Sikap Sikap yang Harus Dimiliki Pemimpin

Parasurama
Saphala sira raksakeng rat, tuwi sira mitra Hyang Indra bhakti temen,
Maheswara ta sira lana, Siwabhakti ginong lana ginawe.

              Artinya: seorang pemimpin bisa dikatan baik, harus bisa menjaga masyarakatnya dengan                   benar-benar menjalankan ajaran Dharma, taat kepada Maheswara dan bhakti kepada Hyang                 siwa.

Ikanang dhanurdhara kabeh, kapwa ya bhakti ri sira pranata matwang,
Kadi mawwata yasa lana, rupa nyan agong lana gawe.

         Artinya: seorang pemimpin yang biijaksana dan adil, untuk semua masyarakat yang dipimpinya          pasti akan hormat dan memberikan bhakti kepada pemimpinya.

jnana nira suddha kadi wulan, paratha gumawe suka nikang bhuwana,
Saksat Indra sira katong, tahun haneng bhumi bheda nira.

Artinya: seorang pemimpin yang baik harus memiliki pikiran yang suci dan bersih, selalu
berada pada jalan ajaran Dharma.

Ikananang prapata dumilah, suka nikanang rat yateka ginawe nya.
Kadi bahni ring pahoman, dumilah mangde suka nikang rat.

Artinya: dengan sikap pemimpin yang adil dan bijaksana dan mampu berbaur dengan
Masyrakat atau mampu menerima masukan dari masyarakat. Untuk mencari suatu solusi,
maka masyarakat akan bahagia dan merasa diperhatikan.

Hana rajya tulya kendran, kakwehan sang maharddhika susila,
Ring ayodhya subhageng rat, yeka kadatwan noirang nrepati.

Artinya: seseorang pemimpin yang baik dan suci, pasti memiliki rumah yang ikut suci
Pula dengan orang-orang yang berada didalam rumah tersebut ikut menjadi suci karena
Tervibrasi oleh kekuatan suci dari pemimpin dan rumah yang tersecikan dari pemimpin
Tersebut.

Hayu ning swargga tuwi masor, de ning ayodhyapuratisaya,
Suka nityakala menak, ri rengreng towi ring lahru.

Artinya: seorang pemimpin yang suci dam bersih memiliki tempat tinggal yang amat
bersih dan indah, maka orang-orang yang berada disana selalu senang dan merasa
bahagia jika berada disekitar rumah tersebut.

sakweh nikang mulya kabeh, kanaka rajaka len manik hana ngkana,
Yangken huntu nya maputih, gumuyu-guyung swargga kasor de nya.

          Artinya: jika seorang pemimpin memiliki harta kekayaan berupa perhiasan emas, perak dan               harta kekayaan lainya jangan pernah merasa bangga. Sebab, harta dan kekayaan. Tersebut                   hanya bersifat material duniawi dan tidak akan diwa kelak jika sudah tiad.

Hana ta umah kanaka manik, kinulingan ikang taman ramaya,
Waraknya mameng-ameng, surapsari tulya ring meru.

Artinya: seorang pemimpin yang memiliki kekayaan, harus berdasarkan pada jalan
Dharma. Agar tercapainya sang pemimpin jujur dan adil, dengan menjalankan dharma
tersebut. maka di sekeliling rumah akan seperti taman yang sangat indah.

Sphatika manik tamalah-alah, sateja munggwing umah paninjowan, kadi Gangga saka Himawanrupa nya katon pranata, rupa nya katon sutejasri.

Permata putih manikam amat banyak, bersinar dirumah anjungan peranginan. Bagaikan sungai Gangga dari Gunung Himawan, tampak bersinar cemerlang indah sekali.

“Seseorang bisa dikatakan berwibawan jika dirinya mampu membuat dirinya terhormat dengan suatu kecerdasan dan kebaikan dalam memimpin suatu kepemimpinan.

Suka trepti sang narendra, bhuktikang bhoga tan papadaya dibya, nirbhaya tan hana katakut, samanta kabeh maso pranata.

Senang dan puas baginda raja, menikmati kenikmatan yang tiada bandingng baiknya. Tidak ada bahaya, tidak ada yang ditakuti, raja-raja tetangga semuanya datang tunduk menghormaat.

“Seorang raja, akan dihormati bila dalam kepemimpinanya mempunyai kebijaksanaan dalam suatu keputusan yang di ambil dalam jalan kebenaran. Sebab, pengambilan keputusan yang baik tersebut akan menyangkut kehormatan dan pandangan suatu oaring terhadap kepemimpinanya dalam masyarakat maupun pada golongan, karena seorang pemeimpin akan dihormati bila dalam kepemimpinanya bisa menghargai kedudukan orang lain.”

Sang kekayi Sumitra, Kosalya ghara sang narendra tiga, Durga Gangga Gori, pada nira ya surupa dibyaguna.

Sang kakayi, Sang Sumitra, Sang Kausalia, itulah permaisuri baginda raja, tiga orang banyaknya. Bagaikan Dewi Durga, Dewi Gangga, Dewi Gori, cantik-cantik dan berbudi luhur.

“Seorang istri dari suami yang bukan istri satu-satunya dalam suatu keluarga, harus saling menjaga dan saling menghormati istri lain dari suaminya (istri kedua,ketiga dan seterusnya). Dan darus saling berbagi kasih sayang dengan yang lain, kasih saying antar istri dengan suami merupakan hal yang sangat penting dalam suatu keluarga. Disinilah letak kecantikan wajah seorang wanita harus diimbangi dengan kecantikan hati yanh tulus ikhlas, sebab manusia tidak ada yang sempurna.”

Sukha sang narendra makuren, dewi nira kapwa yatna yan paniwi, tan hana mambek irsya, ri sirang dewi matut katiga.

Senang baginda bersuami istri. Permaisuri baginda semuanya hati-hati waktu meladeni. Tidak ada yang cemburu. Ketiga permaisuri baginda seia-sekata.

“Seseorang yang sudah beersuami istri, harus saling menyayangi, melindungi, menghormati dan saling mengerti satu sama lain. Sebab dalam hubungan keluarga harus transparan menyangkut hidup berkeluarga yang berkelanjutan. Dalam hal ini, dalam sebuah keluarga harus menjaga keharmonisan dan yang paling penting ialah perkataan dalam berkeluarga harus sepaham, sepaya tidak salah paham agar rumah tangga tetap rukun.”

Kadi harsa sang maharsi, sakteng reg sama len yajurweda, mangkana Sang Dasartha weh, harsa nira ta de mahadewi.

Seperti kesenangan sang maharesi, asik akan Reg weda, Sama Weda dan Yayur Weda, demikian juga halnya Sang Dasarata, senangnya terhadap permaisurinya.

“Jika seseorang menginginkan kebahagian rohani, maka dianjurkan membaca kitab-kitab suci dan mengamalkan ajaran dari kitab suci tersebut. Seperti halnya seorang suami, jika ingin kebahagiaan dalam berumah tangga harus menyenagkan istri dengan cinta kasih yang tulus. Cinta kasih yang tulus ini akan menciptakan kebahagiaan lahir, batin dalam suatu kekeluargaan dan keharmonisan suatu hubungan rumah tangga.”

Malawas sirar papangguh, masneha lawan mahadewi, Suraseng sanggama rinasan, alingganancumbanadi nya.

Sudah lama baginda bersuami istri. Berkasih-kasih dengan permaisurinya. Nikmatnya sanggama telah dirasakannya, berpeluk-pelukan, bercium-ciuman dan lain sebagainya.

“Dalam hubungan suatu keluarga, merasakan suatu kebahagiaan apa bila antara suami istri dapat merasakan suatu hubungan dengan landasan cinta kasih yang tulus satu sama lain. Dan suatu hubungan keluarga bisa dikatakan sehat, apabila dari awal (Muda) hingga tua, tetap saling menjaga, mengasih dan menyang satu sama lain. Tidak terpengaruh dengan orang lain.


Subscribe to receive free email updates: