Daftar Kerajaan Hindu di Bali

HINDUALUKTA -- Bung Karno pernah berkata, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Sebab orang yang lupa terhadap sejarah tidak akan pernah mengerti nilai-nilai kebenaran. Sebab dalam sejarah, terdapat sejumlah kebenaran mulak yang harus dipelajari.

Seperti misalnya, lontar-lontar tentang kebenaran, serta prasasti-prasasti mengenai upacar keagamaan. Untuk itu, melalui artikel ini, Penulis berusaha menghimpun kembali kerajaan-kerajaan hindu yang terdapat di Bali. Berikut, kerajaan Hindu di Bali.

a.      Sri Kesari Warmadewa
Di Bali terdapat sebuah kerajaan yang menganut agama Hindu yang diperkiran sudah muncul pada abad ke-8. . Hal ini dapat diketahui dengan diketemukannya sebuah Prasasti Blanjong. Prasasti Blanjong tersimpan di sebuah Pura yang bernama Pura Blanjong yang terletak di Blanjong daerah Sanur. Prasasti Blanjong berbentuk Silinder ( bulat panjang ) yang berisi tulisan Bali Kuno dan berbahasa Sanskerta. Dalam Prasasti Blanjong dijelaskan bahwa nama Raja Bali waktu itu bergelar Warmadewa. Rajanya bernama Sri Kesari Warmadewa dengan pusat pemerintahannya berada di Singhamandawa. Nama Warmadewa mulai muncul pada tahun 835 Saka.
Selain itu diketemukan juga cap-cap kecil yang tersimpan di dalam stupa yang terbuat dari tanah liat bertuliskan mantra Budha yang disebut Ye Te Mantra.

b. Sri Maharaja Sriwijaya Mahadewi
Setelah raja Sri Kesari Warmadewa, di Bali pada tahun 905 Saka atau 983 Masehi muncul seorang raja yang menganut agama Hindu. Raja tersebut adalah raja perempuan (ratu) yang bernama Sri Maharaja Sriwijaya Mahadewi.

c. Udayana Mahadewa
Setelah pemerintahan Sriwijaya Mahadewi muncul nama raja Udayana Warmadewa yang didampingi oleh permaisurinya bernama Sri Gunapriya Dharmapatni.
Raja Udayana memiliki putra bernama Marakata dan Anak Wungsu. Marakata menggantikan Udayana Warmadewa sebagai raja di Bali.



d.      Anak Wungsu
Anak Wungsu adalah anak dari raja Udayana Warmadewa. Anak Wungsu adalah raja yang paling aktif mencatat peristiwa penting dalam pemerintahannya sehingga Raja Anak Wungsulah yang paling banyak mengeluarkan prasasti.
Raja Anak Wungsu memerintah di Bali pada tahun 971-999 Saka atau 1049 –1077 Masehi.
Salah satu prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Anak Wungsu berangka tahun 944 Saka atau 1022 Masehi, dalam prasasti itu memuat Sapata atau kata-kata sumpah yang menyebut nama-nama Dewa Hindu. Adapun isi Sapata itu, seperti: bahwa rakyat Bali percaya dengan Dewa-dewa dan Maharsi seperti percaya dengan Maharsi Agastya.
Selanjutnya ada sebuah prasasti lagi yang dikeluarkan oleh Raja Anak Wungsu yang berangka tahun 993 Saka atau 1070 Masehi memuat Sapata yang berbunyi “ untuk Hyang Angasti Maharsi danPara Dewa yang lainnya”. Yang dimaksud Angasti Maharsi dalam prasasti yang dikeluarkan oleh raja Anak Wungsu adalah Maharsi Agastya.



e.       Raja Bedahulu
Perkembangan agama Hindu di Bali selanjutnya dipengaruhi dengan munculnya Raja Bedahulu. Raja Bedahulu sangat melegenda di Bali sebagai raja yang ditakuti rakyatnya. Pada masa pemerintahan Raja Bedahulu, rakyat tidak boleh memandang muka atau kepala raja. Sehingga apabila menghadap harus menunduk.
Raja Bedahulu adalah raja Bali yang terakhir memerintah Bali. Dan pada  tahun 1259 Saka atau 1337 Masehi raja Bedahulu bergelar Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten.
Setelah enam tahun memerintah Bali, pada tahun 1265 Saka atau 1343 Masehi, Raja Bedahulu dapat ditaklukkan oleh Gajah Mada sebagai wujud Sumpah Palapanya. Dan mulai saat itu Bali menjadi daerah kekuasaan kerajaan Majapahit di Jawa Timur.

f.       Sri Kresna Kepakisan
Setelah Raja Bedahulu dapat ditaklukkan oleh Gajah Mada dan Bali menjadi daerah kekuasaan Majapahit, pemerintahan di Bali dilanjutkan oleh Sri Kresna Kepakisan. Oleh raja Sri Kresna Kepakisan pusat pemerintahan atau kerajaan yang dulunya berada di Samprangan Gianyar dipindahkan ke Gelgel dekat Pura Gelgel Kelungkung.

g.      Dalem Waturenggong
Setelah pemerintahan Sri Kresna Kepakisan, dilanjutkan oleh Raja Dalem Waturenggong.Pusat pemerintahan masih di Gelgel. Pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong, Bali mengalami masa keemasan. Agama Hindu berkembang dengan pesat karena aspek keagamaan ditata kembali oleh Dang Hyang Nirartha sebagai Purohita.
Peninggalan Hindu terbesar pada jaman Dalem Waturenggong adalah dengan ditatanya kembali Pura Besakih yang merupakan tempat pemujaan umat Hindu di seluruh Dunia.

Subscribe to receive free email updates: