Pengertian Daksina

HINDUALUKTA -- Daksina adalah satu tanding sesajen yang secara umum digunakan umat Hindu khusunya yang berasal dari Bali pada setiap pelaksanaan upacara agama. Daksina digunakan sebagai sarana persembahan pada pelaksanaan Panca Yajna, mulai dari matur piuning (sejenis pemberitahuan), memohon kesediaan sang pendeta/pinandita muput (sebagai pimpinan upacara agama), upacara inti, sampai pada penyimpenan/nyineb (upacara agama selesai dilaksanakan).

Daksina merupakan unsur penting pada pelaksanaan upakara piodalan (peringatan kelahiran/keberadaan) sebuah tempat ibadah umat Hindu. Dalam Hal ini Daksina digunakan sebagai pelinggi yaitu tempat bersthananya Ida Sang Hyang Widhi.

Foto Hindu Alukta


Pada masing-masing rumah tinggal umat Hindu yang belum mempunyai Sanggah atau merajan daksina digunakan sebagai tempat bersthananya Ida Sang Hyang Widhi juga leluhur yang dipuja setiap saat sebagai penuntun.

Secara umum perbedaan daksina linggi dengan daksina persembahan terletak pada cara menggerus batok kelapanya. Untuk Daksina linggi, serabut kelapa yang terletak pada bagian ujungnya (Nyamuknya) disisakan sedikit.

Keberadaan serabut dalam hal ini sbeagai lambang keinginan manusia yang melekat, saling timpa dan membungkus sang jiwa yang pada hakikatnya sangat suci dan berguna. Serabut yang terletak di ujung kelapa umumnya lurus, tidak membelit.

Adapun tujuan menyisakan sedikit dari serabut adalah sebagai symbol bahwa "Manusia atau keturunan dari masing-masing keluarga yang membuat daksina linggih sangat berharap agar para leluhur mereka, juga Ida Sang Hyang Widhi berkenan memberikan tuntunan.

Selain telur yang digunakan pada pembuatan daksina juga menunjuk pada perbedaan penggunanya. Secara umum, daksina yang digunakan sebagai daksina linggih juga untuk persembahkan menggunakan telor bebek.

Pengguaan telur bebek pada daksina dikaitkan dengan sifat-sifat sattwam yang dimiliki oleh itik. Tetapi pada even-even tertentu, misalnya pada segehan agung, gelar sanga, dan yang lainnya menggunakan telor ayam. Penggunaan Telor ayam dikaitkan dengan sifat ayam yang tamasika.

Reff:

Oka Puspa, DRA. Anak Agung. 2014, Banten Pejati. Bahan Ajaran Praktek Acara Agama Hindu STAH DNJ, Penelitian, Jakarta


Subscribe to receive free email updates: