Pandangan Visistadvaita Tentang Brahman, Atman, Maya dan Moksa

HINDUALUKTA-- Filsafat Visistadvaita adalah filsafat yang didirikan oleh Sri Ramanujacharya (1050-1137 Masehi). Filsafat ini merupakan salah satu bagian dari Sad Darsana, yakni Advaita, Dvaita dan Visistadvaita. Adapun pandangan Filsafat Visistadvaita mengenai Brahman, Atman, Maya dan Moksa adalah sebagai berikut:

1. Brahman 

Visistadvaita mengakui kejamakan, dimana Brahman atau Narayana Hidup dalam kejamakan bentuk sebagi roh-roh (cit) dan materi (acit). Brahman dipandang sebagai realitas tertinggi dan bersifat saguna dan imanen. Semua apa yang ada di dunia ini berasal dari-Nya. Tanpa Brahman Jiwa dan alam semesta tidak aka nada. Brahman adal jiva alam semesta sekaligus dalam setiap mahluk hidup, (Sudiani, 2012;86).

Brahman atau Isvara, Jiwa dan alam semesta dapat digambar dengan suatu lingkaran yang memiliki titik yang sama. Dimana Brahman adalah pusat dari lingkaran. Jiwa adalah lingkaran yang kecil dan alam semesta sebagai lingkaran yang lebih besar yang beradah di luar. Visistadvaita memandang  Brahman, Jiwa dan Alam Semesta nyata dan kekal serta tidak bisa dipisahkan, namun tidak berada pada tingkatan yang sama. Kesimpulannya Brahman, jiwa  dan alam semesta memang berbeda. Ramanuja memandang Tuhan adalah satu-satunya realitas, sehingga roh dan materi tergantung pada Isvara, (Sudiani, 2013.88). 

Dalam system Visistadvaita Brahman dipandang berhakikat intelegensi, berasal dari semua cacat dan cela, memiliki sifat yang mulia seperti Maha Tahu, Maha Kuasa, berada dimana-mana, Pemurah dan sebagainya. Ia penyebab adanya alam semesta dan berada di dalam jiva dan dunia Brahman dan Visistadvaita disebut dengan Visnu Narayana, (Sudiani, 2013.94).

2. Atman

Walaupun atman dan Brahman serta alam semesta nyata dan kekal menurut Visistadvaita. Namun yang menjadi perbedaannya yakni ketiganya tidak berada pada tingkatan yang sama.  Jiwa setiap manusia adalah jelmaan dari Brahman. Ramanuja memandang jiwatman adalah bagian dari Brahman, sehingga mereka mirip, tetapi tidak sama. Jiva adalah suatu prakara Tuhan yang lebih tinggi dari pada materi, karena ia merupakan kesatuan yang sadar, yang merupakan inti dari Tuhan. Jiva-jiva itu jumlahnya tak terhingga ibarat atom yang tak terhitung jumlahnya, dimana jiva pribadi menurut Ramanuja benar-benar bersifat pribadi secara multak nyata dan berbeda dengan Tuhan. 

Manusia atau jiva pribadi merupakan partikel dari keseluruhan partikel yaitu Tuhan, yang ibarat sebuah biji delima yang menyatakan Tuhan atau Tuhan (Narayana) Ramanuja maka, setiap biji disamakan dengan jiva pribadi. Sesungguhnya ia muncul dari Tuhan (Narayana) dan tak pernah di luar Tuhan (Narayana), tetapi sekalipun demikian ia tetap menikmati keberadaan pribadi dan akan tetap merupakan suatu pribadi selamanya (Maswinara, 1999: 189). Sehubungan jiva berhakikatkan perasaan, ia awalnya murni dan bahagia. Namun ketika salah mengidentifikasikan dirinya sebagai tubuh melalui samsara, ia kadang bisa  menderita atau bahagia,  bergantung pada karma masa lalu.

3. Maya

Menurut Ramanuja walaupun Tuhan adalah satu-satunya realitas dan tidak ada lagi di luar Tuhan, dalam di dalam Tuhan terdapat banyak realitas-realitas lainya. Penciptaan dunia dan obyek-obyek yang terciptakan semuanya riil seperti Tuhan. Visistadvaita mengatakan alam semesta ini sama dengan ungkapan Upanisad yakni diciptakan oleh Tuhan dari Prakerti. Penciptaan alam semesta dalam Visistadvaita sama dengan penciptaan dalam Samkhya yaitu Tuhan muncullah Cit dan Acit. 

Pertemuan Cit dengan Acit menimbulkan secara berturut dari yang harus sampai kepada yang kasar, yaitu Citta dan Bhuddhi, Ahamkara, Manas, sepuluh indria (Panca Budhindriya dan Panca Kamendriya, Panca Tan Mantra, Panca Maha Bhuta dan yang terakhir alam semesta dengan isinya. Alam semesta menurut Ramanuja adalah nyata tetapi sementara. Dan akan kembali kepada  Acit yang ada dalam tubuh Tuhan ketika pralaya, (Sudiani, 2013.91).

4. Moksa

Ramanuja memandang moksa adalah dimana atman telah memperoleh pembebasan. Roh-roh abadi tak pernah berada dalam belenggung dan selamanya bebas. Mereka hidup dengan Tuhan di Vaikuntha. Visistadvaita mengemukakan bahwa tujuan akhir dari manusia adalah mencapai alam Narayana untuk menikmati kebebasan dan kebahagiaan yang sempurna, (Sudiani, 2013.95).

Ada dua jalan untuk mencapai alam Wisnu yang dikemukakan Ramanuja, yaitu jalan Prapatti dan bhakti. Prapatti adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan, sebagai satu-satunya tempat untuk berlindung. Dimana kita harus percaya sepenuhnya kepada Tuhan bahwa Dia akan melepasakan semua ikatan suka dan duka. Orang yang menjalakan hal tersebut, menurut Ramanuja, akan mencapai Vaikuntha yaitu tempat kebahagian yang tak terhingga dan menikmati kehadiran Brahman secara terus menerus. Jalan yang kedua yakni melalui memuja alam Narayana atau Bhakti (Jnana Yoga, Karma Yoga dan Bhakti Yoga).

Menurut Ramanuja moksa artinya berlalunya roh dari kesulihan hidup duniawi menuju semacam surge (Vaikuntha) di mana ia akan tetap selamanya dalam kebahagian pribadi yang tenang di hadirat Tuhan. Roh-roh yang terbebaskan mencapai hakekat Tuhan (menjadi serupa dengan Tuhan) dan tak pernah menjadi identik dengan-Nya. Roh yang bebas bersahabat dengan Tuhan atau melayani-Nya, (2013.97).


Subscribe to receive free email updates: