Pengertian Diksa dan Tugas Wiku Atau Sulinggih

HINDUALUKTA -- Diksa dalam bahasa Sanskerta artinya persiapan penyucian diri melalui upacara agama, pentasbihan, inisiasi, pengabdian yang menyeluruh untuk mengemban tugas dalam kehidupan Agama yang dipimpin oleh seorang yang berhak untuk itu. Di dalam lontar Brahmanda Purana dikatakan bahwa:

"Diksa rakwa ngaran ing brata mwang tapa"

Yang artinya:

(Maka ketahuilah yang dikatakan Diksa adalah melakukan perbuatan suci dan mengendalikan indriya / nafsu).

Adiksa artinya menjalani inisiasi.

Orang yang sedang menjalani initiasi disebut Adiksa. 

Ia yang sudah menjalani adiksa disebut diksita, artinya ia sudah menjadi murid dalam melaksanakan punyucian. Nama lain untuk pengertian Diksa adalah mapodgala, mabersih, masuci, madwijati dan malinggih.

Kelahiran yang pertama ialah ketika ia lahir dari sang ibu, jadi lahir sacara fisik. Sedangkan kelahiran kedua kalinya, ia lahir secara rohaniah dan setelah didiksa ia menjadi Wiku / Pandita yang bertugas melaksanakan kependitaan.

Upacara pentasbihannya disebut Diksikabrata samskara.

Beliau yang memberikan samskara (memberikan inisiasi) disebut Andiksani (Nabé) yang lebih tua dari muridnya. Beliau bertanggung jawab atas kepatuhan dan perilaku muridnya.

IDA PEDANDA GRIYA TOKO INTARAN SANUR

Dalam Sasana Kawikon, ada beberapa aturan, bahwa seorang Wiku belum boleh dijadikan Andiksani (Nabe), antara lain, jika:
  1. Seorang Wiku yang belum ngalinggihang Weda (untuk Wiku Siwa disebut belum mapulang Lingga; untuk Wiku Buddha disebut belum ngalinggihang Puja Agung).
  2. Wiku yang tidak melaksanakan lokapalasraya (mapuja dimana saja dan kapan saja atas permintaan masyarakat).
  3. Wiku yang terkena kasepungan, sehingga beliau harus melakukan tirthayatra, membersihkan diri lahir / bathin, agar beliau bersih kembali seperti sediakala.

Kasepungan artinya, mungkin beliau pernah melakukan kesalahan secara fisik maupun perilaku yang melanggar disiplin Kawikon.

Matirtayatra artinya melakukan perjalanan suci ke suatu tempat suci (gunung, danau, mata air, pinggir laut, Pura), di sana mengaturkan puja untuk memperoleh tirtha.

Tirtayatra berbeda dengan tirtagamana. Tirtagamana ini juga melakukan perjalanan suci guna memperoleh tirtha untuk pembersihan diri, tetapi setelah memperoleh tirtha, ia akan kembali ke tempatnya semula. Sedangkan tirtayatra, setelah memperoleh tirtha ia tidak kembali ke tempat asalnya semula.

Kata Yatra berasal dari bahasa Sanskerta, yang artinya keberangkatan, perjalanan, ekspedisi, berziarah. Jadi Tirtayatra ialah perjalanan yang tidak akan kembali lagi ketempatnya semula.

Hubungan antara adiksani dengan adiksa, Nabe dengan muridnya, sangat penting. Hubungan ini dalam lontar Silakrama, seperangkat norma dan tatasusila, disebut asewaka guru / Silakramaning aguron-guron

Lontar Silakrama ini mengatur hubungan antara Adiksa dan Andiksani (Nabé). Hubungan antaraAdiksa (murid) dan Andiksani (Nabe') sangat erat; tidak hanya sebagai bapak dan anak, tetapi lebih dari pada itu.

Sebab ketika Adiksa menerima anugrah dari Nabé, Adiksa dengan tulus menerimanya. Ini dibuktikan, ketika adiksa menjalankanpadiksaan, salah satu proses yang utama ialah, murid itu menjilat jempol ibu jari kaki kiri Nab é. Kemudian Nabé menekankan jempol kaki kirinya di atas ubun-ubun kepala adiksa sebanyak tiga kali sambil mengucapkan mantram. Proses ini disebut napak.

Arti upacara tersebut ialah, bahwa adiksa memohon menerima dengan tulus / ikhlas menerima anugrah Nabé, sedangkan Nabé, menerima permohonan adiksa sebagai muridnya dan bertanggung jawab atas keselamatan dan keberhasilan muridnya sebagai Wiku.

Untuk ini semua, adiksa senantiasa memohon nasihat-nasihat palungguh Nabe', apabila ia memerlukannya, seperti tentang seluk-beluk lafal puja dan maksudnya, jenis-jenis bebanten yang diharuskan dalam upacara tertentu dan yang boleh digantikan dengan jenis bebanten yang lainnya, hubungan upacara tertentu dalam hari / bulan / waktu dan hal“ hal yang lainnya.

Terutama pada permulaan adiksa melaksanakan kependetaan, Sang Andiksani / Nabé senantiasa dengan penuh memberikan tuntunan, memberikan nasehat-nasehat mana yang boleh, mana yang dilarang, mana yang boleh-boleh saja. Dengan demikian pengetahuan adiksa makin bertambah.

Dalam asewaka guru (silakramaning aguron-guron), Adikesa tetap sangat menghormati palungguh Nabe'. Misalnya, apabila Adiksa perlu menghadap Nabé, terlebih dahulu “mawekasan” (memberitahukan) kehadapan beliau, dengan perantaraan seseorang yang dapat dipercaya.: bahwa adiksa bermaksud menghadap, kapan beliau berkenan menerima sang anak.

Sesudah ditentukan tempat, hari dan waktu untuk menghadap, adiksa hendaknya memenuhinya. Bila karena sesuatu hal ada halangan, adiksa wajib memberi-tahukannya kehadapan Nabe. Sampai di depan rumah Nabé dan sebelum masuk, adiksa sekali lagi “mawekasan ", bahwa adiksa siap untuk menghadap dan masuk ke pekarangan rumah Nabé.

Bila beliau berkenan menerimanya, barulah adiksa masuk. Dari jauh ketika Nabe sudah terlihat, adiksa mulai bersiap-siap, tidak diperkenankan melihat kekanan / kekiri.

Dari jauh, dan sekitar jarak sepuluh meter, adiksa mulai duduk di tanah, bersiap untuk menyembah. Kedua belah telapak tangan dicakupkan di atas dada, terus diangkat ke atas sampai di atas kepala, turun hingga diatas pangkuan. Cara menyembah demikian diulangi sampai sebelas kali.

Ketika adiksa menyembah, palungguh Nabé duduk bersila di beranda rumahnya, mangojongkan kedua tangannya, sambil mengeluarkan mantra, yang artinya, bahwa sembah adiksa diterima Beliau. Setelah dan beliau minta agar adiksa ikut duduk, di hadapan beliau. Setiap adiksa mahatur, selalu kedua tangannya dicakupkan dengan sikap “mepes”.

Ketika sedang berbicara, adiksa tidak dibenarkan menatap muka Nabé secara langsung, tetapi sekedar menghadap ke bawah, hanya sesekali saja dibenarkan melihat muka Nabé.

Setelah pembicaraan selesai, apabila adiksa meminta permisi, juga dengan “mepes” dan menghaturkan bakti sekali saja. Ketika berpamitan, tidak diperkenankan segera berbalik membela-kangi Nabe', tetapi harus mundur sekitar sepuluh langkah, lalu barulah berjalan menjauh dari Nabé.

Adiksa hendaknya senantiasa menunjukkan guru bhakti terhadap Nabénya.

Dalam sasana kawikon, Sisia sangat dilarang berbuat alpa/ca -guru, suatu sikap yang memandang rendah Nabe. Demikianlah mulianya kedudukan Nabé dalam Lembaga Kasulinggihan.

Maka oleh karena itu, hendaknya yang ingin menjadi Wiku, patuthah berhati-hati memilih calon Nab énya.

Dalam rontal Agastya Parwa dikatakan sebagai berikut (Purwita, 1993):

Ndan amilihana tan mahapandia, 
ikang yogya maka gurwa, 
sang wenang sumangaskara riya.

Artinya:

(Maka hendaklah memilih maha pendita yang sewajarnya untuk dipakai Nabe yang berhak menyucikannya)

Nahan lwir sang Wiku yogya maka gurwa, sang wenang umilangaken papa, yan sira wiku tuhagana mopawasa, sang gelema Iwangi wisaya nitya sucilaksana, jitakroda ta sira, tan kataman kroda ta sira, bhOganisrtah, tan kepengin ta sira ring sukha wahya, sahisnu, tuhagan (tasirahyasa, sucilaksana tininghala.)

Artinya: 

(Yang dipilih sebagai Nabé ialah Wiku yang sewajarnya saja, yang dapat melebur dosa, seorang Wiku yang selalu berpuasa, yang tetap mengurangi nafsu, selalu dalam keadaan bersih,jitakr0dha, tidak diliputi sifat pemarahs bhoganisrtah, tidak ingin beliau dengan kebahagiaan duniawi, tenang, senantiasa berlaku bersih).

Kedua sloka tadi menyiratkan, bahwa seorang yang menjadi Nabe tidak akan ingin memperoleh pujian, ataupun mendapat kewibawaan di mata masyarakat.

Selain dari pada itu, Adiksa juga adalah patut sangat menghormati sang Guru Waktra, seorang guru yang mengajar, yaitu sesorang Wiku yang dipercaya oleh Nabé untuk mengajarkan kepada Adiksa tentang seluk-beluk Puja, arti lafal urutan Puja dan yang lainnya, hingga Adi/cm berhasil ngalinggihang Puja Alit dan Puja Agung.

Setelah didiksa, secara umum mereka disebut Wiku atau Sulinggih. Secara simbolik, proses diksa disebut dwijati, yaitu kelahiran untuk kedua kalinya. Arti yang sebenarnya ialah, bahwa diksa merupakan peralihan tugas dari kehidupan bersifat manusia biasa ke kehidupan yang bersifat kedewaan dan kerochanian, sebab tugas-tugasnya ialah mengajarkan Agama, termasuk ilmu ilmu pengetahuan lainnya yang dikuasainya, sebab ilmu ilmu yang pernah dipelajarinya datangnya juga dari Sang Hiang Widhi.

Demikianlah tugas seorang Wiku dalam mencerdaskan manusia agar mereka makin dekat kepada Hyang Widhi.

Rg. Weda X. 32. 7

Aksetravit ksetravidam hyaprat
sa praiti ksatravidanusistah
eta vai bhadram anusasanasyo
ta sruti vindatyas njasinam 

Artinya:

(Orang yang tak mengenal suatu tempat, bertanya kepada orang yang mengetahuinya; ia meneruskan perjalanan, dibimbing oleh orang yang tahu; inilah manfaat pendidikan; ia menemukan jalan yang lurus).

Dengan sendirinya termasuk membina kehidupan keagamaan di samping bertanggung jawab atas penyelesaian upacara keagaman dengan melakukan puja.

Kembali kepada tugas masyarakat dalam melaksanakan Rsi Yajia tersebut, ada beberapa hal yang perlu dilaksanakan :

a). Menobatkan (diksa) seseorang yang dinilai memenuhi semua persyaratan untuk diangkat menjadi Pandita (Sulinggih), ini sudah menjadi tradisi. Para sisya dan masyarakat sekitarnya bergotong royong turut membantu dan menyumbangkan sesuatu dalam upacara padiksaan tersebut. Misalnya masyarakat Hindu di Surabaya dan sekitarnya sudah mampu membiayai pediksaan seseorang calon Wiku yang akan memimpin umat Hindu di sana. Demikian juga di Jakarta.

b). Membuat tempat pemujaan untuk beliau di tempat tinggal beliau. Dengan demikian, masyarakat setiap saat dapat menghubungi beliau misalnya meminta tirtha, mungkin juga melaksanakan upacaraupacara kecil (perkawinan, otonan) dan yang sebangsanya.

c). Membantu Sulinggih tentang pendidikian agama bagi umat, anakanak, dan masyarakat yang memerlukan.

d). Mentaati dan mengamalkan pelajaran / pembinaan kehidupan beragama yang diberikan oleh para Wiku untuk masyarakat luas.

Reff:
Ngura Nala, I Gusti dan Sudharta, Tjokorda Rai. 2009. Sanatana Hindu Dharma,  Ida Pedanda Gde Nyoman Jelantik Oka. Dempasar: Widya Dharma.

Subscribe to receive free email updates: