Kerajaan Hindu di Jawa Timur

HINDUALUKTA-- Tahukah anda kerajaan hindu apa sajakah yang terdapat di Jawa Timur. Sekarang kita akan bahas satu per satu. Berikut daftar Kerajaan Hindu di Jawa Timur.

a   Kanjuruhan
Awal perkembangan Agama Hindu di Jawa Timur dimulai dari Kota Malang Jawa Timur dengan diketemukannya sebuah Prasasti yang bernama Prasasti Dinoyo. Prasasti Dinoyo bertuliskan angka tahun 760 Masehi.  Isi Prasasti Dinoyo adalah:
1.      Terdapat kerajaan yang berpusat di Kanjuruhan dengan rajanya bernama Dewa Simha, Dewa Simha adalah Raja yang menganut agama Hindu dengan memusatkan pemujaan kepada Dewa Siwa.
2.      Tentang pembuatan arca Maharsi Agastya yaitu sebuah arca yang berwujud Resi Agastya sebagai penghormatan atas jasanya menyebarkan dan mengajarkan Agama Hindu dari India ke Indonesia ( Nusantara ).
Dewa Simha berputra seorang yang bernama Liswa. Setelah dilantik menjadi raja, Liswa bergelar Gajayana. Liswa mempunyai seorang putri yang bernama Uttejana. Raja Gajayana mendirikan sebuah tempat pemujaan untuk Rsi Agastya yang terbuat dari kayu cendana kemudian diganti dengan arca dari Batu Hitam. Arca Agastya diresmikan tahun 760 Masehi.

b.      Isana Wamsa/Empu Sendok
Stelah Raja Dewa Simha yang menganut agama Hindu, perkembangan Agama Hindu selanjutnya di Jawa Timur disusul dengan munculnya Dinasti Isana Wamsa. Yang menjadi pendiri adalah Empu Sendok. Empu Sendok sangat memuliakan Dewa Siwa. Mpu Sendok memerintah pada tahun 929-974 Masehi dengan gelar “Sri Isana Tunggadewa Wijaya

c.       Dharmawangsa Teguh
Raja Darmawangsa Teguh dalam masa pemerintahannya sangat memperhatikan perkembangan karya-karya sastra. Pada masa pemerintahan Darmawangsa Teguh, karya sastra besar dari India yaitu Ramayana dan Mahabharata dikaji oleh ahli-ahli sastra (pengawi) di Indonesia selanjutnya digubah dari yang dahulunya berbahasa Sanskerta digubah menggunakan Bahasa Jawa Kuno. Yang memprakarsai kegiatan menggubah karya sastra hasil karya Bhagawan Byasa menjadi karya yang berbahasa Jawa Kuno diistilahkan dengan “ Mangjawaken Byasa Katha” yang artinya mermbahasa Jawakan karya-karya Bhagawan Byasa dan karya Bhagawan Walmiki yang dulunya berbahasa Sanskerta.

d.            Prabhu Airlangga
Setelah Raja Darmawangsa Teguh berkuasa dilanjutkan lagi perkembangan agama Hindu di Jawa Timur dengan munculnya Prabhu Airlangga. Pada masa pemerintahan Prabhu Airlangga di Jawa Timur selalu memberikan kemakmuran kepada dunia. Atas jasa yang dilakukan oleh Prabhu Airlangga maka Prabhu Airlangga diarcakan (dibuatkan arca yang menggambarkan Prabhu Airlangga) dalam wujud Garuda Wisnu yaitu Wisnu mengendarai Garuda.

e.             Kerajaan Kediri
Pada masa kerajaan Kediri yang juga menganut agama Hindu, banyak muncul karya sastra pada masa itu. Pengawi/pengarang yang sangat terkenal pada masa jayanya Kerajaan Kediri adalah Empu Sedah dan Empu Panuluh yang mengarang karya besar yang berjudul Kakawin Bharatayudha.

f. Kerajaan Singosari
Setelah Kerajaan Kediri runtuh, muncul lagi Kerajaan yang bercorak Hindu adalah Kerajaan Singosari pada tahun 1222 Masehi . Kerajaan Singosari didirikan oleh Ken Arok.  Ken Arok sebagai Raja di Kerajaan Singosari pada masa pemerintahannya didampingi oleh para Purohita. Purohitaberarti pendeta penasehat Raja.
Pada jaman Kerajaan Singosari banyak dibangun bangunan suci Hindu berupa candi seperti:
a.      Candi Kidal,
b.      Candi Jago, dan
c.       Candi Singosari.

g. Kerajaan Majapahit
Setelah runtuhnya Kerajaan Singosari, pada tahun 1293 muncullah kerajaan Majapahit. Pada jaman Kerajaan Majapahit, kehidupan beragama Hindu sangat mantap berkat pembinaan dari pendeta yang mendampingi raja dalam menjalankan pemerintahan. Masa kejayaan Kerajaan Majapahit yakni pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Pada masa itu wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit mencakup seluruh Nusantara bahkan sampai ke Brunei Darussalam, Serawak, Kamboja danMalaysya. Raja Hayam Wuruk pada masa pemerintahannya didampingi oleh Maha Patih Gajah Mada. Gajah Mada adalah Maha Patih yang gagah berani dan kuat yang terkenal dengan Sumpah Palapayang bertujuan untuk menaklukkan  kerajaan-kerajaan lain agar mau tunduk kepada kekuasan Raja Majapahit. Sumpah Palapa dilaksanakan oleh Gajah Mada selama 21 tahun yakni antara tahun Saka 1258 sampai 1279 Saka.
Isi Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Maha Patih Gajah Mada, sebagai berikut:
Lamun huwus kalah Nusantara insun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, Ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti Palapa.

Artinya:

Kalau sudah kalah Nusantara Hamba memakan Kelapa, kalau kalah di Gurun=Lombok, di Seran=Seram, Tanjung Pura=Kalimantan, di Haru=Sumatra Utara, di Pahang=Malaya, Dompo=Dompu/Sumbawa, di Bali, di Sunda, Palembang (Sriwijaya), Tumasik=Singapura semuanya itu baru Hamba akan memakan Kelapa.

 Hasil dari Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Maha Patih Gajah Mada terbukti yaitu Bali dapat ditaklukkan pada tahun 1265, Dompu dan Pasunda dapat ditaklukkan pada tahun 1279 Saka atau 1375 Masehi.
Selain dapat menaklukkan kerajaan-kerajaan di Nusantara bahkan sampai ke Malaysya, Singapura, pada masa kejayaan Raja Hayam Wuruk banyak karya sastra Hindu yang fundamental digubah pada masa itu, misalnya:
a.       Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular,
b.      Kakawin Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa,
c.       Kitab Nagara Kertagama karya Mpu Prapanca, dan
d.      Didirikannya Candi Besar yaitu Candi Penataran di Blitar.

Subscribe to receive free email updates: