Pandangan Keliru Dogma Dosa

HINDUALUKTA -- Dalam agama hindu, tidak ditemukan adanya sebuah dogma dosa, layaknya agama-agama rumpun Yahudi, yang menyatakan dosa itu diturunkan. Tuhan menjadi figur dengan keadilan yang buruk, jika demikian. Ini adalah artikel yang dimuat dalam Majalah Hindu Raditya, pelurusan kembali masalah isu dogma dosa yang menakut-nakuti umat Hindu, entah dengan tujuan apa.

Saya memandang bahwa dogma dosa adalah permainan ego. Mewarisi sebuah dosa yang amat berat dan tidak ada yang dapat dilakukan selain menerima dengan sangat ikhlas, tampaknya bukan sebuah hal yang direkomendasikan oleh Veda ataupun susastra Veda. Hindu tidaklah seperti agama semitik, yang meyakini bahwa manusia memiliki dosa turunan secara geneologi. Tetapi setiap manusia yang berkarma, dialah yang pada hasil akhirnya harus menerima buah dari karmanya sendiri.

Closer to the creator (Foto Vandeloks)

Perbedaan dosa geneologi dengan dosa karma adalah dosa geonologi meyakini bahwa seseorang yang yang melakukan tindakan yang dinyatakan salah, menyimpang atau keliru dalam tatanan agama, maka dosa dari tindakan itu akan diwariskan juga kepada anak cucunya kelak yang tidak tahu menau tentang dosa itu.

Jadi mau tidak mau, entah anak atau cucunya manusia saleh sekalipun, atau setingkat dengan maharsi sekalipun, ia harus menerima dosa pendahulunya dengan buta. Tetapi dosa karma adalah individu yang berbuat kesalahan, maka ia sendiri yang menerimahnya. Masalahnya sekarang adalah karena buah karma itu pasti tetapi misteri, maka hasilnya belum tentu diterimah sekarang.

Dapat saja diterima dalam kehidupan yang akan datang tetapi hanya individu pembuat dosa yang menanggungnya. Tidak ada sangkut pautnya dengan anak cucunya kelak. Seperti seorang Brahmin tua yang adal di Avanti yang tenggelam dalam tindakan pelacuran, maka dalam kelahiran selanjutnya ia terlahir sebagai orang candala.

Satu hal yang unik kita terimah sebagai Umat Hindu, adalah dosa karma dapat diperingan dengan tindakan saleh anak cucunya. Tidak seperti dosa geneologi yang diturunkan tampa memandang sang anak atau cucu salah atau terpelajar. Pokonya tidak bisa diganggu gugat, sang cucu harus menerima dosa kakenya dulu, yang pada hal cucunya sendiri tidak ada disana atau tidak tahu tentang prilaku sang kakek.

Dalam Brhad Aranyaka Upanisad, seorang putra yang salaeh, atau keturunan yang terpuji dalam moralitas, dapat menyelamatkan leluhurnya dari keterpurukan akibat dosa yang pernah leluhurnya lakukan. Itulah "Put" yang secara hafiah berarti menyebrangkan leluhurnya dari neraka. Jadi anak cucu merupakan jalan keluar untuk sebuah kesalahan yang berat yang pernah dilakukan oleh pendahulunya. Konsep ini membawa sebuah paradigma berfikir tentang bagaimana caranya bangkit dan berusaha menuju hidup yang lebih baik dari sebelumnya.

Untuk itulah, harapan untuk mendapatkan keturunan yang saleh diupayakan dalam agama hindu. Dengan demikian, umat hindu tidaklah umat yang putus asa, karena sudah menerima dosa mendiang leluhurnya dulu tanpa tahu seluk beluk masalah. Jika dosa geneologi ini dipertahankan dalan dalam banyak hal, maka saya sendiri menjadi tidak yakin dengan kalimat pujian untuk Tuhan Yang Maha Adil.

Bagaimana mungkin dosa seperti itu (geneologi) dapat dinyatakan sebagai tindakan yang adil? Bahkan Tuhan sendiri mengukuhkan dosa itu sampai tujuh turunan tanpa mempertimbangkan apakah anak cucu orang itu tumbuh sebagai manusia yang saleh, atau bukan.

Demikian juga, bagaimana mungkin Tuhan Yang Maha Adil, tidak memberikan umatnya untuk memperbaiki kesalahan dengan generasi selanjutnya. Jika geneologi dosa itu dikukuhkan oleh Tuhan, Maka Tuhan adalah penegak keadilan yang buruk. Sayang sekali, dalam upanisa atau mantra samhita, Tuhan yang mengukuhkan dosa geneologi semacam ini tidak kita temukan.

Tuhan dalam upanisad sangat adil, bahkan dalam Purana, Tuhan memberikan banyak kesempatan dan memberikan pertimbangan matang untuk sebuah jalan memperbaiki kesalahan menuju hidup yang lebih baik. Jadi Hindu bukan agama seperti agama semitik yang meyakini surga abadi atau neraka abadi.

Maharaja Sagara dulu pernah memiliki putra bernama Asamanjasa dari Dewi Sumati meiliki putra 60.000 orang banyaknya. Mereka melakukan dosa besar karena menghina dan menjarah pertapaan Maharesi Kapila. Mereka harus menerima dosa karena tindakan itu, tetapi dosa itu tidak menurun kepada putra mereka. Buktinya, Amsumana tidak menerima konsekwensi dari tindakan leluhurnya itu. Namun karena ia merasa sangat peduli kepada leluhurnya, maka ia melakukan upacara penebusan dosa untuk leluhurnya dengan berdoa kepada Ibu Gangga.

Dalam agama Hindu tidak ditemukan dosa yang menurun kepada anak cucunya. Jadi siapapun yang melakukan atau berbuat, maka ia sendiri akan menerima. Namun Tuhan dalam agama Hindu adalah Tuhan maha bijaksana, beliau memberikan kesempatan untuk memperbaiki hidup dengan keturunan yang saleh. Bahkan dalam puranan, kita banyak menemukan uraian mengenai masa lalu seseorang yang kelam, namun karena untuk niat memperbaiki dirinya sangat besar, maka ia menjadi manusia terpelajar dan suci.

Jadi setipa orang punya masa lalu dan setiap orang punya masa depan. Jika Tuhan tidak mempertimbangkan masa depan umatnya, maka Tuhan sangat tidak adil. Dalam sebuah dharma wacana, saya pernah dengar seorang pendharma wacana menyatakan bahwa seorang jero mangku yang salah memegang bajra, hanya gara-gara jari telunjuknya menyentuh bagian paling atas bajra, akan dijatuhi hukuman sampai tujuh keturunanya.

Hal inilah yang membuat saya mengangkat tulisan yang bertema Pandangan Keliru Dogma Dosa. Sebab saya memiliki pandangan bagaimana mungkin anak cucu kita yang tidak mengetahui kesalahan kakenya hingga bisa kena dosa tujuh turunan. Saya tidak mengetahui motif dari pendharma wacana. Tetapi jika saya interpretasikan, maka itu terjadi karena masih saja otak sang pendharma wacana memandang bahwa pinandita di Bali masih belum memahami Tattwa. Saya rasa itu keliru.

Setelah saya cari tahu, maka hampir seluruh jero mangku di setiap Pura memegang bajra dengan cara demikian. Maka saya berfikir, jika kalimat sang Pendharma Wacana yang bijak itu benar, maka seluruh jero mangku yang salah lihat akan masuk neraka sampai tujuh keturunanya sekalian. Apakah Ida Bhatara di Pura tempat jero mangku ngayah itu, tidak mempertimbangkan bhakti, ngayah, dan niat sang jero mangku selama ini. Jero mangkunya sudah susah payah, nguras energi dan biaya untuk ngayah dangan rasa bhakti seumur hidupnya dengan kemelaratan.

Kemudian hal-hal semacam ini menyumbang untuk menjadikan wajah agama Hindu di Bali semakin menakutkan, maka berbondong-bondonglah orang beralih menuju kebudayaan selati samudra. Kemudian menyalahkan tata cara agama hindu di Bali. Jadi dengan demikian, maka sebaiknya, sekarang kita hentikan cara berfikir demikian, sebab dogma dosa yang bertujuan membuat wajah agama Hindu  menjadi menakutkan hanyalah sebuah permainan ego semata.

Reff

Rai Djendra, IB. 2013. Hindu Agama Universal. Melihat Filsafat, Etika, Ritual Hingga Sains-           Spritual, Paramita, Surabaya.
Penulis: Saleppang





Subscribe to receive free email updates: