7 Syarat Yang Wajib Dilaksanakan Untuk Mewujudkan Satwika Yajña

HINDUALUKTA -- Pelaksanaan hari raya, seperti Galungan, Kuningan, Saraswati, dan Pagerwesi. Selain hal tersebut perlu juga diketahui bahwa pada prinsipnya yajña harus dilandasi oleh Sraddhā, ketulusan, kesucian, dan pelaksanaannya sesuai sastra agama serta dilaksanakannya sesuai dengan desa, kala, dan patra (tempat, waktu, dan keadaan). Dilihat dari kuantitasnya maka yajña dibedakan menjadi berikut:

Foto Widiastuy Kadek

a. Nista, artinya yajña tingkatan kecil. Tingkatan nista ini dibagi menjadi 3, yaitu :

  • Nistaning nista adalah terkecil di antarayang kecil
  • Madyaning nista adalah sedang di antara yang kecil
  • Utamaning nista adalah terbesar diantara yang kecil

b. Madya, artinya sedang, yang terdiri dari 3 tingkatan :

  • Nistaning madya adalah terkecil di antarayang sedang
  • Madyaning madya adalah sedang di antara yang sedang
  • Utamaning madya adalah terbesar diantara yang sedang

c. Utama, artinya besar, yang terdiri dari 3 tingkatan :

  • Nistaning utama adalah terkecil di antara yang besar
  • Madyaning utama adalah sedang di antara yang besar
  • Utamaning utama adalah yang paling besar


Keberhasilan sebuah yajña bukan dari besar kecilnya materi yang dipersembahkan, namun sangat ditentukan oleh kesucian dan ketulusan hati. Selain itu juga ditentukan oleh kualitas dari yadnya itu sendiri. Dalam Kitab Bhagavadgītā, XVII. 11, 12, 13 disebutkan ada tiga pembagian yajña yang dilihat dari kualitasnya, yaitu:

1. Tamasika yajña adalah yadnya yang dilaksanakan tanpa mengindahkan petunjuk-petunjuk sastra, mantra, kidung suci, daksina dan sradha.

2. Rajasika yajña adalah yadnya yang dilaksanakan dengan penuh harapan akan hasilnya dan bersifat pamer serta kemewahan.

3. Satwika yajña adalah yadnya yang dilaksanakan beradasarkan sraddhā, lascarya, sastra agama, daksina, mantra, gina annasewa, dan nasmita.

Pelaksanaan yajña di atas merupakan tingkatan korban suci yang dalam hal ini tergantung dari orang yang melakukan korban suci tersebut. Dari tiga kuliatas pelaksanaan yajña diatas, dijelaskan ada tujuh syarat yang wajib dilakasakan untuk mewujudkan sattwika yajña, yaitu sebagai berikut:

  1. Sraddhā, artinya melaksanakan yajña dengan penuh keyakinan. 
  2. Lascarya, artinya yajña yang dilaksanakan dengan penuh keiklasan. 
  3. Sastra, artinya melaksanakan yajña dengan berlandaskan sumber sastra, yaitu Sruti, Smrti, Sila, Acara dan Atmanastuti 
  4. Daksina, artinya pelaksanaan yajña dengan sarana upacara (benda dan uang) 
  5. Mantra dan gita artinya yajña yang dilaksanakan dengan melantunkan lagu lagu suci untuk pemujaan 
  6. Annasewa, artinya yajña yang dilaksanakan dengan persembahan jamuan makan kepada para tamu yang menghadiri upacara 
  7. Nasmita, artinya yajña yang dilaksanakan dengan tujuan bukan untuk memamerkan kemewahan dan kekayaan.

Dari unsur sarana atau upakara juga telah dijelaskan dalam kitab Bhagavadgītā, IX. 26, sebagai berikut:

Pattraṁ puṣhpaṁ phalaṁ toyaṁ, yo me bhaktyā prayacchati,tad ahaṁ bhaktyupahṛtam aśnāmi prayatātmanaḥ

Terjemahan:

Siapa yang sujud kepada-Ku dengan persembahan setangkai daum, sekuntum bunga, sebiji buah buahan atau seteguk air, Aku terima sebagai bhakti persembahan dari orang yang berhati suci (Pendit, 2002: 248).

Pelaksanaan korban suci yang tercantum dalam kitab suci Bhagavadgītā ini merupakan petunjuk dari sastra. Akan tetapi, mengingat bahwa ajaran Hindu bersifat fleksibel maka adanya berbagai sarana upakara yang digunakan oleh umat Hindu yang ada di Nusantara merupakan kekayaan kearifan lokal yang ada, sehingga penambahan ornamen seperti adanya canang, daksina, prayascita, durmanggala dan yang lainnya, ini merupakan produk budaya yang ada pada setiap daerah di Nusantara.

Subscribe to receive free email updates: