Perbedaan Pandangan Advaita, Dvaita Dan Visistadvaita

HINDUALUKTA-- Seperti kita ketahui bahwa filsafat Darsana memiliki enam bagian yakni Samkhya, Yoga, Mimamsa, Vaisiseka, Nyaya dan yang terakhir adalah Vedanta. Vedanta dianggap sebagai Darsana yang paling utama karena membahas mengenai filsafat inti dari kerohanian Hindu untuk mencapai kesempurnaan hidup ketentraman rohani, kestabilan cita rasa dan karsa, serta kehidupan abadi di akhirat yang disebut moksa. Vedanta terdiri dari tiga bagian utama yakni Advaita Vedanta, Dvaita Vedanta dan Vishishtadvaita Vedanta. Adapau uraian dari ketiganya  yakni sebagai berikut:

1. Advaita Vedanta

Kata Advaita berarti tiada dualism. Advaita didirikan oleh Sankara yang diperkirakan hidup pada 788-820 Masehi. Dalam filasafat ini, Sangkara memandang bahwa tidak yang lain selain Brahman yang merupakan realitas tertinggi. Dalam sloka yang diungkapkan Sangkara mengatakan bahwa Brahma Satyam Jagan Mithya, Jivo Brahmaiva Na Aparah, yang artinya bhawa Brahman (Yang Mutlak) sajalah yang nyata, dunia ini tidak nyata dan Jiva atau roh pribadi tidak berbeda dengan Brahman, (Sudiani, 2013.72).

Advaita memandang bahwa Jiva perorangan adalah Brahman seutuhnya yang menampakkan diri dengan sarana tambahan (Upadhi). Alam semesta atau dunia dipandang sebagai suatu penampakan khayalan dari Brahman, oleh karena itu keadaanya tidak nyata atau semu. Dalam system penciptaan, ketiga filsafat ini (Advaita Vedanta, Dvaita Vedanta dan Vishishtadvaita Vedanta) mempercayai  teori Samkhya yang mengatakan bahwa pertemuan purusa dan prakerti memunculkan Budhi, Ahamkara, Manas, Sepuluh Indria, panca tan mantra, dan panca mahabhuta yang akhirnya memunculkan alam semesta beserta isisnya, (Sudiani, 2013,73).

2. Dvaita Vedanta

Dvaita Vedanta didirikan oleh Maha Rsi Madhva yang diperkirakan hidup pada ada abad kedua yakni tahun 119-1278 Masehi. Dvaita menantang pernyataan Sangkara yang mengatakan bahwa hanya Brahman yang nyata, sehingga system ini dikenal dengan realistis yang artinya mengakui bahwa alam semesta ini nyata. Sistem ini bersifat theistis, karena menerima adanya Tuhan yang berpribadi sebagai suatu kenyataan tertinggi. Segala sesuatu yang ada dianggap sebagai bergantung seluruh kepada Tuhan (Visnu).

Mandhva membuat perbedaan yang mutlak anatar Tuhan, obyek-obyek yang bergerak maupun yang tidak bergerak, dan hanya Tuhan saja yang merupakan Realitas yang merdeka. Obyek-obyek yang bergerak dan yang tidak bergerak merupakan realitas yang tidak bebas. Tuhan, jiva dan benda ketiganya sama-sama kekal adanya, walaupun demikian Tuhan tidak bergantung kepada jiva dan benda. Tuhan dalam ajaran Dvaita dipandang sebagai suatu realitas yang tertinggi dan memiliki sifat-sifat yang banyak sekali. Tuhan adalah sebab adanya alam semesta. Ia sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur. Tampa kehendak Beliau semua ini akan lenyap. Dvaita mengemukakan bahwa jiva jumlahanya banyak dan berbeda dari yang satu dengan yang lain. Jiva berbentuk atom, akan tetapi bersifat intelegensi, maka ia dapat meliputi tubuh yang ditempatinya. Jiva itu kekal dan penuh kebagaian, karena adanya hubungan dengan benda maka jiva itu mengalami penderitaan dan kelahiran yang berulang-ulang, (Sudiani, 2013.101).

Jiva merupakan perwakilan yang aktif, tetapi tergantung kepada Tuhan memaksa jiva untuk berbuat sesuai dengan prilaku masa lalunya, sehingga akibat hubunganya dengan badannya dengan badan material, membuatnya menderita kesakitan. Selama Jiva tak terbebas dari ketidak murnian, mereka akan tersesat dalam samsara, mengembara dari satu kelahiran dengan kelahiran yang lainya hingga mencapai pembebasan atau moksa, tetapi roh tidak mencapai kesamaan dengan Tuhan, namun hanya berhak melayaniNya. Mandhva menerima klasifikasi Ramanuja tentang roh menjadi nitya atau abadi seperti Laksmi, mukta atau terbebas.  Mandhva mengatakan bahwa Jiva dipengaruhi oleh Tri Guna yang merupakan produk pertama dari Prakerti yang menjadi asa kebendaan, maka pengaruhnya sangat kuat terhadap jiva.

Dalam system penciptaan, filsafat Dvaita tidak berbeda jauh dengan Samkhya. Yang pertama lahir dari Prakerti adalah tiga Guna yaitu Sattvam, Rajas dan Tamas. Dari ketiga Guna itu lahirlah Mahat, Ahamkara, Tamas, sepuluh indriya, Panca Tan Mantra, Panca Maha Bhuta dan gabungan dari Panca Maha Bhuta itu mmuncullah alam semesta beserta isisnya.

3. Visistadvaita Vedanta
 
Visistadvaita Vedanta didirikan oleh Ramanuja yang hidup sekitar tahun 1050-1137 Masehi. Ramanuja merupakan tokoh Vedanta yang muncul setelah Sankara. Ajaran ini memandang bahwa Praketi yang merupakan bagian Brahman benar-benar mengalami perubahan sedangkan Sangkara berpendapat bahwa hanya Brahman yang ada dan tidak mengalami perubahan apapun. Mengenai keberadaaan alam semesta Sangkara tetap berpegang pada teori Vivartavada, yaitu sesungguhnya alam semesta ini adalah Maya, keberadaannya dari pandangan manusia adalah karena Avidya. Sedangkan Ramanuja menyatakan bahwa alam semesta ini berasal dari Brahman dan benar-benar nyata bukan suatu hayalan.

Brahman, Atman dan Alam Semesta nyata tetapi tidak pada tingkatan yang sama. Yang kesimpulannya bahwa Brahman, Atman dan Alam Semesta memang berbeda tetapi tidak dapat dipisahkan sekalipun ketiga-tiganya sama-sama kekal. Sehingga Visistadvaita dipandang sebagai ajaran yang satu dalam kesatuan organis. Brahman yang satu itu juga menjelma dalam jiva dan juga alam semesta.  Ramanuja menginterpretasikan bahwa Tuhan adalah satu-satunya realitas. Di dalam diri-Nya eksis bagian-bagian objek-objek material tak berkesadaran (acit), dan demikian pula banyak roh berkesadaran (cit).

Penciptaaan menurut Visistadvaita sama halnya dengan Laba-laba mengeluarkan benang dari dalam tubuhnya, demikian Tuhan menciptakan dunia objek-objek material yang secara eternal eksis di dalam-Nya. Roh-roh dipahami sebagai substansi secara tak terbatas kecil yang juga eksis secara eternal. Mereka sesuai hakikatnya, sadar dan berpenerangan sendiri.

Subscribe to receive free email updates: