Pengertian Sugihan Jawa dan Sugihan Bali

HINDUALUKTA-- Jika dilihat dari urat arti katanya, Kata Sugihan Jawa berasal dari urat kata Sugi, yang artinya membersihkan, dan Jawa artinya luar. Jadi sugihan Jawa dapat diartikan sebagai suatu upacara yang berfungsi untuk membersikan Bhuana Agung atau alam semesta (makrokosmos), baik sekala maupun niskala.
Berdasarkan Lontar Sundarigama, Sugihan Jawa diartikan sebagai Pasucian dewa kalinggania pamrastista bhatara kabeh (pesucian dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara). 

Pada saat peksanaan Sugihan Jawa, yang menjadi target (yang disucikan) adalah buana agung atau alam semesta seperti misalnya membersihkan pelinggih atau tempat-tempat suci yang digunakan sebagai tempat pemujaan, membersihkan alam lingkungan, baik pura, tempat tinggal, dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci.

Sedangkan Sugihan Bali berasal dari kata Sugi yang berarti membersikan dan Bali yang berarti  kekuatan yang ada dalam diri (bahasa Sansekerta). Jadi Sugihan Bali adalah upacara yang bertujuan untuk menyucikan buana alit atau mikrokosmos (manusia) secara sekala dan niskala, sehingga bersih dari perbuatan-perbuatan yang ternoda atau pembersihan lahir dan batin.

Pembersihan dapat dilakukan dengan penglukatan, sarananya dapat menggunakan bungkak nyuh gading. Dalam Lontar Sundarigama, Sugihan Bali bermakna Kalinggania amrestista raga tawulan yang artinya oleh karenanya menyucikan badan jasmani-rohani masing-masing /mikrocosmos yaitu dengan memohon tirta pembersihan /penglukatan.

Pelaksanaan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali
 
Sugihan Jawa dan Sugihan Bali, keduanya merupakan rangkaian pelaksaan hari Raya Galungan dan Kuningan yang dimulai pada Saniscara Kliwon wuku Wariga atau yang lebih dikenal dengan Tumpek Wariga (25 Hari). Sugihan Jawa jatuh pada Wrhaspati / Kamis Wage Wuku Sungsang sedangkan Sugihan Bali jatuh pada Jumat Kliwon Wuku Sungsang atau sehari setelah Sugihan Jawa.
Perbedaan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali

Kedua sugihan ini memiliki makna sebagai wadah Pembersihan, Namun yang menjadi perbedaan terletak pada apa yang dibersikan (disucikan). Jika dilihat lebih dalam Sugihan Jawa lebih kepada pembersihan makrokosmos atau alam semesta seperti misalnya:
  • Niskala: pembersihan dengan jalan mengaturkan upacara banten pengerebuan dan prayasita sebagai lambang penyucian. Semua itu diaturkan kepada Ida Batara, para leluhur dan para dewa yang berstana di masing-masing palinggih atau pura. Diyakini pada saat Sugihan Jawa ini, para dewa akan turun diiringi dengan para luluhur untuk menerima persembahan.
  • Sekala: membersihkan palinggih atau tempat-tempat (ngererata atau mabulung yakni pekerjaan merabas atau mencabut rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar palinggih) Istilah Bali.
Sugihan Bali lebih mengarah pada pensucian (pembersihan) mikrokosmos atau diri sendiri. Penyucian dapat dilakukan dengan cara:
  • Sekala: Pembersihan badan fisik dari debu kotoran dunia maya, agar layak dihuni oleh Sang Jiwa Suci sebagai Brahma Pura. Pembersihan ini dapat dilakukan dengan memohon tirta pembersihan /penglukatan.
  • Niskala: Pembersihan badan rohani (Suksma Sarira dan Antahkarana Sarira) dengan cara melakukan yoga semadi yang ditujukan untuk mulat sarira, sebab pada saat ini umat seharusnya memiliki kesucian batin dengan menahan diri dari segala macam godaan indria. Hal inilah yang menjadi penekanan dalam kaitannya pelaksanaan ritual Sugihan Bali.

Beda Pandangan Masyarakat Tentang Sugihan Jawa dan Sugihan Bali

Mengenai Sugihan masih terdapat hal yang rancu dalam masyarakat, tidak sedikit yang berpendapat jika merayakan hari raya sugihan jawa artinya merupakan keturunan dari Majapahit (Jawa) dan Sugihan Bali artinya keturunan bali asli. Jika dicoba menelisik pada sebuah lontar yaitu Lontar Sundarigama. Dalam Lontar Sundarigama dijelaskan bahwa filosofi dari sugihan erat kaitannya dengan Pembersihan. Yang mana dapat jelaskan makna dari Sugihan Jawa adalah penyucian makrokosmos atau buana agung atau alam semesta sebagai tempat kehidupan. Sedangkan Sugihan Bali adalah penyucian buana alit atau diri sendiri (mikrokosmos) sehingga bersih dari perbuatan-perbuatan yang ternoda atau pembersihan lahir dan batin.

Wakil Ketua I Parisada Bali, Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si. yang juga merupakan dosen STAHN Denpasar, seperti di lansir dari Blog Dewa Setiawan mengatakan kedua sugihan ini merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan karena merupakan rangkaian dari perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan yang berfungsi untuk menyiapkan umat Hindu menghadapi berbagai gempuran dan godaan duniawai yang datang menjelang perayaan kemenangan Dharma melawan Adharma.

Namun dalam dalam kehidupan masyarakat sering dibedakan hanya semata-mata karena adanya tradisi yang sudah berlaku secara turun-temurun. Selain itu, juga disesuaikan dengan desa kala patra.

“Adanya perbedaan ini juga dikaitkan dengan kedatangan Dhanghyang Astapaka dan Dhanghyang Nirarta ke Bali,” jelas dia.

Ia mengatakan, adanya pembagian umat Hindu dalam melaksanakan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali terkait dengan faktor historis.

“'Mereka yang dari keturunan Majapahit melaksanakan Sugihan Jawa dan yang asli Bali melaksanakan Sugihan Bali,” kata Sudiana.
 
Namun, kalau dikembalikan kepada makna dan filosofi sugihan itu, kata Sudiana, hendaknya umat Hindu di Bali melaksanakan kedua sugihan tersebut. Hanya, perbedaan pada kesemarakkan pelaksanaan dari salah satu sugihan yang sudah dilakukan secara turun-temurun memang sangat sulit dihilangkan. Artinya, kebiasaan umat Hindu untuk melaksanakan Sugihan Jawa dengan mengaturkan upacara pengerebuan misalnya, tetap dijalankan sebagaimana mestinya.

Adanya perbedaan pelaksanaan masing-masing sugihan oleh dua kelompok berbeda, menurut Sudiana, adalah bentuk penghargaan terhadap perbedaan yang ada. Sementara Sudiana memandang hal ini sebagai bentuk betapa luwes dan fleksibelnya agama Hindu itu sendiri. Yang paling penting tentunya pemahaman yang mendasar di kalangan umat tentang makna sesungguhnya dari sugihan itu sendiri.


Kesimpulan
  1. Sugihan Jawa dan Sugihan Bali adalah upacara penyucian macrokosmos dan Microkosmos.
  2. Sugihan Jawa dan Sugihan Bali adalah rangkaian hari raya Galungan dan Kuningan jang jatuh pada Saniscara Kliwon wuku Wariga dan Jumat Kliwon Wuku Sungsang.
  3. Sugihan Jawa dan Sugihan Bali sebaiknya keduanya dilaksanakan sebab dikisahkan bahwa dalam menyambut hari Raya Galungan  Dewa Siwa menugaskan para Bhuta untuk menggoda para manusia. Sehingga dengan melakukan pembersihan Bhuana Agung pada Sugihan Jawa dan pembersihan Bhuana Alit pada Sugihan Bali akan mampu lebih menjauhkan kita dari godaan para Bhuta yang akan dapat merugikan diri kita.
  4. Sugihan Jawa dan Sugihan Bali dapat dilaksanakan sesuai dengan desa Kala Patra (keyakinan kita sendiri). Intinya kembali Kediri sendiri mana yang terbaik.

Subscribe to receive free email updates: