Pemberian Gelar Baru oleh Kolonial Belanda di Bali

HINDUALUKTA-- Setelah takluknya Kerajaan Klungkung pada perang puputan 1908 menandakan kemenangan kolonioal Belanda dan pemerintahan seluruh Bali beralih ke tangan Belanda terhitung sejak gugurnya Ida I Dewa Agung Jambe beserta seluruh ksatria pelindung Kreaton Smarajaya. 

Pada tanggal 1 Juli 1929, berdasarkan Staatsblaad No.226 Gouvenour Generaal van Nederland Indie, pemerintah Hindia Belanda membagi wilayah pulau Bali menjadi delapan daerah pemerintahan Landschaap sesuai dengan situasi dan kondisi sistem adat yang berlaku saat itu.

Para pejabat yang memegang masing-masing wilayah ini disebut Best Uurder, setingkat Bupati sekarang.

Pada tahun 1938 berdasarkan "Zelfbestuur Regeling tahun 1938" , merupakan usaha penyeragaman pemerintahan seluruh jajahan Hindia Belanda di Indonesia, disamping untuk mengambil hati para penguasa pribumi agar tetap setia kepada Belanda maka wilayah yang ada di Bali ditingkatkan menjadi Leadschaap yang sifatnya lebih mandiri dan otonom. sedangkan kepala pemerintahnya disebut Regent.

Untuk menyenangkan sehingga dengan mudah untuk dapat menguasai dan mengendalikan kapada pemerintah ini, maka berdasarkan keputusan Gubernur General Hindia Belanda No.21, tertanggal 7 Juli 1938 resmilah di Bali berdiri lagi Kerajaan baru bentukan Kolonial Belanda dengan kepala pemerintahan disebut Raja.

Untuk pertama kalinya yang diangkat oleh Belanda di kedelapan kerajaan tersebut menjadi raja sesuai dengan peraturan Belanda itu adalah:
  1. I Dewa Gde Oka Geg diangkat menjadi Raja Klungkung dengan gelar "Ida I Dewa Agung". Dengan demikian beliau sejak saat itu disebut Ida I Dewa Agung Gde Oka Geg.
  2. I Gusti Ngurah Alit diangkat menjadi Raja Badung dengan gelar "Tjokorda". Beliau sekarang dipanggil Tjokorda Ngurah Alit.
  3. I Gusti Ngurah Gde diangkat menjadi Raja Tabanan dengan gelar "Tjokorda", maka beliau setelah itu dipanggil Tjokorda Ngurah Gde.
  4. I Dewa Ngurah Ketut diangkat menjadi Raja Bangli dengan gelar "Anak Agung", jadi beliau sejak saat itu dipanggil Anak Agung Ngurah Ketut.
  5. I Dewa Ngurag Agung diangkat menjadi raja Gianyar dengan gelar "Anak Agung", jadi semenjak itu beliau dipanggil dengan Anak Agung Ngurah Agung.
  6. I Gusti Bagus Djelantik diangkat menjadi raja Karangasem dengan gelar "Anak Agung" dan sekarang beliau dipanggil Anak Agung Bagus Djelantik.
  7. I Gusti Bagus Negara diangakat menjadi raja Jembrana dengan gelar "Anak Agung", sehingga beliau dipanggil Anak Agung Bagus Negara.
  8. I Gusti Putu Djelantik diangkat menjadi Raja Buleleng dengan gelar "Anak Agung" sehingga sejak saat itu beliau dipanggil Anak Agung Putu Djelantik.
Jadi Tjokorda/Cokorda, Anak Agung sekarang bukanlah nama keturunan, tetapi merupakan sebuah gelar bagi mereka yang diangkat menjadi wakil Belanda oleh penjajah Belanda. gelar "Ida I Dewa Agung" diberikan kepada Raja Klungkung karena mengingat Klungkung merupakan pusat dari Kerajaan zaman dahulu. begitu pula dengan gelar Tjokorda dan Anak Agung diberikan kepada kerajaan lain karena dianggap kerajaan tersebut merupakan bawahan Klungkung.

Fenomena yang terjadi sekarang ialah maraknya penggantian nama maupun gelar di Bali, padahal jika dikaji lebih jauh nama raja ataupun leluhur terdahulu sangatlah berwibawa dan melegenda seperti nama "Gusti" dan "Ida I Dewa Agung", sebagai contoh yaitu: Raja Denpasar yang berperang Puputan dengan Heroismenya bernama "I Gusti Ngurah Made Agung". Raja Gianyar dahulu bergelar "Ida I Dewa Manggis Kuning/ Ida I Dewa Manggis Jorog". Gelar Raja Klungkung yang perang Puputan pada 1908 bernama "Ida I Dewa Agung Jambe". begitu wibawanya nama-nama beliau.

Seperti halnya pemakaian gelar "Dalem" lagi kepada Abhiseka Ratu di Puri Klungkung. hal yang perlu dikaji lebih dan ulang karena merujuk pada gelar "Ida Dalem" yang merupakan gelar pingit dari raja-raja dinasti Samprangan hingga Gelgel, namun pada saat perpindahan kerajaan ke Klungkung dan berdirinya Kraton Smarajaya gelar "Dalem" tidak dipakai lagi oleh Raja dan memilih menggunakan gelar "Ida I Dewa Agung". entah apa yang menjadi pertimbangan digunakan kembali gelar pingit "Dalem" oleh Puri Klungkung. Sudah jelas pada penobatan Ida I Dewa Oka Geg menjadi Regent di Klungkung memilih gelar "Ida I Dewa Agung".

Jika dibaca ulang babad Dalem, perlukisan raja Bali periode Samprangan hingga Gelgel merupakan raja yang berwibawa terlebih pada raja Dalem Waturenggong. gelar "Dalem" merupakan gelar bagi seorang Raja yang mendalami dharma agama dan dharma ksatria. Dharma Agama yaitu beliau yang mengayomi masyarakat dan berbakti layaknya seorang pandita maka beliau juga disebut seorang "Dalam" mendalami dan mengetahui agama secara mendalam, tata pemerintahan sebagai dharma negara dan mampu mensejahterakan rakyat. (Agung Joni)

Subscribe to receive free email updates: