciation; there is no fight involved at all. Look at Buddha’s face – it doesn’t look like the face of a fighter. He has not been fighting. He is so relaxed; his face is the very symbol of relaxation… no fight.

Lihatlah para yogi-mu. Pertarungan jelas nampak di wajah mereka. Dalam hati ada banyak gejolak – mereka sekarang duduk di gunung berapi. Engkau dapat melihat di mata mereka, di wajah mereka, dan engkau akan merasakannya. Jauh di suatu tempat mereka menekan semua penyakit mereka; mereka belum melampaui.

Look at your yogis. The fight is apparent on their faces. Deep down much turmoil is there – right now they are sitting on volcanos. You can look in their eyes, in their faces, and you will feel it. Deep down somewhere they have suppressed all their diseases; they have not gone beyond.

Dalam dunia yang sehat, dimana setiap orang hidup secara otentik, secara individual, tidak meniru orang lain, tetapi menjalani hidupnya sendiri dengan caranya sendiri, keduanya mungkin. Mereka dapat mempelajari kepekaan yang akan melampaui keinginan; mereka mungkin sampai ke titik di mana semua keinginan jatuh dan menjadi sia-sia. Yoga juga dapat membawa kesini, tetapi bagi ku yoga akan mengarah ke dunia yang sama dimana tantra bisa mengarah ke sana – ingat ini. Kita membutuhkan pikiran yang sehat, manusia yang alami. Dalam dunia dimana ada manusia yang alami, tantra, dan juga yoga, akan membawa kita melampaui keinginan.

In a healthy world, where everyone is living his life authentically, individually, not imitating others but living his own life in his own way, both are possible. He may learn the deep sensitivity which transcends desires; he may come to a point where all desires become futile and drop. Yoga can also lead to this, but to me yoga will lead to it in the same world where tantra can lead to it – remember this. We need a healthy mind, a natural man. In that world where a natural man is, tantra, and yoga also, will lead to transcendence of desires.

Dalam masyarakat kita yang sakit, baik yoga maupun tantra tidak dapat melakukan hal ini, jika kita memilih yoga kita memilihnya bukan dikarenakan keinginan kita yang telah menjadi tak berguna – bukan! Mereka masih bermakna; mereka belum jatuh dengan sendirinya. Kita harus memaksa mereka. Jika kita memilih yoga, kita memilihnya sebagai teknik penekanan. Jika kita memilih tantra, kita memilih tantra karena kelicikan, sebagai penipuan yang dalam – alasan untuk mengumbar dan memanjakan.

In our so-called ill society, neither yoga nor tantra can do this, because if we choose yoga we do not choose it because desires have become useless – no! They are still meaningful; they are not dropping by themselves. We have to force them. If we choose yoga, we choose it as a technique of suppression. If we choose tantra, we choose tantra as a cunningness, as a deep deception – an excuse to indulge.

Dengan pikiran yang tidak sehat baik yoga maupun tantra tidak bisa bekerja. Mereka hanya akan mengakibatkan penipuan. Pikiran yang sehat, terutama pikiran seksual yang sehat, diperlukan untuk memulainya. Kemudian tidak terlalu sulit untuk memilih jalanmu. Engkau dapat memilih yoga, engkau dapat memilih tantra.

So with an unhealthy mind neither yoga nor tantra can work. They will both lead to deceptions. A healthy mind, particularly a sexually healthy mind, is needed to start with. Then it is not very difficult to choose your path. You can choose yoga, you can choose tantra.

Pada dasarnya ada dua jenis manusia, pria dan wanita. Aku tidak bermaksud biologis, namun secara psikologis. Untuk mereka yang secara psikologis dasarnya laki-laki – yang agresif, dengan kekerasan, ekstrovert – yoga adalah jalan mereka. Untuk mereka yang dasarnya feminin, menerima, pasif, non-kekerasan, tantra adalah jalan mereka. Jadi engkau dapat memperhatikan itu: untuk tantra, Ibu Kali, Tara, dan begitu banyak DEVIS, BHAIRAVIS – dewi perempuan – adalah sangat signifikan. Dalam yoga engkau tidak akan pernah mendengar nama dari dewi feminin. Tantra memiliki dewi feminin; yoga memiliki dewa laki-laki. Yoga adalah energi keluar; energi tantra bergerak ke dalam. Jadi engkau bisa mengatakan dalam terminologi psikologi modern yoga adalah ekstrovert dan tantra adalah introvert. Jadi itu tergantung pada kepribadian. Jika engkau memiliki kepribadian introvert, maka perlawanan bukan untukmu. Jika engkau memiliki kepribadian ekstrovert, maka perlawanan adalah untukmu.

There are two types of persons basically, male and female. I do not mean biologically, but psychologically. For those who are psychologically basically male – aggressive, violent, extrovert – yoga is their path. For those who are basically feminine, receptive, passive, non-violent, tantra is their path. So you may note it: for tantra, Mother Kali, Tara, and so many DEVIS, BHAIRAVIS – female deities – are very significant. In yoga you will never hear mentioned any name of a feminine deity. Tantra has feminine deities; yoga has male gods. Yoga is outgoing energy; tantra is energy moving inwards. So you can say in modern psychological terms that yoga is extrovert and tantra is introvert. So it depends on the personality. If you have an introverted personality, then fight is not for you. If you have an extroverted personality, then fight is for you.

Tapi kita bingung, kita berantakan; itu sebabnya tidak ada yang dapat membantu. Pada yang bertentangan, semuanya mengganggu. Yoga akan mengganggumu, tantra akan mengganggumu. Setiap obat akan membuat penyakit baru untukmu karena pemilihnya sendiri yang sakit, penyakitan; sehingga hasil dari pilihannya akan menjadi penyakit. Jadi saya tidak bermaksud bahwa melalui yoga engkau tidak dapat mencapainya. Aku menekankan pada tantra hanya karena kita akan mencoba untuk memahami apakah tantra itu.

But we are just confused, we are just in a mess; that is why nothing helps. On the contrary, everything disturbs. Yoga will disturb you, tantra will disturb you. Every medicine is going to create a new illness for you because the chooser is ill, diseased; so the result of his choice will be illness. So I do not mean that through yoga you cannot reach. I emphasize tantra only because we are going to try to understand what tantra is.

Osho, Vigyana Bhairava Tantra, Chapter 2, The Path of Yoga and the Path of Tantra.

Subscribe to receive free email updates: