Pengertian Catur Bratha Penyepian dan Bagian-Bagianya.

HINDUALUKTA -- Catur Bratha Penyepian artinya empat larangan atau pantangan yang wajib dilakukan Umat Hindu saat melaksanakan hari Raya Nyepi. Ada pun empat larangan tersebut yakni sebagai berikut;

Foto Alexmetallovers


1. Amati Geni atau tidak menyalakan Api

Amati Geni atau tidak menyalakan Api adalah salah satu kewajiban yang harus dilakukan oleh umat Hindu saat brata penyepian. Api yang dimaksud disini, bukan hanya api yang kita lihat secara nyata, tetapi juga mengarah pada sifat atau ego manusia. Seperti misalnya tidak diperkenankan marah, atau cemburuh yang dapat mengakibatkan keributan atau melukai orang lain. 

Meski pun demikian, ada perkecualian bagi orang yang sakit atau melaksanakan upacar yang berkaitan dengan hari raya nyepi diperbolehkan menyalakan apai demi kepentingan upacara.

2. Amati Lelanguan atau tidak melaksanakan kegiatan

Maksutnya disini orang yang melaksanakan nyepi hendaknya tidak melakukan kegiatan, baik berupa makan, minum,nonton tv, megang Hp dan lain sebagainya. Sebab Brata Penyepian dimaksukan sebagai sarana untuk melakukan Tapa Brata artinya tidak melakukan segala hal. Hendaknya pada waktu penyepian orang berpuasa dan melakukan samadhi (duduk bersila dalam bentuk meditasi).

3. Amati Lelungan atau tidak bepergian

Amati Lelungan atau tidak bepergian. Orang yang melaksanakan penyedian tidak boleh bepergian, baik itu keluar rumah ataupun sejenisnya. Hal ini, dilakukan agar fikiran manusia tidak liar, dan bisa mengendalikan hal-hal yang negatif.

4. Amati Karya atau tidak bekerja

Amati Karya atau tidak bekerja. Tidak melakukan aktifitas pekerjaan dan evaluasi diri dalam kaitan dengan karya (kerja menurut swadharma kita masing-masing) merenung hasil kerja dalam setahun.

Renungan

Kalau kita amati dan resapi pelan-pelan,muncul pertanyaan: APAKAH YANG MENJADI KEWAJIBAN POKOK SEBAGAI PEMELUK AGAMA (HINDU)??? Jawabannya menurut saya adalah; siapapun memeluk agama apapun, mereka mempunyai kewajiban pokok UNTUK MENTAATI DAN MELAKONI AJARAN AGAMANYA DENGAN BENAR. Maka dari itu kita yang memeluk agama Hindu, apa lagi dari kelahirannya Hindu memiliki kewajiban dan tanggung jawab atas pelaksanaan ajaran agama kita. Maaf kalau mereka hanya beragama di KTP saja, ya pantaslah tidak memiliki kewajiban dan tanggung jawab. Oleh karena Nyepi itu adalah salah satu ajaran agama Hindu, maka kita harus mentaatinya dengan cara melakoni persyaratannya dengan benar (Catur Bratha penyepian). 

Disini saya tidak lagi menguraikan unsur yang disebut catur bratha panyepian, sebab sudah terlalu sering dikatakan, dan saya anggap semua umat Hindu sudah tau kecuali bayi, dan umat yang tidak sadar. Menurut saya apa sih susahnya untuk diam dan tidak beraktifitas selama 24 jam dalam setahun? Biasanya banyak orang mengeluh dalam kesehariannya karena mereka kurang istirahat, dan ada juga yang sampai sakit karena kurang istirahat. Kalau tidak dari kita yang mau mengistirahatkan diri kita siapa lagi yang disuruh? Namun istirahat di sini artinya tidak sama dengan istirahat dalam kelelahan. Istirahat yang mengandung arti mengenang dan memuja kebesaran Tuhan. Melihat dan mengevaluasi diri sendiri untuk meningkatkan subhakarma di tahun baru nanti.

"DENGAN MEMBACA DAN MENDENGARKAN KISAH AJARAN YANG TERKANDUNG DI DALAMANYA, MAKA ORANG YANG BAIK BERUBAH MENJADI ALIM DAN SUCI. DENGAN APAPUN ORANG ITU AKAN SEGERA MENCAPAI KESADARAN SIWA." (Siwa Purana. 13. 12).

Artinya:

Disaat Nyepi semua aktifitas kita harus dicurahkan kepada kebesaran Siwa (Tuhan), baik dengan membaca, mendengarkan atau dengan memujanya melalui lagu-lagu yang mengarah kepada kemaha kuasaan dan kesucianNya, maka secara pelan-pelan setiap tahun (setiap saat) kita lakukan kita akan sampai kepada kesadaran Siwa. Hentikan mengumbar hawa nafsu, hentikan aktifitas, hentikan menghibur diri, hanya 24 jam dalam setahun. Untuk kita memberikan tubuh kita jiwa kita kesempatan menghayati asalnya yang mana asalnya itu juga yang menjadi tujuannya hidup. Semuanya itu harus dimulai dari diri kita sendiri, sebab kita semua lahir sendiri dan pulangpun sendiri nanti, disini kita harus mencari bekal yang bermanfaat untuk kita bawa pulang nanti.

Seperti apa yang saya uraikan diatas, siapa yang semestinya melakoni semua itu? Jawabannya pastilah kita. Sebab kalau diruntut kebelakang dengan beberapa pertanyaan; Siapa yang menyuruh kita meyakini Tuhan melalui ajaran Weda? Untuk apa kita meyakininya kalau kita tidak mau melakoninya? Menurut pendapat saya, dari mulai kita sadar sebagai penganut ajaran agama Hindu, maka kita sudah merasa mempunyai kewajiban dan tanggung jawab kepada diri sendiri untuk melakoninya. Dengan sendirinya sesuai dengan kemampuan serta ruang dan waktu. Inilah yang perlu kita pahami.

Sesuai dengan makna dari hukum karma phala, maka barang siapa yang berbuat apa saja, mereka sendirilah yang akan mendapatkan karmanya. Pahala dari karma seseorang tidak bisa diwariskan, tidak bisa dijual, digadaikan apa lagi dicuri. Maka dari itulah untuk memantapkan pelaksanaan catur beratha penyepian itu, kita pahami dari sudut; Dari kita, oleh kita dan untuk kita. Terutama saya mengajak generasi muda untuk bisa menjadi pelopor, sebab tumpuan harapan saya untuk masa depan adalah para generasi muda. Karena saya sendiri sadar bahwa saya sudah tua, tak ubahnya seperti matahari yang menunjukan pukul 4 sore, dia akan menunggu terbenamnya saja. andalah nantinya yang memegang tanggung jawab di kemudian hari. 

Subscribe to receive free email updates: